Catur Karo Akan Diluncurkan di Medan

3
203
catur karo 3
Gema Kristo Tarigan saat menjemput papan dan buah catur Karo ke Ketua Persatuan Catur Karo Sumut di Delitua.

alexander firdaustALEXANDER FIRDAUST. MEDAN. Nama pecatur muda berdarah Karo di Kota Medan, Gema Kristo Tarigan, memang tidak begitu dikenal luas oleh publik. Namun, pria kelahiran Desa Laukersik (Kabupaten Langkat) ini ternyata sudah kerap berkecimpung di turnamen catur tingkat Pekan Olahraga Mahasiswa Sumatera Utara (POMSU) sejak tahun 2011.

Tercatat sejak 2011, Gema Tarigan yang membawa nama kampus AMIK-MBP Medan di ajang POMSU ini selalu tampil dalam urutan 5 besar. Bahkan untuk ajang Pekan Olahraga di tingkat GBKP, dirinya kerap meraih Juara, dan salah satunya pada Pekan Olahraga GBKP yang diselenggarakan oleh Klasis Kuala Langkat pada tahun 2010 silam.

Menekuni olahraga catur internasional di Kota Medan selama beberapa tahun terakhir ternyata tak membuat Gema Tarigan lupa akan tradisi etnisnya dan salah satunya mengenai catur Karo yang disebut satur dalam bahasa Karo.

“Awalnya saya mendengar di Karo juga ada catur yang khas, disebut satur. Saat itu, baru mendengar saja, namun keberadaanya belum pernah saya lihat,” ujarnya kepada Sorasirulo.com.


[one_fourth]Rasa penasarannya semakin menjadi-jadi[/one_fourth]

Semakin sering Gema Tarigan mendengar kabar terkait keberadaan catur Karo membuat dirinya semakin penasaran. Rasa penasarannya semakin menjadi-jadi. Pada awal bulan Januari 2015 lalu, dia sempat mengutarakan hal itu kepada beberapa pemuda Karo lainnya di Medan, yakni kepada Steven Amor Tarigan dan Alexander Sembiring.

Mengingat kedua orang pemuda Karo yang dia tanya juga tidak dapat memberikan banyak informasi terkait seluk beluk catur Karo, akhirnya rasa penasarannya kembali terpendam begitu saja.

catur karo 4
Andreas Barus (Ketua Percakasu) saat menyerahkan peralatan catur Karo kepada Gema Tarigan di Delitua.

Gayung bersambut, membaca berita yang dirilis Sorasirulo.com terkait deklarasi Persatuan Catur Karo Sumatera Utara (PERCAKA-SU) pada 22 Januari 2015 yang lalu, Gema Tarigan kembali optimis dapat segera banyak belajar mengenai catur Karo yang telah banyak membuatnya penasaran selama ini.

Mendapat arahan dari beberapa teman-temannya, ia memutuskan untuk menghubungi Ketua PERCAKA-SU Andreas Barus. Dia berniat mengutarakan keinginannya untuk belajar catur Karo sekaligus berjanji akan mensosialisasikannya ke para pemuda dan mahasiswa di Kota Medan.

Pada 12 Februari 2015 lalu, Gema Tarigan dan Alexander Sembiring akhirnya berhasil bertemu dengan Andreas Barus. Pda kesempatan itu juga, keduanya langsung dibuatkan mandat untuk melaksanakan tugas membentuk kepengurusan Persatuan Catur Karo di Kota Medan.

Ketua PERCAKA-SU juga berjanji akan memberikan pelatihan catur Karo kepada keduanya, sekaligus juga akan diberikan papan catur sebagai media pembelajaran dan sosialisasi kepada para pemuda dan mahasiswa di Kota Medan.

PERCAKA-SU ternyata menempati janjinya. Pada 23 Februari 2015 lalu di Delitua, dua papan catur berukuran kecil dan besar secara resmi diserahkan kepada Gema Kristo Tarigan.


[one_fourth]mensosialisasikan warisan budaya Karo[/one_fourth]

“Kita akan memanfaatkan kedua papan catur Karo ini secara baik sebagai media pembelajaran. Setelah benar-benar dapat menguasai permainan catur Karo, maka ke depannya kita akan mensosialisasikan warisan budaya Karo ini secara luas di Kota Medan,” ujar Gema Tarigan dengan optimis.

Terkait dengan sosialisasi keberadaan catur Karo di Kota Medan ke depannya, Gema Tarigan juga sangat berharap dukungan luas dari seluruh elemen masyarakat, khususnya masyarakat Karo.

“Kita sangat berharap dukungan moril dan materil dari seluruh elemen masyarakat, khususnya masyarakat Karo dalam rangka memasyarakatkan keberadaan catur Karo di Kota Medan ini ke depannya. Ini sangat penting mengingat kota Medan sendiri adalah Kota yang didirkan seorang Putra Karo, yakni Guru Patimpus Sembiring Pelawi,” ujar Gema Tarigan berharap.

Berita terkait:

Catur Karo Dideklarasikan

Pantun: Satur


3 COMMENTS

  1. Juga tak ada catur ‘batak karo’ hehehe . .
    Nama ‘satur Karo’ sudah lama, semua orang Karo tahu, termasuk yang anti KBB juga ngerti. Nama ini sejak permainan ini ada di Karo.

    Kabarnya permainan ini datang dari Arab, tetapi bisa juga diciptakan oleh orang Karo mengingat budaya karo yang sudah tua (7400 th). Budaya Arab tidak setua itu. Dari nama buah satur, raja, bidak, kuda, gajah, adalah kerajaan. Jadi munculnya ketika feodalisme dan budak-budak masih ada di istana raja. Karena di Karo filsafat hidupnya rakut sitelu, maka kalau Karo menciptakan permainan ini hanyalah menggambarkan kiasan negeri lain yang tak pakai rakut sitelu dan tidak egaliter. Bagi orang Karo hanya permainan otak semata-mata, karena orang Karo lebih menghormati kalimbubu daripada raja.

    MUG

    • Benar, yang ada “Catur Karo”, bukan catur batak Karo!
      semoga virus #DemamCaturKaro cepat meluas, bukan hanya menjangkit anak muda Suku Karo yang di Medan, tetapi di mana pun, bahkan kita berharap merasuk juga ke suku-suku lain, agar permainan “Catur Karo” ini masuk dalam pesta olah raga profesional.

      Selanjutna, Mama MUG. Enda sekedar tersinget nge. Hehehe… “Sangkep ‘nggeluh kalak Karo, em: 1. Sembuyak, 2. Anak Beru, 3. Senina, ras 4. Kalimbubu.
      🙂
      Mejuah-juah.

  2. (Y) (Y)
    Angin segar bagi kembalinya kejayaan duni Catur Karo, serta eksistensi “Satur Karo”.

    Dunia akan tahu dan katakan, “Oh, ini catur Karo, bukan catur Batak!” Sebab tidak ada catur dan permainan catur ala Batak. Yang ada “Catur Karo” dan permainan catura ala Karo.

Leave a Reply