Kolom M.U. Ginting: BERTIMBANG

0
200
bertimbang
Foto: Ita Apulina Tarigan

M.U. GintingLIMA (Lingkar Madani) Ray Rangkuti dalam bikin penilaian soal konflik KPK-Polri bilang: “Sebenarnya bukan konflik antara presiden dan rakyat tapi antara presiden dengan batin presiden.” (merdeka.com).

Menarik memang tema ’konflik batin’ pak Rangkuti ini. Ray Rangkuti melihat konflik batin Jokowi sebagai Presiden dan Jokowi sebagai batin. Jadi, antara presiden dan batinnya. Ya, begitu sajalah digampangkan pengertiannya. Barangkali semua juga kita mengerti maksud Pak Ray ini, karena semua kita punya batin yang sering bertentangan dengan kehendak kita sendiri. Itulah kontradiksi dalam pikiran atau dialektika pikiran.

Orang Karo kuno bilang “seh sura-sura tangkel sinanggel”. Sura-sura dan sinanggel silih berganti terjadi terus menerus dan di luar kehendak kita. Di sini, mungkin lebih jelas dimengerti penggambarannya, karena pertentangan dalam pikiran atau konflik atau juga kontradiksi dalam pikiran selalu datang begitu saja tanpa kita sedari.


[one_fourth]Suara suruh beli, tidak beli, beli lagi . . .[/one_fourth]

Contohnya dalam kehidupan sehari-hari banyak. Ambil saja misalnya kalau kita mau membeli sesuatu  di toko yang harganya mahal. Suara suruh beli, tidak beli, beli lagi . . . sampai kita memutuskan salah satu dan pergi dari toko itu. Jadi, konflik dalam pikiran bukanlah sesuatu yang tak biasa, tetapi terus menerus, proses yang tak pernah berhenti selama masih hidup. Di situlah menariknya atau tak menariknya ’konflik batin’ Pak Rangkuti.

Dalam konflik KPK-Polri terjadi konflik pikiran dalam diri Jokowi. Sangat betul, dan bukan hanya dalam diri Jokowi, tetapi semua orang juga. Siapa yang tidak ada konflik dalam pikirannya dan dalam soal apa saja. Melantik BG atau tidak. Melantik BW atau yang lain. Melantik sekarang atau tunggu dulu. Yang sangat menarik ialah bahwa Jokowi bisa memahami atau saya menduga dia sungguh memahami betul seluruh perjalanan proses konflik akan berakhir di mana dan bagaimana.

bertimbang 2
Salah satu adegan dalam penampilan kelompok teater SIRULO di Kerja Tahun Tanjungbarus yang berjudul SIRULO BERTANI ORGANIK (Foto: Muslim Ramli)

Kunci yang utama dia pakai ialah memanfaatkan opini publik untuk bikin putusan yang tepat dan sudah bisa meyakinkan bagi mayoritas masyarakat. Diskusi pro-kontra semakin mendalam serta meluas dan juga semakin ilmiah. Hari ini sangat berbeda dengan kemarin, apalagi seminggu lalu atau 3-4 minggu lalu. Banyak sekali yang telah berubah dan bertambah, tidak diduga oleh siapapun sebelum terjadi. Banyak fakta baru dan ulasan baru dan dalam kwalitas baru juga. Ini bisa terjadi karena yang berpartisipasi ada jutaan orang.

Jokowi memanfaatkan trend keterbukaan dan transparansi internet yang akan membentuk sikap dan pendapat yang domínant setelah waktunya matang. Proses ini sudah berjalan dalam waktu yang bisa dikatakan cukup lama sekarang untuk bikin putusan yang tak meragukan lagi bagi Jokowi. Kontradiksi sudah mencapai tingkat syntesis, dalam tes-antites-syntes Hegel.

Artinya, bagi Jokowi, sudah tak soal bikin keputusan tepat yang sesuai dengan opini umum yang sudah matang.


Leave a Reply