Kolom M.U. Ginting: KENYAMANAN JATI DIRI

0
192
landek 2
Kelompok Musik & Tari TARTAR BINTANG seusai tampil di Museum Etnologi Leiden (Belanda)

M.U. GintingKalau landek sudah jadi tortor Karo dan uis gara jadi ulos Karo, itu tandanya pembatakan sudah sangat mendalam, terutama kalau anak-anak Karo pun sudah merasa itulah yang betul atau merasakan itulah yang paling aman dan nyaman. Mungkin pengaruh pembatakan ini sama dalamnya dengan tertanamnya istilah Batak dalam gereja Karo GBKP.

Dulu kelihatannya tak ada yang mempersoalkan masalah ’pembatakan’ ini, baik di kalangan anak-anak muda maupun di gereja orang Karo itu. Hampir semua merasa aman dan nyaman, dan semakin lama semakin aman dan semakin nyaman. Terlihat seakan-akan sudah berpadu dengan perjalanan hidup sehari-hari mengikuti pengaruh kultur Batak serta way of thinkingnya yang juga tambah meningkat terutama bagi yang dekat dengan kehidupan gereja yang banyak kaitannya dengan gereja Batak atau orang Batak.


[one_fourth]politik pembatakan bergema dan mantap[/one_fourth]

Walaupun banyak juga yang merasa tak nyaman, tetapi dalam situasi ’indifference and ignorance’ (istilah Dalai Lama terhadap orang Tibet dalam masa setengah abad pencinaan Tibet) sehingga Karo yang menentang pembatakan terlihat minoritas dalam kondisi ’silent majority’ tak ikut vocal mulut besar seperti orang-orang extrovert ketika itu. Dalam situasi demikian, sepertinya politik pembatakan bergema dan mantap. Bagi the silent majority ini terasa bagaimana tak nyamannya kalau dibilang ’kau batak’ atau ’tortor Karo’ atau ’ulos Karo’. Sangat tak nyaman dan juga sangat tak menyenangkan dikelilingi vokal seperti itu.

landek 3
Kelompok musik dan tari Karo di Belanda seusai menampilkan Beidar Sinabung di sebuah gedung teater. Penampilan disaksikan oleh Dubes RI yang tak berapa lama kemudian diangkat menjadi Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Jokowi

Setiap orang punya identitas dan afiliasi kultur. Kalau suasana sudah bertentangan dengan identitas kita dan bertentangan dengan afilisasi kultur kita, dienak-enakkan juga tak akan enak. Itulah kultur dan identitas kepribadian tiap orang. Karena itu, tak masuk akal juga kalau dikatakan bahwa orang-orang GBKP masih merasa nyaman dan aman dengan istilah Batak Karonya. Karo punya cultural values and norms sendiri dan juga Batak begitu. Cultural values and norms adalah kebutuhan sosial manusia yang tak bisa ditawar-tawar. Tiap orang berafiliasi ke kultur mana, adalah salah satu dari kebutuhan utama manusia, tidak tergantung pada apakah kita membicarakannya atau diam saja tak membicarakannya.


[one_fourth]politik pembatakan berkurang drastis[/one_fourth]

Pada era reformasi setelah jatuhnya Orba, politik pembatakan semakin merosot. Ini terjadi setelah munculnya tulisan-tulisan baru dan ilmiah tentang sejarah dari ahli-ahli nasional maupun internasional. Ditambah pula dengan penemuan-penemuan arkeologis tentang grup-grup Batak dan Karo yang menunjukkan Karo dan Gayo sudah 5000-6000 tahun lebih duluan ada di Sumatra dibanding orang Batak yang baru ada 600-700 tahun lalu. Jumlah orang mempercayai politik pembatakan berkurang drastis termasuk di kalangan orang-orang Batak sendiri. Mereka sekarang menamai dirinya Batak Toba dan yang lain tak pakai kata Batak lagi.

Karena istilah Batak ini sudah tak bisa lagi dipakai sebagai alat ’pemersatu’ berbagai suku, kemungkinan besar istilah ini akan hilang sendiri termasuk di kalangan orang Toba. ’Batak’ mempunyai arti politis yang sangat strategis di masa kolonial dan diteruskan setelah kolonial hilang oleh orang Batak. Tetapi sekarang kelihatan tak ada gunanya lagi. Istilah ’batak’ dimasa depan kemungkinan akan ada hanya dalam catatan sejarah. Arti kata dan arti politis yang banyak negatifnya di era lalu dan arti ’pemersatu’ yang malah bikin perpecahan di era reformasi, sepertinya istilah ’batak’ sudah selesai menjalankan tugas sejarahnya.

Tulisan terkait: Rindu Landek Karo



Leave a Reply