Kolom M.U. Ginting: JOKOWI DENGAN BIN

0
160
bin 2
Penampilan Sanggar Seni Sirulo di Hotel Danau Toba International, Medan.

M.U. GintingBahwa BIN ”tak banyak berikan informasi” adalah merupakan tanda perubahan zaman. Era BIN atau era ’mata-mata rahasia’ sudah berlalu. Mata jutaan rakyat lebih bisa melihat persoalan apa saja dibandingkan dua mata dari seorang mata-mata. Jutaan rakyat bebas melihat dan bebas mengatakan ke semua orang. Seorang mata-mata rahasia tak bisa melihat seluas yang dilihat oleh mata dari jutaan rakyat banyak, juga tak bisa menceritakan secara bebas.

Karena itu, pada pokoknya, sudah tak ada lagi yang mau dilaporkan oleh seorang mata-mata BIN. Semua, apa saja yang ada sangkut pautnya dengan kepentingan rakyat banyak, sudah beredar di luar BIN; artinya, di kalangan masyarakat luas.

Soal tranparansi ini bahkan terjadi juga di bidang bisnis dengan istilah ’index transparansi’-nya terutama dipengaruhi oleh penanganan terhadap lingkungan. Itulah Revolusi Pencerahan dan Revolusi Kontrol Masyarakat.


[one_fourth]seperti tewasnya pejuang HAM Munir 11 tahun lalu[/one_fourth]

Barangkali, masih ada yang masih bisa dirahasiakan oleh BIN seperti yang telah dibongkar oleh Snowden;  yaitu, apa saja yang bertentangan dengan kepentingan rakyat banyak. Contohnya, seperti tewasnya pejuang HAM Munir 11 tahun lalu. Soal seperti ini akan dirahasiakan terus, kalau suasananya masih tetap seperti di masa Orba dan diktator-diktator dunia lainnya. Namun, hal yang begitupun sudah semakin sulit di era Snowden sekarang ini. Di Badan Mata-mata terbesar di dunia pun muncul Snowden, apalagi di BIN tentulah tak ada jaminan. Whistle blower model Snowden semakin banyak dan bisa muncul di mana-mana. Semua rahasia yang bertentangan dengan kepentingan rakyat atau ’kepentingan kemanusiaan’ semakin tak punya tempat untuk disembunyikan, kata Snowden.


[one_fourth]mencuri email rakyat Amerika atau pemimpin-pemimpin negara lain[/one_fourth]

Alasan ’untuk kepentingan negara’ seperti yang dikatakan Menlu Amerika John Kerry tak laku lagi sekarang ini. Orang-orang tak lagi percaya karena bertentangan dengan kepentingan kemanusiaan. Bagaimana bisa orang percaya kalau mencuri email rakyat Amerika atau pemimpin-pemimpin negara lain seperti PM Angela Merkel. Presiden SBY juga telefonnya disadap seenaknya oleh Amerika dengan alasan ’kepentingan negara dan rakyat (?). SBY bukan diktator seperti Polpot atau Soeharto.

”Politisi PDI Perjuangan, Tubagus Hasanuddin mengatakan, sejak Jokowi menjabat Presiden, kinerja BIN belum terlihat maksimal dalam memberikan informasi kepada Jokowi. Dia katakan lagi, untuk menyelesaikan kasus KPK-Polri Jokowi butuh masukan dari BIN.” (medeka.com).

Informasi soal KPK-Polri (kalaupun ada) yang belum dilaporkan ke Jokowi kemungkinan tak dikeluarkan apalagi kalau sifatnya bertentangan dengan ’kepentingan kemanusiaan’ (Snowden) tadi yang, dalam hal ini, adalah kepentingan rakyat untuk membasmi korupsi. Bisa juga ada dugaan kalau hal ini sudah memasuki ranah politik secara tertutup, seperti juga sengketa KPK-Polri yang politiknya selalu ditutup-tutupi.

BIN dan juga semua organisasi mata-mata rahasia semua negara dunia sedang dalam pergesekan dengan arus perkembangan dunia, terutama sangat bertentangan dengan perkembangan demokrasi, dialog, keterbukaan dan Transparansi. Semua ’rahasia penting negara’ pada masa lalu telah menjadi rahasia umum dalam Abad 21.


Leave a Reply