Kolom M.U. Ginting: MACAN VS BANTENG

0
164
macan 1
Tiga musisi Sanggar Seni Sirulo (Mahansa Sembiring, Jimmy Sebayang, John Tarigan) dalam jamun makan malam peserta sebuah seminar internasional mengenai lingkungan hiudp di Medan

M.U. GintingBanyak grup di sekitar  Jokowi dan semua akan berusaha menarik Jokowi ke pihaknya. Ini masuk akal dan juga kenyataan yang sering tanpa bisa dibuktikan. Sejak dulu sampai sekarang di tiap negeri satu nation terutama yang kaya SDAnya pastilah akan jadi rebutan kekuatan modal dunia atau  ’international power’. Di pihak lain adalah kekuatan nasional yang masih kuat ingin mempertahankan ’harta’ nationnya termasuk tentunya kulturnya dan daerahnya yang tercermin dalam TRISAKTI SOEKARNO (kedaulatan, kultur dan ekonomi).

Sekarang, Jokowi akan dimenangkan oleh siapa? Atau, golongan mana yang akan berhasil memonopoli atau mengalihkan sikap politik Jokowi sehingga menguntungkan pihaknya?

Dalam tingkat perkembangan sekarang, perseteruan KPK-Polri akan merupakan pusat pencerminan dua kekuatan besar ini. Sama sekali tidak berarti bahwa yang satu akan memihak KPK atau memihak Polri. Institusi ini hanya jadi jalan menuju tujuan masing-masing kekuatan. Tiap kekuatan bisa berubah ke berpihakan ke KPK atau ke Polri tergantung syarat-syarat extern-nya, mana yang menguntungkan saat tertentu.


[one_fourth]mengurangi keraguan Jokowi bikin pilihan[/one_fourth]

Bagi Indonesia dan rakyatnya yang menyedihkan ialah tak mengerti akan memihak siapa. Memihak polisi ada korupsinya (rekening gendut), memihak KPK juga banyak masalahnya di kalangan pimpinannya. Jokowi dalam situasi begini dipaksa memilih dengan ’tegas’ pula. Orang-orang KMP bilang bahwa apapun yang dipilih Jokowi mereka akan dukung. Ini mengurangi keraguan Jokowi bikin pilihan, walaupun dia sebenarnya sudah ada putusan kalau pilih BG akan jadi perkara jangka panjang.

Kontradiksi dua kekuatan dalam tiap nation ini tidak akan bisa dihentikan, tingkat perkembangan dunia masih begitu. International finans Power ada di setiap nation dunia terutama yang banyak SDAnya tadi. Perubahan perkembangan ini akan selalu sesuai dengan perubahan perkembangan dunia terutama dilihat dari kekuatan finans dunia dan kekuatan gerakan nasional dunia.

Berbagai gerakan kekuatan nasionalis di Eropah yang muncul dan berkembang pesat di Abad 21 dalam bentuk partai-partai ’nasionalis’ di banyak negeri merupakan bagian dari gerakan kultur nasional dunia (cultural revival) yang sebenarnya bisa banyak kaitannya (secara idiologis) dengan kekuatan nasional di negeri berkembang.

macan
Sebagian dari artis Sanggar Seni Sirulo saat menjelang sebuah penampilan di Restauran Dewi, Bandar Baru (Sibolangit)

Tetapi, dalam prakteknya, dua kekuatan ini belum saling mengenal. Pertama, karena perbedaan sejarah perkembangannya yang sangat jauh antara negeri maju dengan negeri berkembang dan, yang lainnya, karena perbedaan kultur dan way of thinking yang masih sangat jauh berbeda. Selain itu, juga perlu disebutkan bahwa gerakan-gerakan nasionalis Eropah bikin sasaran pentingnya ialah migrasi orang-orang yang justru datang dari negeri berkembang itu. Di negeri berkembang sasarannya ialah kekuatan finans internasional yang justru berasal dari negeri maju itu pula.

Bila dua kekuatan nasional yang pada pokoknnya adalah kekuatan memperjuangkan keadilan bagi tiap nation ini bertemu maka antipode atau oposisi kekuatan ini akan lebih lemah,  dan dominasi kekuatan dalam kontradiksi berpindah. Ini akan melahirkan kontradiksi baru dalam tingkat kesamaan atau perjuangan untuk kesamaan antara sesama manusia, bukan lagi perjuangan untuk keadilan seperti sekarang ini. Tak mungkin juga ada kesamaan sebelum ada keadilan.

Sekarang, kontradiksi pokok dunia ialah perjuangan untuk keadilan yang tercetus dalam berbagai bentuk kontradiksi dimana yang utama ialah antara international power kontra nasional power seperti saya jelaskan di atas, dan juga dilukiskan dalam konflik ’Trio Macan’ kontra ’Banteng’ atau ‘MACAN KONTRA BANTENG’.


Leave a Reply