Kolom M.U. Ginting: PEMUDA

0
140
pemuda 2
Para peserta pelatihan Character Building sedang berlatih membangun percakapan/ komunikasi

M.U. Ginting”Self Awereness, bagaimana kembangkan diri, bagaimana mengembangkan karakter di tengah suasana masa kini, belajar aktif, dan efektif hingga pada cara mengenali dan mengelola konflik.”

Kalimat di atas saya kutip dari artikel ”Character Building Pemuda Karo Medan Lanjut Hari Ini” oleh Alexander Firdaust di sorasirulo.com. Saya tebalkan yang saya anggp perlu ditekankan seperti kata ”belajar aktif”. Belajar jadi orang aktif pastilah sudah jadi kunci penting bagi Karo untuk mengedepankan dirinya. Kurang aktif ini adalah sifat umum bagi orang Karo yang sudah tertanam dalam dan lama. Penyakit kurang aktif sangat terlihat di kalangan orang Karo termasuk pemuda, juga senior-seniornya. Aktif di sini terutama dalam kekaroan dan survival Karo, menjaga kelangsungan budaya dan daerahnya.

Ada kesamaan dengan Tibet dalam soal kepasifan ini. Dalai Lama bikin kesimpulan dalam menilai rakyat Tibet yang tidak aktif melempem lebih dari setengah abad dalam menghadapai pencinaan Tibet oleh ’pengasak’ China (pencinaan bisa dibandingkan dengan pembatakan bagi orang Karo). Dalai Lama pada akhir abad lalu dalam kunjungannya ke Swedia bilang:

 “Tibet’s tragedy we are experiencing now, Tibet’s own long periods of indifference and ignorance of events in the outside world. I realize the seriousness of the situation, the fact that the Tibetans’ survival as a people with unique cultural heritage is threatened, I can feel the value of the minimum contribution I can make to the Tibetan people’s survival.”


[one_fourth]INTERNET merupakan penyelamat bagi Karo[/one_fourth]

Ketidakaktifan ini pada era Orba bisa dikatakan sudah mencapai tingkat kritis. Pembatakan sudah total atau hampir total. Akan tetapi keruntuhan Orba dan datangnya era INTERNET merupakan penyelamat bagi Karo. Kita melihat dan merasakan perubahan dan perkembangan pembatakan ini di kalangan orang Karo sendiri maupun di kalangan orang Batak sejak runtuhnya Orba sampai ke tingkat sekarang, terutama setelah adanya penemuan-penemuan ilmiah arkeologi dan sejarah dari banyak akademisi nasional maupun internasional. Tingkat pembatakan sekarang ialah: sudah tak banyak lagi yang terus terang bilang Karo adalah Batak.

Keaktifan Karo terutama pemuda-pemudanya terlihat juga ada perubahan. Tetapi masih belum maksimal seperti yang diharapkan dalam character building itu. Kepasifan (indifference and ignorance) masih cukup tinggi. Ini sudah dilihat oleh generasi muda character building.

Beberapa hari lalu, saya dapat keluhan seorang pemuda Karo baru datang dari kampung halamannya sendiri. Dia bilang: Susah kerjasama dan tukar pikiran dengan orang Karo.

“Begitu mereka tak setuju pendapat kita, lantas kita terus diboikot dan tak disukai,” katanya.

Jadi muncul kebuntuan dalam berkomunikasi. Kebuntuan ini dibiarkan saja entah sampai kapan, tak ada yang peduli. Jelas dari situasi begini tak mungkin ada perubahan, apa lagi perkembangan. Ini persoalan komunikasi serta ”mengenal dan mengelola konflik”.

Sekarang, kita sudah sampai ke era KETERBUKAAN. Keterbukaan dalam dialog, diskusi dan debat soal apa saja yang menyangkut kebutuhan dan kepentingan manusia, kebutuhan instan dan kebutuhan jangka panjang. Perubahan dan perkembangan umat manusia di abad ini. Belum semua kita bisa merasakan abad ini atau adanya abad ini di depan kita. Bahwa abad lalu adalah abad loudmouth braggarts, abad extroversi, abad mulut besar, sudah semakin banyak yang merasakan. Tetapi, soal KETERBUKAAN dan bahwa keterbukaan adalah alat penyelamat manusia, siapa yang bisa merasakan kalau tidak dijelaskan dan dipraktekkan terus menerus?

Pemuda Karo bisa jadi pelopor dalam menggunakan keterbukaan sebagai ALAT sangat ampuh dalam perjuangan survival Karo dan Nation Indonesia. Keterbukaan ini juga sangat penting dalam mengenal dan mengelola konflik tadi.


Leave a Reply