Beda NABI dengan SENIMAN

1
274

Oleh: Plato Ginting (Yogyakarta)

 

nabi dan senimanDalam imajinasiku, seniman dan nabi itu memiliki persamaan, tetapi mereka juga memiliki perbedaan yang mencolok. Ingat, ini hanya imajinasiku. Aku memang terbiasa berimajinasi ke sana ke mari dan kadang ngawur. Hahahaha. Untuk itu, pertama-tama aku ingin minta maaf terlebih dulu jika ada kata-kata yang kurang berkenan.

Persamaan nabi dan seniman bagiku adalah mereka sama-sama melayani. Bedanya, nabi memang sejatinya melayani, namun mereka cenderung menggurui, sedang orang-orang pada umumnya tak suka digurui. Itulah mungkin makanya ada istilah “nabi ditolak di kampungnya sendiri”. Adapun seniman kebalikannya. Mereka benar-benar hadir untuk melayani. Dalam istilah yang lebih sederhana, mereka hadir untuk menghibur orang-orang dengan karya-karya yang dihasilkannya. Itulah sebabnya seniman lebih disukai daripada nabi. Dalam konteks ini, yang aku maksud, disukai di kampungnya sendiri.

Seniman dicintai di kampungnya sendiri. Begitu inti yang ingin aku bahas dalam tulisan ini. Aku ambil contoh berikut. Kalau kam merasa diri orang Karo, kam akan merasakan sesuatu yang istimewa ketika melihat Tanta Ginting mengenakan pakaian khas Karo, misalnya. Tanpa kita sadari, perasaan itu sebenarnya sangat jujur, karena kita merasa memiliki.

[one_fourth]Ketika penyanyi Karo itu membuat merga
atau beru Simalungun[/one_fourth]

Lebih gamblangnya lagi, aku ambil contoh lain, mengapa penyanyi-penyanyi Karo yang bernyanyi dalam album Simalungun harus mengubah merga atau beru mereka? Tidak lain adalah karena alasan yang aku sebutkan di atas. Seniman lebih dicintai di kampungnya sendiri. Ketika penyanyi Karo itu membuat merga atau beru Simalungun, orang-orang Simalungun akan menganggap para penyanyi ini berasal dari kampung mereka sendiri. Dengan begitu, mereka lebih mudah diterima.

Lalu, apa poin pentingnya? Seperti yang aku singgung dalam tulisanku sebelumnya, bahwa masyarakat Karo sebenarnya sangat luar biasa dalam mengapresiasi karya-karya seniman Karo. Terbukti dengan musik Karo masih menjadi tuan rumah di kampung sendiri. Semoga aku tidak salah dalam hal ini. Terbukti dengan tingginya minat beli terhadap karya-karya seniman Karo, khususnya musik.

nabi dan seniman 1
Kisah Beidar Sinabung yang dituturkan oleh Juara R. Ginting di gedung teater Utrecht (Belanda)

Hal inilah yang membuatku sedikit menyayangkan kondisi musik Karo sekarang ini. Mestinya seniman menjaga hubungan emosional yang baik ini, antara masyarakat dan para seniman. Seniman Karo harus merasa lebih bertanggungjawab atas karya yang mereka hasilkan, karena masyarakat sebenarnya sangat mencintai senimannya.

Dengan membuat karya yang hanya berfokus pada materi atau uang maka sebenarnya seniman telah menghianati ‘hubungan istimewa’ antara penikmat seni dan masyarakat.
Sejatinya, seniman memang pelayan, dan masyarakat adalah tuannya. Bukan sebaliknya.

Itulah sebabnya seniman makan dari suka rela masyarakat yang menyisihkan sedikit rejekinya agar seniman bisa hidup layak dan tetap berkarya. Masyarakat juga butuh hiburan. Saling membutuhkan. Inilah hubungan khusus yang aku maksud.

Di Jogja ini kita sering membuat istilah “ngamen”. Baik itu tampil di panggung yang super mewah, kita tetap menyebutnya ngamen karena kita hidup dari keikhlasan para penonton. Semoga aku tidak terlihat terlalu berlebihan dan terlalu ‘romantis’ menulis tulisan ini.

Mejuah-juah!



1 COMMENT

  1. Seperti biasanya tulisan PG di Sorasirulo selalu buka yang baru. Jadi menarik dan jadi pemikiran juga atau memaksa memikirkan yang baru juga. Ya begitulah saya rasakan.

    Dalam tulisan PG yang lalu soal mengindonesiakan Karo, dengan menghilangkan semangat ’sipekitik banta’ sangat tepat menggambarkan pentingnya mengubah semangat atau bikin semangat baru supaya bisa mengindonesiakan Karo. Kalau menciptakan lagu yang sasarannya Indonesia atau dunia, jadi dasar-dasar titik tolaknya sudah lebih luas, lanai ’pekitik banta’. Itulah yang saya artikan dari tulisan PG.

    Kali ini beda nabi dengan seniman, hehehe . . . menarik memang dilihat dari kebiasaan yang biasa dikalangan kita Karo atau juga lebih luas secara nasional ada, sifat ’nabi yang menggurui’, atau “nabi ditolak di kampungnya sendiri”. Bisa dilihat dari segi positifnya atau negatifnya, atau dan tidaknya barangkali trergantung konteksnya. Kalau seperti murid dan guru, adalah positif, jadi negatif kalau gurunya tak pantas. Atau istilah ’menggurui’ itu sendiri sudah negatif. Ya mungkin begitu,

    Tetapi bisa juga tidak bermaksud menggurui tetapi ditanggapi begitu. Atau cara mengatakannya, dalam memilih da menempatkan kata-kata yang sesuai. Soal ini mungkin sudah termasuk diskusi dan debat, yang bisa menghasilkan positif dan negatif. Walaupun dalam jangka panjang, diskusi dan debat ilmiah akan selalu positif seperti ’piari terus ’betahna’ akan tersisih juga. Kita bisa menemukan kwalitasnya.

    Bahwa orang Karo sangat menghargai karia senimannya yang menggambarkan way of life dan way of thinking Karo sungguh sangat betul. Yang saya tahu semua orang Karo sangat menghargai lagu-lagu Karo. Saya merasakan sendiri, walaupun sudah lama dan jauh dari Karo. Musik Karo masih tetap jadi ‘raja’ di kampung halaman atau dimana saja orang Karo berada. Seniman ’menjaga hubungan emosional yang baik ini’ kata PG. Itulah memang yang terjadi.

    ”Hal inilah yang membuatku sedikit menyayangkan kondisi musik Karo sekarang ini. Mestinya seniman menjaga hubungan emosional yang baik ini, antara masyarakat dan para seniman. Seniman Karo harus merasa lebih bertanggungjawab atas karya yang mereka hasilkan, karena masyarakat sebenarnya sangat mencintai senimannya.” kata PG.

    Dalam perkembangannya, menjaga keharmonisan antara menasionalkan atau menduniakan musik Karo dan menjaga hubungan emosional tadi, barangkali disitulah terdapat faktor-faktor yang akan banyak menentukan sukses seni dan seniman Karo. Eh jujurnya saya juga tak tahu hehehe . .

    Mejuah juah
    MUG

Leave a Reply