Saya Karo

2
215

Oleh: Cahaya beru Purba (Jakarta)

cahaya 3Jati diri tentang siapa kita sangat penting dibuat jelas.

Terlahir sebagai putri Karo, sejak kanak-kanak sudah ditanamkan di benak dan sanubari saya bahwa saya Kalak Karo tanpa embel-embel Batak.

Dengan pencantuman label Batak pada Karo jadi Batak Karo sangat mengganggu saya karena saya harus repot memberi penjelasan kepaa setiap orang yang bertanya asal usul saya. Saran saya kepada semua pihak yang terkait dengan pe-label-an kata Batak pada Karo ini agar memahami suara hati kami kalak Karo dan segera menghapuskan tulisan Batak pada pada tulisan Batak Karo, baik di buku-buku maupun di tempat-tempat lainnya.

Cukup menuliskan Suku Karo saja.

Bujur – Mejuah juah!

2 COMMENTS

  1. Jati diri adalah Hak Azazi setiap insan manusia.
    Harus jelas dan tegas , kepentingan apapun tidak bisa membuatnya jadi kabur.
    Hewan sajapun seperti bebek tidak mau disebut ayam walaupun dibesarkan oleh induk ayam.
    mejuah juah…

  2. “Jati diri tentang siapa kita sangat penting dibuat jelas.”
    “Dengan pencantuman label Batak pada Karo jadi Batak Karo sangat mengganggu saya . . .”

    Betul sekali memang formulasi diatas. Kalau orang bilang ‘kau Batak’ padahal kita jelas Karo, terasa sangat tak nyaman. Bikin penjelasan panjang lebar juga sangat mencapekkan dan memuakkan. Suku-suku lain mestinya tak perlu bikin tak nyaman suku lain juga tak perlu bikin capek suku lain.

    Jati diri kan hanya satu bagi setiap orang. Ada jati diri Karo, ada Batak, Jawa dsb. Jati diri ‘batak karo’ tak ada biar bagaimanapun diputar balikkan. Tiap jati diri berafiliasi ke kultur mana dan daerah mana, juga hanya satu. Orang Karo berafiliasi ke kultur karo dan taneh karo. Orang Batak ke kultur batak dan tano batak. ‘batak karo’ kemana? Afiliasi kultur ini adalah KEBUTUHAN HIDUP tiap manusia.

    MUG

Leave a Reply