Cerpen: Batang Buah di Simpang Jalan

0
368

Oleh: Ita Apulina Tarigan (Surabaya)

 

ita-13.jpgficusDulu, lama sekali orang-orang tua di desa ini percaya batang buah (sejenis pohon hutan berakar gantung) di simpang jalan itu ada penghuninya. Kepercayaan orangtua kami adalah kepercayaan kami juga. Setiap ada hal yang menakutkan atau menyuramkan desa, orangtua kami biasanya berbicara sambil berbisik. Kami kanak-kanak yang biasanya tidak pernah ambil pusing bisa merasakan ada sesuatu yang tidak wajar sedang berlaku.

Kadang-kadang kami bertanya, mengapa mereka begitu suram dan seriusnya. Biasanya jawaban mereka selalu singkat seragam: “Ssshhh… anak-anak tidak perlu ikut campur urusan orangtua. Sana, kerjakan tugasmu. Tetapi mereka lebih sering tidak konsisten dengan jawaban singkat itu. Setiap pertanyaan selalu dijawab ssshhhh…. . Tetapi, ketika kami bergerak ke sana ke mari para orangtuapun mengeluarkan larangan lebih dari satu.

“Jangan terlalu sore pergi ke tapin, nanti sakit!” atau “jangan bermain terlalu jauh ke pinggir kampung, nanti kamu kena” atau “jangan terlalu sore lewat batang buah, hari ini penghuninya turun”.

Batang buah ini jelas sulit bagi kami dan warga desa menghindarinya. Dia tegak gagah menjulang tinggi di persimpangan antara jalan ke tapin, ke kuburan dan ke ladang. Setiap hari kami semua pasti melewatinya. Pagi sore, siang malam semua kegiatan warga kampung harus melewati simpang itu.

Baiklah, biar kugambarkan padamu bagaimana gagahnya batang buah raksasa itu. Setiap Senin, sepulang sekolah, aku selalu menemani Nande berjualan di Pajak Senen. Hari Senin adalah hari pasar. Penjual tidak hanya pedagang di pasar tetapi juga warga desa sekitar kota kecamatan. Termasuk Nandeku tidak pernah melewatkan hari ini. Sayuran yang dibawa juga sayuran sederhana. Tidak terlalu banyak tetapi beragam. Semuanya dari pinggir ladang dan reba Nini Karo. Aku senang sekali membantunya, selesai berjualan aku pasti berlimpah jajanan.

Nah, di tempat Nandeku biasanya duduk menggelar dagangan dalam pandangan lurus terlihat pucuk batang buah desa kami.

“Itulah kampung kita. Llihat batang buah itu tandanya. Nanti kalau hari mulai gelap daun-daunnya itu melambai menyuruh kita segera pulang,” katanya.


[one_fourth]batang buah
sebagai raksasa yang menjaga kampung[/one_fourth]

Aku berdiri di kursi kecil melihat ke arah batang buah. Daunnya hanya terlihat bergerumbul gelap dan aku percaya saja cerita Nande. Sambil memicingkan mata aku bayangkan batang buah sebagai raksasa yang menjaga kampung, raksasa pendiam tetapi menakutkan.

Lalu, kepada anak-anak lain yang berseliweran di pasar yang sudah menjadi temanku, dengan bangga kupamerkan batang buah kampungku.

“Itu, itu di sana tandanya, di bawahnya adalah kampung kami,” kisahku bangga.

Markus yang berbadan besar dan kasar mencibir.

”Di kampungmu banyak hantunya, ya, ihh… apa kamu tidak takut?”

Aku tidak suka, tetapi tidak berani melawan. Bagaimana mau melawan dia sudah kelas enam aku baru kelas dua. Badan besar lagi. Dada dan perutnya kelihatan karena kancing baju seragamnya tidak lengkap. Tetapi, begitulah hebatnya si batang buah, sampai orang-orang di kota bisa melihat keberadaannya.

* * * *

Hari ini hari Senin lagi. Sepulang sekolah aku mencari Nande ke pasar. Wajahnya cerah sekali, terlihat dagangannya tinggal sedikit.

“Ah, anakku… ini namanya rejeki anak sekolah. Sudah beberapa minggu ini dagangan Nande selalu habis. Cukuplah buat abang tuamu,” Nande girang sekali sambil merapikan penyimpanan uang di rok dalamnya bagian perut.

Tentu aku turut senang, dagangan habis artinya pulang ke rumah dengan melenggang.

Keriangan kami tidak lama. Kampung terasa sepi, lampu-lampu bergoyang sendu. Suara-suara terdengar senyap dan berbisik. Nandepun bergegas. Bapak berdiri di pintu rumah memandang kami dengan gusar.

“Mengapa lama sekali?” katamya sedikit membentak Nande.

“Ada apa, Pak? Hari ini jualan ramai. Ada apa?” tanya Nande.


[one_fourth]keramat batang buah marah[/one_fourth]

“Bapa Rahmad meninggal tadi sore. Kata orang-orang keramat batang buah marah, dia habis kencing di situ beberapa hari lalu. Matinya aneh, tidak ada apa-apa. Tadi sedang bermain satur di kedai kopi, pesan indomie dia. Begitu Indomie datang dia telungkup dan sudah tidak ada,” cerita Bapak sambil menghirup rokoknya.

“Kenapa keramat batang buah marah, Pak?” selaku sambil merapatkan dudukku ke lutut Bapak.

“Sssshhhh…. anak kecil jangan banyak tanya. Ini urusan orangtua. Ingat, ya, besok pulang sekolah jangan bermain terlalu jauh. Dekat-dekat rumah saja, jangan sampai sore di tapin. Sudah tahu?” perintah Bapak sambil menatap tajam.

Aku hanya mengangguk dan masih berusaha menguping. Nande menanak nasi sambil mengomel panjang pendek karena abangku belum pulang. Menurut Nande, abangku semakin sok jago karena akan tamat SMA, merasa tahu segalanya dan selalu melawan. Bapak tidak menjawab.

Malam itu mereka berdua berkunjung ke rumah Bapa Rahmad dan menyuruhku menunggu di rumah. Seperti biasa, aku tidak melawan walau ketakutan. Aku duduk di tangga rumah, bagiku lebih nyaman daripada menunggu di dalam. Mudah-mudahan abang segera kembali, doaku dalam hati.

****

Setelah penguburan Bapa Rahmad selesai, kasak kusuk tidak hentinya di Kampung K. Para orangtua berkasak-kusuk. Kami anak-anak semakin mengeratkan persatuan.

Bagaimana tidak mengeratkan persatuan? Pagi sekali kami harus mandi ke tapin sebelum sekolah. Entah siapa yang mengomando, sudut jambur belakang menjadi tempat perkumpulan sebelum berangkat beramai-ramai ke tapin di pagi hari.

Demikian juga sepulang sekolah menuju ladang masing-masing, tiba-tiba kami sudah berkumpul lagi di sudut jambur. Lalu berjalan tanpa suara ke persimpangan dan…. entah bagaimana semuanya berlomba lari sambil berteriak-teriak, seolah melewati hantu yang setiap saat dapat menerkam salah seorang dari kami.

Kalian boleh tidak percaya, tetapi sudah seminggu kami bertingkah laku seperti ini dan rasanya kami semakin terikat secara emosional, senasib sepenanggungan.

Tapi, diantara semua keanehan, yang paling aneh adalah tingkah abangku dan teman-teman remajanya. Mereka juga kelihatanya sekarang punya persatuan yang kuat dengan para pengangguran intelek di kampung K. Bagaimana tidak intelek, beberapa diantaranya sudah sarjana, ada juga yang nyaris jadi sarjana dari berbagai kota besar di republik ini. Beberapa hari lalu, abang dan Nande berdebat soal orang kampung yang tidak bisa diajak maju.

“Nde… coba Nande lihat, selalu saja kematian dikaitkan dengan batang buah. Apa pernah ada yang bertemu keramat yang sering diceritakan itu? Itu cuma dongeng, Nande, buat menakut-nakuti orang kampung,” ucap Abang bersemangat.

“Sebaiknya, tidak usah banyak bicara tentang hal-hal yang tidak kau ketahui. Pelajari bukumu dan segera lulus,” jawab Nande dingin sambil melipati kain-kain di depannya.

“Nande tahu tidak, kami akan menunjukkan kepada semua warga bahwa pohon itu tidak ada apa-apanya. Ini jaman sudah modern masak harus terkurung takhyul. Nanti kami membuat acara di bawah pohon itu, pesta makan dan minum,” kata abang lagi.

“Kami siapa maksudmu?”

“Ya, semua karang taruna, anak muda desa ini. Nanti Bang Jon yang akan bantu semua biayanya, Nande tahu, kan, dia itu tangan kanan Bos U?”

“Jangan sampai engkau kulihat lagi berkumpul dengan mereka di kedai. Kau tidak tahu apa yang sedang kau ramaikan itu,” tiba-tiba Bapak menyela dengan suara berat.

Nande dan Abang lalu terdiam. Bagiku, berita pesta ini akan menjadi bahan perbincangan seru dengan teman-temanku esok hari.

Hari pesta pemuda itu tiba. Kelihatannya warga tidak ada yang melarang. Hanya kadang-kadang kudengar gerutuan beberapa orangtua di belakang rumah yang dapurnya bertemu dengan dapur kami. Terutama para tetua yang merasa para pemuda tidak tahu bersopansantun seperti kebiasaan kami. Tetapi mereka hanya menggerutu dan menyumpah.


[one_fourth]Darah mereka tertumpah bersama tuak di kaki batang buah[/one_fourth]

Bapak Kepala Desa sore itu turut hadir di bawah batang buah. Ayam, anjing, babi silih berganti menyerahkan nyawanya. Darah mereka tertumpah bersama tuak di kaki batang buah. Api unggun mulai berderak, bau daging panggang memenuhi udara. Lagu-lagu seronok mesum terdengar diselingi gelak tawa. Abangku hadiri di situ. Nande menyuruhku untuk memanggilnya pulang.

“Bang, Abang… Nande bilang pulang, sebentar lagi makan malam,” teriakku menengahi keriuhan mereka.

“Eissss… anak kecil, sana. Jangan ke sini lagi,” kata abangku mendelik sambil menyelipkan uang Rp 500 ke tanganku. Lalu aku berlari pulang.

Pesta itu sukses besar. Setidaknya, sejak hari itu tidak ada lagi temanku yang berkumpul di sudut jambur, kami pergi ke ladang sudah seperti biasanya. Batang buah seolah terlupakan. Apalagi suasana panen melimpah begini, sungguh menyenangkan Kampung K.

Sebentar lagi ada pesta Kerja Tahun, pesta besar setiap tahun. Musik, makanan, keramaian tiada henti selama 2 hari 2 malam. Gendang, tarian dan lagu-lagu silih berganti dilantunkan. Semua bergembira, semua bersiap-siap. Para gadis berhias dan berlatih menari, para lelaki sibuk menata dan mendekor kampung yang pasti akan ramai dikunjungi selama 2 hari itu.

Bagi kanak-kanak, keramaian saja sudah lebih dari cukup apalagi dengan berbagai acara ini. Kami adalah penonton dan pengamat sejati. Para orang dewasa selalu menyepelekan kami, padahal ada banyak rahasia kotor mereka yang kami ketahui tetapi kami diam-diam saja dan melupakannya.

* * * *

Aron Beru Karo sudah berdiri di atas pentas. Lagu lama yang dinyakikan perkolong-kolong sungguh syahdu. Semua terlihat berkilau. Lagu syahdu kemudian beralih menjadi Odak-odak dan Patam-patam. Sorakan terdengar menyemangati para pasangan yang menari.

Panggung setinggi satu meter di tengah jambur luas seakan sempit sekali. Mereka bergantian maju ke depan, kadang sampai ke bibir panggung. Sungguh, siapapun tidak menduga, tiba-tiba 2 gadis Beru Karo itu terjatuh dari panggung dan pingsan. Anak-anak muda yang bertugas sebagai panitia panik dan langsung melarikan kedua gadis itu ke rumah sakit. Protokol acara menghentikan kegiatan, musik berhenti dan para penonton berkelompok berbisik-bisik.

Dalam keheningan, terdengar raungan sepeda motor. Salah seorang panitia kembali dari rumah sakit membawa kabar duka.

“Sentabi, Nande Bapa, Turang Senina, kedua orang sahabat kita yang terjatuh tadi telah tiada, mereka sudah meninggal,” katanya lemas.

Ibu-ibu menjerit dan meraung. Pemusik dan penyanyi mengemasi peralatannya, bersiap-siap meninggalkan kampung K.

Hidup memang sama selalu tidak bisa diramalkan. Tadi malam, janur kuning, gelak tawa dan musik, wajah sumringah, senyum cerah di jambur ini. Pagi ini semua orang serba hitam, tangis tiada hentinya. Di tengah jambur, membujur kaku tubuh kedua Beru Karo di dalam peti. Musik dimainkan, menambah derasnya air mata. Pagi yang mendung. Beberapa lelaki berkata lirih, mudah-mudahan Dibata masih mempunyai belas kasihan, menahan hujan turun sampai acara selesai.

Rutinitas kanak-kanak kami kembali lagi dengan segala ketakutan setiap upacara kematian berlangsung. Bergerombol mandi, bergerombol pulang sekolah dan bergerombol ke ladang. Suram. Tetapi bagi kami, itu seperti petualangan saja, hanya orang-orang dewasa di Kampung K kelihatannya makin pendiam. Sementara, teriakan kami selalu membahana setiap melewati batang buah itu.

*****

Tiga bulan setelah pesta panen yang mengerikan itu, beberapa kali Kepala Desa dan Abang Jon memimpin rapat di jambur. Kebanyakan para lelaki dan karang taruna yang hadir, walau ada beberapa perempuan tua yang turut serta. Mereka kebanyakan diam, mengunyah sirih sambil memutar tembakaunya. Malam minggu ini aku dan teman-temanku mau mengikuti rapat itu. Paling tidak kami bisa menguping dan mendapat segelas teh hangat dan sepotong roti kelapa.

Rapat berlangsung seru. Bapak Kepala Desa yang dulu pernah kuliah sampai semester 7 itu berapi-api menerangkan tentang perlunya mengikuti jaman. Menurutnya, warga Desa K sudah terlalu lama diselimuti kegelapan dongeng batang buah.

“Hanya kita yang bisa menyingkirkan kegelapan. Sinar matahari selalu ada, tetapi kalau Turang Senina tidak mau menyibakkan tirai bagaimana cahaya itu mau masuk?” katanya puitis berapi-api.

Lalu Abang Jon yang parlente juga berbicara. Menurutnya, kemajuan kampung terletak di tangan para warga, warga harus bisa dan mau berusaha.


[one_fourth]saya bukan mengajak melawan orangtua, ya[/one_fourth]

“Kalau sampai 10 tahun ke depan warga kampung K ini hidupnya begini-begini saja, jangan salahkan siapa-siapa. Salahkan diri sendiri. Anak-anak muda yang tidak mau berubah, salahkan dirimu, saya bukan mengajak melawan orangtua, ya, tetapi mengajak kita berpikir logika, pakai ini,” katanya sambil menunjuk keningnya dengan jarinya yang bercincin batu besar.

Para pemuda bertepuk tangan, teermasuk abangku yang belakangan ini selalu dekat dengan Abang Jon.

Intinya, hampir seleuruh peserta sepakat untuk menebang batang buah dan kayunya dijual untuk kas desa. Apalagi Abang Jon mengatakan, sudah nyaris positif Bos U akan membantu pengadaan jalan ke hutan gelap di belakang batang buah.

“Adik-adik nanti tidak perlu takut lagi kalau mau pergi ke sungai, ke ladang. Kita bersihkan semua, kita buat terang,” katanya sambil melirik genit kepada barisan remaja di sebelah kiri.

“Bagaimana Nande dan Bibi sekalian? Sudah paham dan sepakat, ya,” rayu Kepala Desa tanpa senyum kepada para perempuan tua yang dari tadi hanya menatap diam.

“Kami tidak tahu apa yang kalian bicarakan, kalian sudah pintar, lebih tahu dari kami. Kami tidak bisa mengatakan apa-apa. Kau tahu apa yang kau kerjakan dan apa resikonya, Benyamin?” jawab seorang Ibu sambil menggeser berdiri, lalu meninggalkan jambur.

Kepergiannya diikuti semua perempuan tua lainnya.

Aku tidak jelas mendengar gerutuan Kepala Desa, yang mukanya memerah darah. Abang Jon berusaha meriangkan suasana. Tidak ada lagi yang menarik, apalagi setelah roti kelapa berada di tangan kami. Aku dan teman-temankupun pulang.

****

Pagi subuh, rumah kami digedor orang. “Hoii.. hoi … Mama, mama, talangi, buka pintunya,” teriakan dari luar sambil memukul daun pintu.

Aku dengar Bapak bergegas.

Mama, enggo dung kel kita. Arwin di rumah sakit. Tadi tengah malam dia dan teman-temannya ditabrak truk di jalan depan,” kata suara itu.

Brukkk… seperti ada yang jatuh. Aku tidak berani keluar kamar. Jantungku berdegup keras. Abangku Arwin.

Jadi, setelah selesai rapat tadi malam Abang Jon mengajak para pemuda pergi ke jalan besar di depan sana untuk minum bir dan tuak. Abangku salah satunya. Jalan itu adalah jalan lintas propinsi kami, kalau malam tiba hanya truk-truk besar pengangkut kayu dan sayuran yang lewat. Mereka minum di tepi jalan, memasang api unggun dan sebagian mabuk. Tiba-tiba saja, sebuah truk bermuatan kayu dengan supir yang mengantuk menyambar 8 orang yang sedang mengelilingi api unggun. Mereka tewas semuanya.

Aku duduk di kaki Nandeku yang lemas. Kepalanya terkulai, tidak ada lagi airmata menangisi anak sulungnya. Delapan tubuh terbujur kaku di tengah jambur, salah satunya kakakku. Semakin aku dewasa, semakin aku diingatkan hari ini.


Leave a Reply