Meludah

0
339

Oleh: Sria van Munster-Ginting (Amsterdam)

 

Terinspirasi oleh tulisan Bastanta Permana Meliala bahwa Orang Rimbo (di Jambi ) tidak  suka jika kita menutup hidung ataupun meludah di depan mata mereka. Mereka bisa marah dan akibatnya kurang positif.

Meludah berarti mengeluarkan air liur dari mulut. Mulut memproduksi air liur yang lebih jika kita menghirup udara atau melihat makanan yang tampak lezat. Air liur keluar karena harum makanan yang lezat kita telan, tetapi lucunya kita cendrung mengeluarkan atau meludahkan liur karena sesuatu yang kurang sedap.

Secara umum di Indonesia meludah dianggap normal. Bahkan digunakan sebagai salah satu cara mengungkapkan kekurangsenangan terhadap seseorang. Meludah sedemikan rupa di depan orang sebagai pernyataan bahwa kita benar-benar merasa negatif. Lucunya seseorang tersebut juga akan merasa sebagaimana yang kita harapkan, marah dan merasa terhina.

Walau sesungguhnya meludah itu kurang sehat, dengan gampang banyak orang meludah secara sembarangan . Jika seseorang yang sedang menderita flu dan batuk-batuk serta meludah sembarangan dan kemudian ludah tersebut kering dan berdebu, maka penyakit akan mudah berjangkit kepada orang yang di sekitarnya.

Jika meludah adalah ungkapan perasaan kurang positif terhadap seseorang, maka di Belanda adalah sebaliknya. Seseorang yang meludah sembarangan adalah gambaran orang benar-benar kurang positif, kurang pendidikan, dan tidak punya tata krama. Salah satu sifat orang Belanda bahwa mereka akan merasa dirinya amat rendah jika orang lain beranggapan bahwa dia bukan seseorang yang positif karena tingkah lakunya sendiri. Mereka tidak mau itu terjadi pada dirinya. Karenanya di Belanda hampir tidak pernah atau jarang sekali kita menemukan seseorang meludah secara sembarangan.

Jelas dan pasti banyak orang yang kurang berpendidikan tetapi tetap saja mereka mejaga agar tidak meludah sembarangan.


Leave a Reply