Kolom M.U. Ginting: Budi Gunawan Batal

0
372
guru patimpus
Patung pendiri Kota Medan, Guru Pa Timpus Sembiring Pelawi

M.U. GintingJokowi menunjuk Badrodin Haiti sebagai Kapolri. Kelihatannya memang seperti jalan tengah atau semacam kompromi atau win win solution . Walaupun, kalau ditimbang-timbang secara lebih teliti, masih berat sebelah. Badrodin ikut aktif, atau setidaknya tak bikin apa-apa, dalam usaha-usaha mengkriminalkan KPK saat  penangkapan Wakil Kepala KPK (BW). Polisi saat itu menangkap BW seperti menangkap seorang teroris, dan telah jadi catatan Komnas HAM.

Kabareskrim Budi Waseso memerintahkan penangkapan itu. Pertanyaan, apakah itu atas sepengetahuan Badrodin atau atas perintah dia atau Budi Waseso bertindak sendiri? Terlihat bahwa Badrodin sebagai Plt. Kapolri tidak bisa mengendalikan semua situasi dalam menghadapi kisruh KPK-Polri.

Pemecatan Bareskrim Suhardi Alius yang diduga membocorkan rekening gendut BG, dan digantikan Budi Waseso yang terkenal teman akrab BG atau seperti Oegreseno mantan Wakil Kapolri bilang, “dua budi” di Polri terlihat kepasifan Badrodin.

Sosiolog Imam Prasodjo (Tim Independen Jokowi) mengaku senang dengan langkah Presiden Joko Widodo membatalkan pencalonan Komisaris Jenderal Polisi Budi Gunawan sebagai Kapolri. IP juga mengharapkan penggantian Kabareskrim Budi Waseso karena sikap-sikapnya terhadap KPK itu dan mengharapkan Badrodin bisa mencari Kabareskrim yang lebih tepat.


[one_fourth]semua kita jadi saksi, tinggal memungut hasilnya[/one_fourth]

Sebagian orang berpendapat, kalau sejak semula Badrodin ditunjuk sebagai Kapolri tentu tak perlu melewati ‘huru-hara’ yang sudah terjadi ini. Kekacauan sudah terjadi, semua kita jadi saksi, tinggal memungut hasilnya, buahnya atau lapongna atau gabahnya. Semua telah berjalan seperti menampi (miari) beras. Tak perlu ada penyesalan, karena yang ada ialah pelajaran.

jimmy sebayasng
Penampilan Sanggar Seni Sirulo di sebuah mall di Medan. Tampak Jimmy Sebayang (bermain kulcapi) dan Alex Ginting (menabuh gendang)

Indahnya kekacauan ialah akan selalu melahirkan sesuatu yang baru dan sering yang negatif berubah atau melahirkan yang positif. Lihatlah berapa banyak informasi dan pendapat orang banyak dan ahli-ahli dalam semua bidang membentangkan analisa dan uraiannya di atas meja internet. Yang ilmiah dan tak ilmiah, yang betul dan tak betul, yang berkwalitas dan yang tidak, tinggal pilih. Pengetahuan hukum atau sosial politik, semua ambil bagian, semua dapat pencerahan.

Yang terlibat sudah dapat pelajaran yang tak akan terlupakan seumur hidupnya. Ada yang tak bisa tidur atau tak bisa makan beberapa hari. Jadi lebih kuat atau jadi terpental. Tiap orang yang terlibat ini bukan lagi dia yang semula. Situasi sekarang ini ternyata tidak lagi seperti situasi 5-10 tahun lalu. Dunia berubah tetapi desedari setelah lewat pelajaran pahit.


[one_fourth]alangkah indahnya kalau sistem penegakan hukum[/one_fourth]

Ada satu usul bagus dari mantan Wakil Kapolri Oegroseno soal memperluas akses serta memperdalam pengetahuan publik dan ahli-ahli dalam soal hukum korupsi, dia bilang: “Saya berbicara sendiri, alangkah indahnya kalau sistem penegakan hukum khusus di bidang tipikor itu dibikin online. Jadi semua bisa mengakses itu, dari pihak Kepolisian, Kejaksaan, MA, Presiden juga bisa melihat eksekutif informasi sistemnya semua dikontrol dari situ,”

Semua persoalan korupsi dan hukum-hukum yang bersangkutan dipaparkan online secara terbuka dan transpararan.

Era keterbukaan dan transparansi sudah semakin dikenal dan dipahami sangat perlu dalam menyelesaikan persoalan masyarakat Abad 21.


Leave a Reply