Cerpen: BUAH BARA

0
165

Oleh: Ita Apulina Tarigan (Surabaya)

 

ita-13.jpg cerpen ita apulina 2Pesawat mendarat mulus di bandara Kuala Namu. Paguh menghela nafasnya. Setitik air mata jatuh di ujung hidungnya. Setelah 20 tahun berlalu, inilah pertama kalinya dia kembali ke kuta kemulihen. Pulang tidak terencana, karena Nande memintanya pulang untuk memberi penghormatan terakhir kepada Bapa.

Iya, 2 hari yang lalu bapa meninggal dan nande mengabarinya sambil terisak-isak. Paguh paling tidak tahan mendengar Nande menangis. Tanpa rasa duka sedikitpun, dia mengiyakan permintaan ibunya. Dan, Paguh sekarang sudah siap menghadapi semuanya.

Begitu turun dari taxi, Paguh tercenung di pintu pagar. Teringat masa kecil dan remaja yang dihabiskannya di rumah ini. Pohon nangka di sudut halaman masih ada. Di bawah pohon itu Lukas, abangnya, pernah meninju perutnya karena rebutan mangga.

Suara tangisan terdengar dari dalam rumah. Bibi Uda, adik Bapa tergopoh-gopoh menyambutnya sambil mengembangkan tangannya.

Anakku, anakku, nde anakku, lanai kel kam jumpa ras bapandu,” tangisnya sambil menaruh kedua telapak tangan di atas kepalanya yang bertudung. Paguh berjalan pelan dan menepuk-nepuk punggung bibi udanya. Mulutnya kelu. Dia terus melangkah ke dalam rumah.

Tangisan semakin ramai, Paguh memeluk nande sampai lama sekali. Nande lemas di pelukan Paguh.

“Udah Nande, acara masih panjang. Aku sudah pulang, minumlah dulu,” kata Paguh lembut sambil menyodorkan segelas air.

Nandenya diam dan meminum air dingin itu. Air matanya terus berjatuhan. Paguh tahu, bertemu Nande adalah perjuangan dan beban yang paling berat. Abangnya Lukas menatapnya sekilas ketika mereka bersalaman dan kakaknya Mira melolong-lolong dalam pelukannya menceritakan kepedihan hatinya karena kepergian bapa.

Dia diam saja ketika orang-orang memberinya sarung. Duduk bersandar di dinding. Duduk di dekat Nande. Sekalipun dia tidak mendekati peti tempat bapa berbaring.

* * * *

Wajah kaku Paguh tetap tercetak di jambur yang penuh dan ramai ini. Sepupunya berbisik-bisik melihat diam dan dinginnya sikap Paguh. Para bibi mengatakan, Paguh sedang dalam kedukaan mendalam karena tidak sempat bertemu Bapa, apalagi terakhir mereka bertengkar hebat dan Paguh pergi meninggalkan rumah.


[one_fourth]Paguh hanya menatap, bertanya dalam hati, mengapa mereka menangisi bapanya.[/one_fourth]

Tiga orang sudara perempuan Bapanya itu, semuanya mirip dengan Paguh. Diantara mereka bertiga hanya Paguh yang mirip Bapa. Wajar kalau selalu bertengkar, sekali Bibi Tua pernah berkata santai sambil memutar-mutar suntilnya yang sebesar bola pingpong. Terkadang musik tiup memainkan lagu-lagu duka rohani. Musik yang mendayu-dayu menambah sendu dan membuat beberapa orang tersedu-sedu. Paguh hanya menatap, bertanya dalam hati, mengapa mereka menangisi bapanya. Sungguhkah mereka menangisi bapa atau menangisi diri sendiri?

Ketika Paguh duduk di kelas empat sekolah dasar, bulang bapa Nande meninggal di desa U. Nande adalah anak perempuan tunggal dan kesayangan Bulang. Bulang sangat mengemansipasi Nande, sampai-sampai Nande dikuliahkan Bulang hingga tammat dan kemudian bekerja.

Seperti juga Bulang, Paguh sangat bangga pada Nande. Bisa dikatakan, di kecamatan itu, yang sebaya dengan Nande, hanya dia seorang yang sekolah tinggi. Sehingga ketika bulang meninggal, Nande sangat terpukul dan menangis berhari-hari.

Suatu senja, setelah seminggu kematian Bulang, Nande menangis sambil berkata-kata meluapkan kerinduan dan penyesalan kepada Bulang. Bapa yang baru saja tiba di rumah mendapati Nande menangis menjadi gusar. Paguh tidak ingat apa yang dikatakan Bapa, satu hal yang tidak bisa dilupakannya Bapa menghantam pintu dapur dengan gelas kaca besar. Kontan berkeping-keping berserakan.

Paguh terisak pelan di bawah meja makan. Sejak itulah, Paguh memutuskan membenci Bapa, walaupun Nande sering bilang Bapa sangat mencintai Paguh.

Bunyi gong orkestra Gendang Lima Sendalanan menghentak Paguh dari lamunannya. Entah mengapa, sejak dulu jika mendengarkan musik Simalungen Rayat, serasa ulu hatinya diperas dan perasaannya berayun-ayun mengikuti irama sarunai.

*****

Setelah ujian akhir SMP, menunggu tiba masa SMA, Paguh berlibur ke rumah Nini, yang kerap sendirian sejak Bulang meninggal. Seingatnya, liburan di kampung U adalah masa-masa terindah dalam hidupnya, saat dia menjadi manusia merdeka lepas dari mata elang Bapa. Banyak teman, bebas berkeliaran di ladang, sungai dan kesain. Yang paling penting, Nini tidak pernah memarahinya walaupun dia sering terlambat bangun atau terlambat kembali ke rumah.

Liburan terakhirnya ke kampung U yang akhirnya mengubah jalan hidupnya. Nande bilang, daripada luntang lantung di kota lebih baik menemani Nini, nanti seminggu sebelum sekolah kembali ke Medan.

Sungguh gembira hatinya menuju kampung. Bapa hanya mengantar sampai stasiun bus, Paguh merasa menjadi lelaki dewasa ketika bus mulai menyusuri jalan berliku menuju Kabanjahe.

Sore itu, Nini menyambutnya dengan sangat gembira. Wajahnya bersinar. Dielusnya kepala Paguh penuh rasa sayang. Paguh suka dengan bau Nini, bau sirih yang harum dan bau tanah yang meruar dari kakinya. Menurutnya, itulah kemerdekaan hidup.

Malam itu, Paguh berbaring tidak sabar menunggu pagi tiba. Besok adalah hari penuh sukaria bertemu kembali dengan sahabat-sahabat kampungnya.

Matahari cerah. Mereka berkerumun di depan rumah Nini. Paguh bergegas menghabiskan sarapannya, sambil berlari meminum air putih.

“Eiii… hati-hati,” teriak Nini ramah.

cerpen ita apulinaMereka langsung menuju sungai. Iwan bilang, nanti sehabis mandi, mereka akan memanggang ayam yang tadi malam diambil diam-diam dari ladang Bapa Iwan. Anak-anak lainnya cekikikan menceritakan pengalaman mereka tadi malam untuk mendapatkan ayam remaja yang sekarang terikat di bawah pohon, di tepi sungai itu. Surga bukan?

Setelah seharian menghabiskan waktu di sungai, Paguh dan teman-temannya mulai bosan. Morris bilang, mereka bisa makan enak besok kalau mau berusaha sedikit. Sambil mengunyah jagung bakar, Iwan menyuruh Moris menerangkan pada semuanya apa yang akan dikerjakan besok. Sepertinya hanya Paguh yang tidak paham.

“Sudah, ikut saja nanti malam, aman, aman ….” hasut Iwan.

Ya, malam itu adalah awal segalanya. Morris merencanakan mencuri ayam Nande Riah Ate yang sudah pikun. Rencana mereka sebenarnya sangat sempurna jika seandainya mereka tahu kalau malam itu anak Nande Riah Ate yang polisi datang menginap.

Ayam yang ribut di kandang membuat si polisi terbangun. Malam itu dia menembakkan senjatanya ke udara, Paguh dan teman-temannya kocar kacir. Dalam gelap, kepala Paguh menghantam telak roda kereta lembu dan pingsan.

Paguh terbangun karena wajahnya disiram air dingin. Beberapa orang mengerubunginya. Ini rumah Nini. Paguh melihat Nini terisak di sudut jabu. Kelu.

Orang-orang mengatakan Paguh sudah bangun dan Nini bangkit. Tanpa berkata apa-apa, dia memeluk Paguh dan menangis. Menjelang pagi Bapa datang bersama abangnya Lukas dengan mobil jeep tentaranya. Dia memaksa Paguh pulang. Nini menangis pelan. Ketika mereka sudah duduk di dalam jeep, Bapa meninjunya tepat di hidung.

“Anak setan!” desisnya pelan. Lukas nyengir menatap hidungnya yang berdarah. Paguh diam, kemarahan semakin berkobar dalam dadanya. Marah kepada Bapa yang menurutnya semena-mena.

****

Alunan Odak-odak mengembalikan lamunan Paguh ke jambur. Dia tidak tahu sudah berapa lama berdiri bersama Nande dan saudara-saudaranya. Sekarang semua menari, menari menuju peti bapa berbaring. Musik semakin cepat, Paguh tidak mengenali orang-orang yang menyapa dan memeluknya.

Musik berganti dengan suara terompet. Sepertinya sebentar lagi Bapa akan dihantarkan ke pemakaman. Semua orang bernyanyi, berdoa, beryanyi. Paguh hanya meniru saja.

Sungguh, dia melakukan semua ini demi Nande. Hanya untuk Nande. Dia tahu, setelah hari ini, semuanya akan selesai, dan dia bisa kembali lagi ke rumahnya. Rumah?

Paguh tersentak. Apakah rumah yang kutempati dengan Diana adalah rumah yang kurindukan? Lagipula, Diana sudah tidak bersamanya lagi. Paguh tersakiti lamunannya, teringat Diana yang berselingkuh.

“Ya, sebentar lagi proses perceraian kami akan selesai,” bisik hatinya.

Bibi Uda menarik tangan Paguh agar mengambil helaian bunga untuk ditabur ke peti Bapa sebelum ditimbun tanah. Pendeta yang memimpin kebaktian pemakaman terus membaca dari kitabnya. Paguh hanya mengikuti arus.

Dari kemarin, baru kali ini dia memperhatikan benar salib yang bertuliskan nama Bapa, tanggal lahir, tanggal meninggal. Tersentak hati Paguh.

Kenangan membawa Paguh kembali lagi ke kisah lama dan ketidakcocokannya dengan Bapa. Setelah malam pencurian ayam yang gagal dan memalukan itu, membuat Bapa memutuskan Paguh dimasukkan ke sekolah asrama anak nakal. Bukannya semakin baik, Paguh semakin nakal.

Kerap gonta ganti sekolah karena berkelahi. Terakhir, dia memukul pastor kepala yang menurutnya tidak adil menghukum ketika dia bertikai dengan kakak kelasnya. Bapa sangat marah dan terakhir kalinya dia memukul Paguh dengan tali pinggangnya.

Setelah 4 tahun mengembara dari sekolah ke sekolah, akhirnya Paguh tamat sekolah dari sebuah SMA pinggiran yang statusnya tidak jelas. Bapa tidak peduli lagi, tak mau bicara lagi padanya. Berbekal uang dari Nande, paguh memberanikan diri menyeberang pulau dan menjadi anak jalanan.

Hari ini, Bapa dimakamkan dan Paguh tidak akan pernah lagi berbicara padanya atau mendengar suaranya. Helaian mawar yang jatuh ke peti bapa membawa rasa hati Paguh.

****

Pemakaman Bapa selesai dengan sempurna. Semua puas. Kehormatan keluarga terjaga, semua urusan adat lancar.

Paguh berkemas-kemas dalam kamar. Rasanya sudah cukup tinggal seminggu di Medan. Tidak ada lagi urusan yang perlu dikejar.

Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Lukas berdiri sambil melipat tangan,

Mau kemana, jagoan?”

“Pulang,” jawab Paguh tanpa menghentikan kesibukannya.

“Pulang begitu saja?” tanya Lukas.

“Tidak ada yang perlu kukerjakan di sini. Lagipula, banyak yang harus kukerjakan di sana. Kalau ada apa-apa pada Nande, kau tinggal telepon, aku pasti datang,” jawab Paguh sibuk.

“Setelah 20 tahun kau tetap tidak berubah, hanya mementingkan dirimu, semuanya hanya tentang dirimu, pulanglah,” kata Lukas sambil berlalu.

Paguh terdiam. Menurutnya tidak seharusnya Lukas mengucapkan kata-kata kasar padanya. Bukankah dia anak kesayangan Bapa, apa ada yang kurang?

Bapa memanjakannya, selalu didahulukan. Paguh gusar, lalu menuju kamar Nande.

“Sini, Nande mau mengatakan sesuatu padamu,” kata Nande lembut sambil mengusap kepalanya.


[one_fourth]”… Kau keras kepala dan keras hati mirip bapamu …”[/one_fourth]

“Nande harap, kamu masih mau meluangkan beberapa waktu di sini. Ada beberapa hal yang harus kita selesaikan dan harus kita luruskan. Umur Nande mungkin tidak lama lagi. Nande tidak mau meninggalkan kesulitan pada kalian. Kau keras kepala dan keras hati mirip bapamu. Selama 20 tahun ini, dia sangat merindukanmu, tetapi tidak mau mengalah. Dan kau juga tidak kurang keras, tidak mau mengalah pada bapamu. Dia kerap menceritakan kenakalanmu, lalu terkekeh-kekeh geli. Menceritakan masa kecilmu yang selalu ingin tahu, tak habisnya cerita tentang Paguh, yang katanya mirip dengannya… hiks… hiks..uuu..hiks,” tiba-tiba Nande terisak-isak.

Paguh diam, hanya bisa memeluk Nande.

“Nde, istirahat dulu, besok kita masih ada waktu. Sudah malam, Paguh masih di sini,” katanya menenangkan Nande.

Nande tersayang, nande yang selalu mengerti. Walau Bapa tidak pernah lagi bicara padanya Nande selalu mengirimi Paguh uang. Ketika Paguh mengabarkan dia lulus di universitas negeri, Nande terisak-isak di telepon. Nande datang ke kota M dan menyiapkan segala kebutuhan Paguh untuk memulai kuliah.

Paguh tidak pernah tahu dan tidak mau tahu, seperti apa Nande meminta ijin kepada Bapak untuk menemui Paguh. Ketika Paguh wisuda, Nande datang bersama Lukas. Paguh juga tidak pernah menanyakan bagaimana Bapa mengijinkan Nande menghadiri wisudanya.

Ketika Paguh menikah dengan Diana, Nande datang bersama Bibi Uda. Paguh juga tidak pernah menanyakan bagaimana Nande dan Bibi Uda dapat hadir. Baginya, Bapa sudah tidak ada.

Serasa ada palu godam yang tiba-tiba menghantam kepala Paguh. Ada yang hilang, ada yang terlewatkan oleh keegoisan dan kemarahan, teriak hati Paguh. Dia tercekat, terdiam. Pahit, sungguh pahit. Penyesalan selalu datang terlambat.

****

“Sering-seringlah menelepon kami. Apalagi Nande, kau tahu kami selalu ada untukmu,” kata Lukas pagi ini di bandara.

Berkaca-kaca mata Paguh. Abangnya sudah berubah banyak. Sangat dewasa dan bertanggungjawab. Apalagi sejak kehadiran si gadis kecil yang selalu memeluk pahanya. Paguh memeluk kakaknya erat.

“Pulanglah kapan saja kau ingin pulang,” bisik Lukas.

“Terimakasih, Abang. Jaga Nande kita, kabari aku apa saja.”

“Pasti. Tenangkan hatimu. Selesaikan persoalanmu dengan Diana. Selalu ada hari esok. Bapa selalu ada bersama kita. Kau tidak mesti mengunjunginya ke pusara. Di awan-awan yang sebentar lagi kau lintasi itu, diapun ada.”

“Dadaaaag, Pak Uda,” lambai Alemina.

Paguh berbalik dan memeluk gadis kecil itu. Mencium keningnya.

Paguh melangkah tenang menuju penerbangannya. Setelah 2 hari lalu puas melampiaskan tangisnya di pusara Bapa. Dia tahu dia sudah pulang. Dia masih menemukan cinta, pada Nande, pada Lukas, pada Alemina kecil yang mirip Nande.

Leave a Reply