KBB Bagi Orang Batak?

1
343

Oleh: Plato Ginting (Yogyakarta)

 

pastor
Penampilan Sanggar Seni Sirulo di Anjungan Pesta Mejuah-juah, Berastagi.

Secara sekilas kita mungkin menduga bahwa KBB (Karo Bukan Batak) takkan pernah bisa diterima oleh orang-orang dari Suku Batak. Soalnya, mengakui KBB sama saja dengan melemahkan kekuatan mereka yang maunya Karo terkesan bagian dari Batak.

Paling tidak, dengan mengakui KBB, orang Batak kehilangan salah satu ‘sub’ nya yang tak bisa dipandang sepele. Sebab diantara ‘sub’ yang lain, Karo termasuk salah satu yang bisa dibilang paling susah untuk tahluk. Setidaknya, Kabanjahe dan Berastagi masih menjadi kota Karo sampai sekarang. Tidak seperti Siantar yang kesannya bukan lagi kota Simalungun dan Sidikalan bukan lagi kota Pakpak (Keduanya dianggap kota Batak).

Sebenarnya, ini kisah yang bagiku menarik. Kemaren, kami Keluarga Besar Karo Katolik Yogyakarta mengadakan pertemuan bulanan dengan mengadakan Misa sekalian syukuran salah seorang anggota pemuda yang baru wisuda. Kebetulan misa dipimpin oleh seorang Pastor atau Romo yang, jika dilihat sekilas, sangat mirip dengan orang dari Indonesia Timur. Aku pun menduga pastor ini dari Flores atau Timor Barat.


[one_fourth]tak pernah menye-butkan Batak Karo[/one_fourth]

Ketika memberikan sambutan, pastor ini berbicara tentang suku-suku Indonesia termasuk diantaranya Karo, Batak dan sebagainya. Dia tak pernah menyebutkan Batak Karo dan bahkan dia terlihat begitu membedakan Batak dengan Karo.

Aku sempat berpikir, pastor ini pasti sudah tahu tentang isu KBB. Namun, setelah ibadah misa selesai, pastor ini memperkenalkan diri. Ternyata dia adalah orang Batak bermarga Simatupang kalau aku tidak salah ingat. Mungkin juga Simanjuntak. Dia terlihat sangat membedakan Karo dengan Batak. Sesekali dia mengatakan Batak Toba, sesekali Batak saja, tapi tak pernah mengatakan Batak Karo.

Dia bercerita: “Kemaren aku juga ikut perkumpulan kami orang-orang Batak Katolik. Tapi, saya melihat di Karo Katolik ini banyak sekali pemudanya. Pertahankan.”

Dia tersenyum saat berkata begitu. Dalam hati aku ikut tersenyum karena ternyata orang Batak yang tak punya kepentingan pribadi akan sangat mudah menerima KBB. Salut untuk pastor Batak ini.


1 COMMENT

  1. “Dia tersenyum saat berkata begitu. Dalam hati aku ikut tersenyum karena ternyata orang Batak yang tak punya kepentingan pribadi akan sangat mudah menerima KBB. Salut untuk pastor Batak ini.” kata PG dalam artikelnya menanggapi seorang pendeta Batak yang tak ingin lagi mengatakan Karo sebagai ‘Batak’.

    Memang menarik sekali perubahan dan perkembangan ethnic competition ini. Identitas pun berubah, dari 5 suku Batak sekarang agaknya tinggal satu saja. Masih malu-malu kucing untuk menerima kenyataan ini sepenuhnya, masih dalam keadaan ‘tersenyum’. Tetapi semua itu menandakan perubahan yang pasti, tak ada jalan kembali, artinya bahwa Karo bukan Batak, bukti-bukti genetis, sejarah dan arkeologis semakin banyak dipahami masyarakat.

    Ethnic competition maju dalam formasi baru dalam abad 21 karena dilengkapi dengan pengetahuan dan teori ilmiah ethnic competition.
    Ethnic competition basisnya adalah menuju kekuasaan politik dan ekonomi. “Siantar yang kesannya bukan lagi kota Simalungun dan Sidikalang bukan lagi kota Pakpak (Keduanya dianggap kota Batak).” kata PG, betul sekali. Di daerah Pakpak dan Simalungun ini dominasi kekuasaan politik sudah pindah ke tangan pendatang.

    Karo masih belum, tetapi sudah beralih di daerah Karo Deliserdang. Disitu bupati dan camat-camat bahkan sampai kepala desa adalah pendatang Batak. Orang Batak sangat tinggi mobilisasi politik dan organisasinya. Di Karo ada satu organisasi ekonomi orang Batak yang dekelola sangat rapi, yaitu C U Sondang Nauli meliputi 17 kecamatan Karo, Dairi dan Deliserdang.

    Organisasi sangat penting bagi gerakan kompetisi etnis orang Batak dan justru ini di pusat daerah kultur Karo. Sekretarisnnya dibikin orang Karo, sebagai fenomena ‘karo jadi ketua’ masa silam.

    Di Simalungun dan Pakpak Dairi mereka sudah selesai kompetisinya, tinggal mempertahankan dan mengembangkan kekuasaan politik yang sudah diraih. Salah satu taktik terpenting bagi orang Batak tadinya ialah dengan pembatakan, membatakkkan orang Pakpak dan Simalungun, tetapi kedua suku ini diam saja karena tak memprediksi tujuan utama ethnic competition. Dengan politik ‘sama-sama Batak’ tanah dibagi-bagi dan kekuasaan diambil sepenuhnya. Kita masih ingat politik ‘satu nusa satu bansa’ fasis Orba. Tanah dan hutan orang Dayak dikuasai dan akhirnya . . . .

    Kompetisi akan terus, bagi Karo harus mempelajari jangan sampai bernasib seperti Pakpak dan Simalungun. Tanpa mempelajari dan antisipasi dini, nasib Karo sudah pasti juga begitu. KBB adalah cara strategis mutlak penting dalam antisipsi nasib menyedihkan PS (Pakpak Simalungung).

    “variation in ethnic mobilization relates to intergroup struggles over scarce resources, .. . . that social and spatial relations within each city shaped the contours of perceived competition and subsequent ethnic organization in ways that were not always predictable through observation of conventional proxies of competition.” (David Cunningham), penulis teori kompetisi etnis.

    Pakpak dan Simalungun tidak pernah memprediksi proses kehilangan kekuasaan dan daerah mereka sejak dini. Dalam era globalisasi lebih ditekankan lagi oleh Erik Lane dalam bukunya “Globalization and Politics: Promises and Dangers” menulis:

    “the focus is almost exclusively at ethnics and not nations . . . Thus, people are so intimately connected with a culture that they are, so to speak, constituted by the culture in question or embedded in such a particular culture.”

    Kelihatannya Pakpak dan Simalungun sudah terlambat lebih dari setengah abad mempelajari isi buku ini. Tetapi bagi orang Karo masih ada waktu dan harus mendalami ethnic competition dengan seksama dan ilmiah. Dinamika ethnic competition harus dimanfaatkan sehingga bisa mendorong perubahan dan perkembangan bersama, tetapi bukan dengan menyembunyikan kompetisi etnis.

    Kalau kita “tidak gamang lagi atas identitas primordialnya dalam berpolitik. Itu pertanda kemajuan, bukan kemunduran. Bukan pula kompromi atau sikap akomodatif sesaat utk kepentingan pemilu. Identitas primordial tak mungkin disembunyikan selama kita berhubungan dengan orang lain. Lagi pula integritas identitas primordial tak menghalangi persahabatan kita dengan orang lain. Orang cenderung lebih yakin dan percaya kepada orang dengan integritas pribadi yang jelas ketimbang abu-abu, apalagi yang tersembunyi (atau sengaja ditutup-tutupi karena sesuatu hal). Lagipula apa sih yang tersembunyi dalam dunia yang serba terbuka sekarang ini ? Mari berani maju dengan integritas jatidiri yang jelas dan kuat.” (RGM)

    MUG

Leave a Reply