Kolom M.U. Ginting: KBB Tak Untuk Sesaat

2
216
kolom 5
Sanggar Sirulo melukis secara live di atas pentas diiriingi musik tradisional, penari latar, vokalis dan pelukis sendiri melakukan gerakan-gerakan tari sambil melukis mengenakan topeng dari pelepah kelapa.

M.U. Ginting“Dia tersenyum saat berkata begitu. Dalam hati aku ikut tersenyum karena ternyata orang Batak yang tak punya kepentingan pribadi akan sangat mudah menerima KBB. Salut untuk pastor Batak ini,” kata Plato Ginting (PG) dalam artikelnya menanggapi seorang pastor Batak yang tak mengatakan Karo sebagai Batak.

Memang menarik sekali perubahan dan perkembangan ethnic competition ini. Identitas pun berubah, dari 5 suku Batak sekarang agaknya tinggal satu saja. Masih malu-malu kucing untuk menerima kenyataan ini sepenuhnya, masih dalam keadaan ‘tersenyum’.  Tetapi semua itu menandakan perubahan yang pasti, tak ada jalan kembali, artinya bahwa Karo bukan Batak, bukti-bukti genetis, sejarah dan arkeologis semakin banyak dipahami masyarakat.

Ethnic competition maju dalam formasi baru dalam Abad 21 karena dilengkapi pengetahuan dan teori ilmiah ethnic competition. Ethnic competition basisnya adalah menuju kekuasaan politik dan ekonomi.

“Siantar yang kesannya bukan lagi kota Simalungun dan Sidikalang bukan lagi kota Pakpak (Keduanya dianggap kota Batak),” kata PG, betul sekali. Di daerah Pakpak dan Simalungun ini dominasi kekuasaan politik sudah pindah ke tangan pendatang.

kolom 4
Penampilan Sanggar Seni Sirulo

Karo masih belum, tetapi sudah beralih di daerah Karo Deliserdang. Di situ bupati dan camat-camat bahkan sampai kepala desa adalah pendatang Batak. Orang Batak sangat tinggi mobilisasi politik dan organisasinya. Di Karo ada satu organisasi ekonomi orang Batak yang dikelola sangat rapi, yaitu CU Sondang Nauli meliputi 17 kecamatan Karo, Dairi dan Deliserdang.

Organisasi sangat penting bagi gerakan kompetisi etnis orang Batak dan justru ini di pusat daerah kultur Karo. Sekretarisnnya dibikin orang Karo, sebagai fenomena ‘Karo jadi ketua’ di masa silam.


[one_fourth]tak memprediksi tujuan utama ethnic competition[/one_fourth]

Di Simalungun dan Pakpak Dairi mereka sudah selesai kompetisinya, tinggal mempertahankan dan mengembangkan kekuasaan politik yang sudah diraih. Salah satu taktik terpenting bagi orang Batak tadinya ialah dengan pembatakan, membatakkan orang Pakpak dan Simalungun, tetapi kedua suku ini diam saja karena tak memprediksi tujuan utama ethnic competition. Dengan politik ‘sama-sama Batak’ tanah dibagi-bagi dan  kekuasaan diambil sepenuhnya. Kita masih ingat politik ‘satu nusa satu bangsa’ di masa fasis Orba. Tanah dan hutan orang Dayak dirampok dan dikuasai dan akhirnya . . . .

Kompetisi akan terus. Karo harus mempelajari jangan sampai bernasib seperti Pakpak dan Simalungun. Tanpa mempelajari dan antisipasi dini, nasib Karo sudah pasti juga begitu. KBB adalah cara strategis mutlak penting dalam antisipsi nasib menyedihkan PS (Pakpak Simalungun).

“Variation in ethnic mobilization relates to intergroup struggles over scarce resources,  .. . . that social and spatial relations within each city shaped the contours of perceived competition and subsequent ethnic organization in ways that were not always predictable through observation of conventional proxies of competition.” (David Cunningham, penulis teori kompetisi etnis).

Pakpak dan Simalungun tidak pernah memprediksi proses kehilangan kekuasaan dan daerah mereka sejak dini. Dalam era globalisasi lebih ditekankan lagi oleh Erik Lane dalam bukunya “Globalization and Politics: Promises and Dangers” menulis:

“The focus is almost exclusively at ethnics and not nations . . . Thus, people are so intimately connected with a culture that they are, so to speak, constituted by the culture in question or embedded in such a particular culture.”

Kelihatannya Pakpak dan Simalungun sudah terlambat lebih dari setengah Abad mempelajari isi buku ini. Tetapi bagi orang Karo masih ada waktu dan harus mendalami ethnic competition dengan seksama dan ilmiah. Dinamika ethnic competition harus dimanfaatkan sehingga bisa mendorong perubahan dan perkembangan bersama, tetapi bukan dengan menyembunyikan kompetisi etnis.


[one_fourth]Integritas identitas primordial tak menghalangi persahabatan kita dengan orang lain[/one_fourth]

Kalau kita tidak gamang lagi atas identitas primordialnya dalam berpolitik. Itu pertanda kemajuan, bukan kemunduran. Bukan pula kompromi atau sikap akomodatif sesaat untuk kepentingan Pemilu.  Identitas primordial tak mungkin disembunyikan selama kita berhubungan dengan orang lain. Integritas identitas primordial tak menghalangi persahabatan kita dengan orang lain. Orang cenderung lebih yakin dan percaya kepada orang dengan integritas pribadi yang jelas ketimbang abu-abu, apalagi yang tersembunyi (atau sengaja ditutup-tutupi karena sesuatu hal). Lagipula, apa sih yang tersembunyi dalam dunia yang serba terbuka sekarang ini?

“Mari berani maju dengan integritas jatidiri yang jelas dan kuat,” kata Robinson Ginting Munthe.


2 COMMENTS

  1. Setuju sekali BPSM, dari nama pun kita harus bisa mempetahankan dan mempopulerkan Karo. Bukan hanya tidak salah tetapi betul memang keharusan juga. Apa yang kita tidak bikin untuk survival Karo enda ndai. Kita biasakan dengan nama-nama itu, harus kita yang mendahului dan membiaskan. Daerah ulayat Karo Deliserdang kembali ke aslinya Karo Jahe, Usahakan menghiangkan nama yang diberi oleh pendatang atau peninggalan kolonial, seperti Deleserdang, yang pada pokoknya adalah daerah ulayat Karo. Dengan nama Deliserdang seakan-akan bukan daerah ulayat Karo, sungguh betul.
    Bujur
    MUG

  2. Menarik kajian MUG.
    Tapi, saya hanya sedikit membahas di Deli Serdang.
    Mengapa saya selalu katakan saya anak Urung Senembah dan orang Karo Jahe?
    Banyak teman-teman katakan, “dengan menyabut kata ‘KARO JAHE’ saya sudah memecah dan membedakan Karo.” Tetapi, saya punya pandangan berbeda. Dengan menyabut KARO JAHE itu sebagai penegasan saya bukan suku tak bertanah ulayat(pendatang) di pesisir, tetapi saya orang Karo yang keberadaanya di pesisir dan saudara saya lainnya di Gunung.
    Saya selalu menolak asal saya dari Sarinembah. Mengapa? Sebab, bagi saya itu hanya tradisi yang tidak lebih sama dengan SRB yang membuat Karo itu kemudian menjadi pendatang di pesisir.
    “Apalah arti sebuah nama”, kata banyak orang. Ingat dan harus disadari, satu-satunya yang membuat Kab. Karo sekarang ini tidak bisa dikuasai sepenuhnya ialah, karena namanya “Kabupaten Karo.” Coba kalau namanya “Kab/kota Berastagi, Mardinding, Singalor Lau, dll” maka akan sangat mudah dikuasi pendatang seperti halnya Kota Medan, Deli Serdang, Binjei, Langkat, dlsb. Coba, andaikan namanya Karo Jahe, Karo Deli, Karo Serdang, Karo Singalor Lau, Karo Julu, Karo Binge, dll pasti susah dikuasai asing dan generasi muda Karo yang idiot sekalipun tahu itu tanah Karo punya.
    Jadi, stop haramkan Karo Jahe, Karo Binge, dll sebab itu bukti eksistensi Karo dan luas wilayah adat Karo.
    Mejuah-juah.

Leave a Reply