Rindu Landek Karo

3
473

Oleh: Bastanta Permana Meliala (Medan)

 

bastantaLandek (cakap Karo) berarti ‘tari’ dalam bahasa Indonesia (Melayu). ‘Landek Karo’ berarti tarian Karo.

 

landek 1

Sejujurnya, saya tidak begitu paham tentang ‘landek Karo’, apalagi saya lahir (di Medan) dan tumbuh besar (di Patumbak), di wilayah Karo Jahé. Di Patumbak kami tidak mengenal dan memang tidak diajarkan ‘landek’ dengan pakem-pakem (aturan) tertentu sebagaimana mestinya. Namun, bukan berarti kami tidak bisa landek Karo, walau lebih mengarah ke landek/tari kreasi.

Saya ingat betul saat masih duduk di Sekolah Dasar (SD) di Patumbak, setiap kali ada perayaan, baik yang diadakan oleh pemerintah, gereja, oraganisasi masyarakat, sekolah, maupun muda-mudi, selalu ada ditampilkan landek Karo. Beberapa tari kreasi Karo yang cukup populer saat itu, diantaranya Terang Bulan, Roti Manis, dan Piso Surit.

Satu lainnya yang tidak kalah populer belakangan ini adalah tari kreasi Karo Mbiring Manggis. Tarian ini populer bersamaan dengan lagunya yang saat itu juga dipakai sebagai musik pengiring senam pagi di beberapa sekolah dan kantor. Di kemudian hari, lagu ini ini digeser oleh Poco-poco.


[one_fourth]Semangat kami semakin memuncak[/one_fourth]

Saat menjelang hari besar seperti Hari Kemerdekaan dan Natal di beberapa kelas di sekolah dapat kita dengar lagu-lagu Karo. Ya, siswa-siswi sedang latihan landek Karo, bisa sampai berbulan-bulan. Saya juga beberapa kali ikut landek membawakan tarian kreasi Terang Bulan, Roti Manis, dan Piso Surit. Semangat kami semakin memuncak saat mendapat saweran dari penonton.

Belakangan sudah jarang kita melihat landek Karo ditampilkan di acara-acara formal maupun non formal sehingga anak-anak Karo kurang mengenal Landek Karo. Mereka bahkan lebih mengenal tortor, goyang itik, dlsb. Anehnya lagi, mereka menyebut Landek Karo dengan sebutan tortor Karo dan menyebut uis/ osé Karo (uis gara) yang sering dipakai saat melakukan landek Karo dengan sebutan ulos Karo.

Sebenarnya mereka (anak-anak sekarang) tidak bisa sepenuhnya kita salahkan. Kitalah yang mungkin kurang menginformasikan kepada anak-anak ataupun adik-adik kita tentang bagaimana kekaroan itu yang sebenarnya. Saya ingat dahulu, setiap ada acara, guru-guru, muda-mudi, ataupun orangtua yang orang Karo langsung berperan dan menawarkan dirinya untuk melatih anak-anak mengisi acara. Sudah pasti salah satu penampilan yang akan ditunjukkan adalah landek Karo.

Sekarang? Jadi, saya pinjam pertanyaanya M. U. Ginting, katanya, “Ija kita kurangna é?” Ras-ras kita ngukurisa. Mejuah-juah.



3 COMMENTS

  1. Bagus tulisan BPM ini jadi pelajaran kita.

    Kalau landek Karo sudah jadi tortor Karo dan uis gara jadi ulos Karo, itu tandanya pembatakan sudah sangat mendalam, terutama kalau anak-anak Karo pun sudah merasa itulah yang betul atau merasakan itu lah yang paling aman dan nyaman. Mungkin pengaruh pembatakan ini sama dalamnya dengan tertanamnya istilah Batak dalam gereja Karo GBKP.

    Dulu kelihatannya tak ada yang mempersoalkan masalah ’pembatakan’ ini, baik dikalangan anak-anak muda itu maupun digereja orang Karo itu, dan hampir semua merasa aman dan nyaman, dan semakin lama semakin aman dan semakin nyaman. Terlihat seakan-akan sudah berpadu dengan perjalanan hidup sehari-hari mengikuti pengaruh kultur Batak serta way of thinkingnya yang juga tambah meningkat terutama bagi yang dekat dengan kehidupan gereja yang banyak kaitannya dengan gereja Batak atau orang Batak.

    Walaupun banyak juga yang merasa tak nyaman, tetapi dalam situasi ’indifference and ignorance’ (istilah Dalai Lama terhadap orang Tibet dalam masa setengah abad pencinaan Tibet) sehingga Karo yang menentang pembatakan terlihat minoritas dalam kondisi ’silent majority’ tak ikut vocal mulut besar seperti orang-orang extrovert ketika itu. Dalam situasi demikian sepertinya politik pembatakan bergema dan mantap. Bagi the silent majority ini terasa bagaimana tak nyamannya kalau dibilang ’kau batak’ atau ’tortor Karo’ atau ’ulos Karo’. Sangat tak nyaman dan juga sangat tak menyenangkan dikelilingi vokal seperti itu.

    Setiap orang punya identitas dan afiliasi kultur. Kalau suasana sudah bertentangan dengan identitas kita dan bertentangan dengan afilisasi kultur kita, di enak-enakkan juga tak akan enak. Itulah kultur dan identitas kepribadian tiap orang. Karena itu tak masuk akal juga kalau dikatakan bahwa orang-orang GBKP masih merasa nyaman dan aman dengan istilah Batak Karonya. Karo punya cultural values and norms sendiri dan juga Batak begitu. Dan Cultural values and Norms adalah kebutuhan sosial manusia yang tak bisa ditawar-tawar, tiap orang berafiliasi ke kultur mana, adalah salah satu dari kebutuhan utama manusia, tidak tergantung apakah kita membicarakannya, atau diam saja tak membicarakan.

    Pada era reformasi setelah jatuhnya Orba, dan terutama setelah munculnya penulisan-penulisan baru dan ilmiah tentang sejarah dari ahli-ahli nasional maupun internasional ditambah lagi penemuan-penemuan arkeologis tentang grup-grup Batak dan Karo, diman Karo dan juga Gayo sudah 5000-6000 tahun lebih duluan ada di Sumatra dibandingkan orang Batak yang baru ada 600-700 th lalu, maka politik pembatakan semakin merosot. Yang mempercayai politik pembatakan ini berkurang drastis termasuk dikalangan orang Batak sendiri. Mereka sekarang menamai dirinya Batak Toba dan yang lain tak pakai kata Batak lagi.

    Karena istilah Batak ini sudah tak bisa lagi dipakai sebagai alat ’pemersatu’ berbagai suku, maka kemungkinan besar istilah ini akan hilang sendiri termasuk dikalangan orang Toba sendiri. ’Batak’ mempunyai arti politis yang sangat strategis ketika kolonial dan diteruskan setelah kolonial hilang oleh orang Batak. Tetapi sekarang kelihatan tak ada gunanya lagi. Istilah ’batak’ dimasa depan kemungkinan akan ada hanya dalam catatan sejarah. Arti kata dan arti politis yang banyak negatifnya di era lalu dan arti ’pemersatu’ yang malah bikin perpecahan di era reformasi, sepertinya istilah ’batak’ sudah selesai menjalankan tugas sejarahnya.

    MUG

    • Bujur komentar yang menjadi pencerahan dan menambah informasi.
      Saya sepaham dengan kam mama(MUG). Gejalanya sudah mulai tampak. Dua tahun lalu saya ada tamu mahasiswa INTIM Makasar yg sedang penelitian tentang ‘Gendang Karo’. Dia banyak cerita tentang pergaulan sesama orang Sumatera di Makasar. Info yg saya peroleh, katanya, “di Maksar orang Batak pun lebih senang dipanggil ‘orang Sumatera, Toba, ataupun anak Medan’, karena lebih dapat mewakili satu daerah.”
      Gejala lainnya, kita tahu salah seorang profesor yg tulisannya selama ini banyak dijadikan senjata oleh orang-orang anti KBB,malah dlm satu seminar sang profesor tampak mulai ragu dan tanpa disadari membantah sendiri tradisi yg selama ini dipegangnya. Dan sekarang ada syndrome debat(adu argumen) Karo vs Batak di sosmed yg dimotori orang dari marga-marga Batak. Dari nama-nama group ini tanpa mereka sadari ‘mereka mengakui Karo dan Batak’ dua hal yang berbeda, tetapi tetap perjuangannya sama, yakni: membatakkan Karo dengan cara yg lebih kotor dan konyol. Berusaha mencitrakan mereka terzolimi, difitnah, dan mencitrakan kita anti NKRI, anti kebhinekaan, rasisme, bermuatan kepentingan politik, ingin meruntuhkan KBB, Atheis, dll.
      Mejuah-juah.

      • “komentar yang menjadi pencerahan dan menambah informasi.” (BPM).

        Kalau komentar itu sudah bisa jadi pencerahan berarti komentar sudah berhasil mencapai sebagian tujuannya, tinggal mengusahakan supaya juga jadi harapan, seperti kata alm Sutradara Ginting berusaha selalu bisa memberikan “pencerahan dan harapan” bagi rakyat negeri kita ini.

        Banyak tuduhan-tuduhan tak pantas terhadap gerakan KBB, satu hal yang tak bisa juga dielakkan. Itulah jalan likut-liku KBB, dan terjadi juga makin besar rintangan makin kuat pula KBB.

        Bahwa semakin banyak yang mendiskusikan KBB, anti atau pro juga akan menghasilkan yang positif, dibandingkan dengan kalau tak ada diskusi sama sekali. Semakin menanjak pro-kontra berarti semakin hidup gerakan pencerahan KBB. Kitapun tak akan letih selalu menjawab dan beri pencerahan terus-menerus.

        KBB adalah pencerahan, dan karena dia pencerahan maka ada efeknya mempererat pendekatan berbagai kultur atas dasar ilmu pengetahuan, dasar-dasar yang bisa dibuktikan dan dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

        Anak-anak muda dan kaum muda Karo sudah selalu menunjukkan tendensi ke arah ini seperti PKM dan character buldingnhya.

        Kita bisa menyaksikan tempo hari dalam mengorganisir Nobar Likas inisiatif PKM, dan tak lama setelah itu Djamin Ginting tanpa keraguan langsung diangkat jadi pahlawan nasional. Pengangkatan ini adalah patut dan adil, seperti kata Hatta sendiri 1948 rakyat Karo pahlawan. Djamin Ginting mewakili rakyat Karo.

        Selain Djamin Ginting masih banyak pejuang Karo yang juga patut jadi pahlawan nasional seperti Badiuzzaman Surbakti yang hidup matinya dalam kancah perjuangan melawan penjajah Belanda. Kekeliruan sejarah kolonial ialah pahlawan perang-batak diangkat orang Batak, padahal perang batak (Batak Oorlog) adalah perang orang Karo a l Badiuzzaman Surbakti.

        Seluruh keluarga Surbakti hidupnya dalam perjuangan yang sangat lama ini. Tak ada orang Batak yang berperan dalam Batak Oorlog. Ketika itu orang Belanda tak bisa membedakan orang Batak atau orang Karo atau semua dibatakkan tanda teroris atau penjahat. Istilah Batak dalam bahasa Karo berarti juga perampok dalam kamus Darwin Prins.

        Bujur ras mejuah juah

        MUG

Leave a Reply