KARO YANG MENGINDONESIA

1
192

Oleh: Plato Ginting (Yogyakarta)

 

Beberapa tahun aku mengamati suasana musik di Jogja. Meski hanya mengamati dari kejauhan dan sesekali terlibat dalam beberapa perhelatan musik dan seni di Jogja, pada akhirnya aku dapat menarik sebuah kesimpulan. Minimal untuk diriku sendiri. Khususnya dalam hal kehidupan dunia musik dewasa ini.

plato 8
Sebuah penampilan Sanggar Seni Sirulo

 

Di Jogja, banyak stasiun radio. Taneh Karo tidak kalah dalam hal ini karena di Taneh Karo juga banyak stasiun radio yang cukup eksis dengan para pendengarnya yang setia. Namun, ada satu fenomena yang bagiku menarik dan masih menyisakan tanya pada diriku sendiri hingga saat ini. Aku mencoba mempelajari secara sederhana fenomena yang aku amati beberapa tahun ini dalam dunia musik Yogyakarta secara umum.

Kesimpulanku, Jogja itu mengindonesia. Penjelasan sederhananya begini, para seniman khususnya musik yang eksis di Jogja, secara otomatis dan pada umumnya juga bisa eksis secara nasional. Sebut saja Shaggydog misalnya. Mereka adalah band asal Jogja yang awalnya eksis di Jogja, namun seiring dengan itu mereka juga diperhitungkan secara nasional.


[one_fourth]kita bisa menjual 50.000 keping CD[/one_fourth]

Ketika bertemu dengan salah satu penyanyi karo Usman Ginting di Salatiga, aku berbincang-bincang dengan beliau terkait penjualan albumnya di Taneh Karo. Aku terkejut ketika bang Usman mengatakan, ketika pembajakan belum merajalela dan belum ada youtube seperti sekarang, kita bisa menjual 50.000 keping CD, katanya. Angka ini terbilang fantastis, karena Shaggydog sendiri hanya menjual sebanyak 20.000 keping album perdananya. Itu terbilang besar untuk band Indie di Jogja.

Nah, yang menjadi inti dari tulisanku ini adalah. Mengapa para musisi Jogja bisa mengindonesia sedangkan musisi Karo tidak?

Mungkin ada orang yang akan mengatakan kalau lirik-lirik shaggydog itu memang mengindonesia, karena bahasa Indonesia. Menurutku, ini juga bukan alasan, karena Jogja Hip Hop Foundation yang lagunya berbahasa Jawa juga bisa eksis secara nasional setelah bisa eksis di Jogja. Atau contoh yang lebih gamblang adalah Viky Sianipar. Mengapa mereka bisa mengindonesia bahkan mendunia?


[one_fourth]Dalam istilahku, sipekitik banta[/one_fourth]

Menurutku pribadi, hal ini disebabkan oleh senimannya sendiri. Semangat apa yang mendasari seorang seniman ketika berkarya? Ketika semangat itu didasari oleh semangat menasional, maka kemungkinan karya itu juga bisa menasional. Sedangkan yang terjadi di Karo malah sebaliknya. Senimannya sendiri sudah memperkecil karya yang dihasilkannya. Dalam istilahku, sipekitik banta.

Ketika kita memberi label karya-karya kita sebagai karya yang ditujukan untuk orang-orang Karo saja, maka karya itu diterima oleh kalangan Karo saja. Bahayanya, niat untuk membuatnya lebih berkualitas pun menurun. Karena toh, pasarannya cuma orang-orang itu itu aja. Jadi, buat apa susah-susah mengemasnya secara rumit dan mahal.

Barangkali inilah yang menyebabkan musik kita menjadi seperti sekarang ini. Satu keping album dijual seharga Rp. 10.000 dengan kemasan yang apa adanya. Lebih murah dari sebungkus rokok.

Bisakah musik Karo menasional bahkan mendunia? Bisa, kalau kita membangun semangat itu. Bhkan bukan cuma musik, pagelaran-pagelaran budaya, tempat wisata dan lain sebagainya.



1 COMMENT

  1. Selalu ada yang baru kalau saya baca tulisan Plato Ginting. Disini bagaimana mengindonesiakan Karo dari segi mengubah dasar pikiran titik tolak kita.
    ‘Sipekitik banta’ atau sipebelin banta. Sipekitik banta enda enggo me teridah sedekah enda. Tapi sipebelin banta enda lenga, gia enggo teridah bas kalak sideban, contohna bagi situlisken PG, emkap Shaggy atau Sianipar.

    Uga bas kita mulai dasar enda ndai, ‘pebelin banta’ jenda ka me kari perlu ifokusken perukurenta, terutama kam kerina anak-anak muda Karo enda.
    Sipekitik banta kontra sipebelin banta, enda sada kontradiksi si gundari berdominasi ‘sipekitik banta’. Mulai yah uga pebelin banta enda.

    Kreasi Karo enda kapken nai nari pe enggo teridah, misalna dialektika Karo, pemikiren enggo meganjang. Karo pertama merumuskan dialektika, labo Heraklitos bagi sikataken kalak barat. Dialektika pikiran ‘seh sura-sura tangkel sinanggel’ atau tes-antites-syntes nina Hegel ribuan tahun enca Karo ngataken.
    Dialektika alam, ‘aras jadi namo, namo jadi aras’ atau pantarei Karo. Heraklitos bilang ‘semua mengalir’. Bas soal sosial/politik enggo maju bas KBB. Kreasi Karo meganjang.

    Selamat memulai trobosan enda..

    MUG

Leave a Reply