Kolom M.U. Ginting: Ahok Tak Mau ‘Talu Sibujur’

0
178
sanggar 1
Penari Karo di sebuah pagelaran Sanggar Seni Sirulo (Medan)

M.U. GintingLama-lama DPRD ini kelihatan congeknya. Kalau sudah menyinggung kepentingan rakyat, mereka ramai-ramai menentang. Kali ini mereka menentang perubahan dan perkembangan baru, e-budgeting. Ini baru dimulai dan terjadi di Pemko Surabaya dan DKI Jakarta yang sekarang di bawah pimpinan Risma dan Ahok.

Di Jakarta, banyak yang berusaha melengserkan Ahok sekarang. Selain DPRD, termasuk juga berbagai organisasi Islam karena menganggap Ahok ‘kafir’. Alasan-alasan yang sudah kolot dari segi agama atau perpolitikan agama. Politiknya atas dasar agama atau agama dipolitisasi dan dimanfaatkan untuk kepentingan politik.

Usaha-usaha melengserkan Ahok (juga Risma) bertubi-tubi terutama setelah diangkatnya soal e-budgeting. Ini terutama datang dari DPRD yang tidak suka soal budget dibikin terbuka di hadapan rakyat. Tetapi, dukungan rakyat juga besar termasuk dari e-people.

‘Kejujuran dan integritas dipertaruhkan’ oleh Ahok yang terancam dilengserkan. Alternatifnya, pastilah banyak yang setuju kalau misalnya Ahok dijadikan Walikota Medan, karena di Medan memang sangat dibutuhkan orang jujur dan integritas tinggi seperti Ahok.

sanggar 3
Sastrawan Karo (Hujan Tarigan) membacakan puisi-puisi sastrawan Karo lainnya (TariganU) di sebuah pagelaran Sanggar Seni Sirulo (Medan)

Pendiri Kota Medan adalah orang asli daerah ini yaitu Guru Pa Timpus Sembiring Pelawi. Dia adalah orang jujur dan punya integritas tinggi, berasal dari Suku Karo yang introvert, suku ‘talu sibujur‘; artinya yang jujur selalu kalah. Terakhir, Kota Medan banyak dihuni oleh pendatang orang-orang extrovert yang sangat tinggi sifat korupsinya karena stimulasi luarnya, terutama dari suku-suku yang berwatak extrovert.

Seorang professor orang Swedia bernama Alalehto dalam studinya Tahun 2003 bikin kesimpulan tentang orang/kharakter extraversi. Dari satu komentar tentang tulisannya bilang bahwa:  “The extraverts are the most sympathetic persons in his offenders-list”.

Alalehto tulis: “With their outgoing character and social competency they have the possibility to use their extrovert energy to manipulate others.”

Begitu tingginya kwalitas manipulasi ini sehingga yang dimanipulasi bukan hanya tak merasa dimanipulasi, tetapi malah sering masih membela penipunya seperti sering terjadi dalam pengalaman orang introvert Karo. Banyak orang Karo menyedari soal ini dan menamakan fenomena ini dengan istilah ‘talu sibujur‘ itu.

[one_half]Professor Alalehto melanjutkan penelitiannya dalam soal WCC (White Collar Criminality) dia tulis:[/one_half]

“Empirical evidence shows white collar criminlals to be extroverted, being described as particularly calculating. Extraversion is therefor expected to be associated with a higher propensity to commit WCC.”

Pengalaman empiris seperti ini sesuai juga dengan apa yang kita lihat di Indonesia, bahwa WCC ini (korupsi dsb) banyak dilakukan oleh orang-orang extrovert dan juga di daerah-daerah yang didominasi extroversi seperti Sumut.

Di Medan, imemang sangat dibutuhkan orang seperti Ahok, kota ‘panteken‘ (didirikan) orang jujur dan integritas tinggi Guru Patimpus. Pendatang di Medan terkenal korupsinya, tradisi ‘duit pelicin’ sudah mendarahdaging di Medan atau Sumut. Perlu orang kayak Ahok dalam mengurus Kota Medan.

Orang Karo, walaupun suku asli  dan pendiri kotanya, sangat kurang sifat ‘terus terang dan blak-blakannya’ seperti Ahok. Itu salah satu kekurangan orang Karo yang mendasar, sehingga tersisih dari kepemimpinan publik di Medan maupun di Sumut. Perubahan ke narcis positif extrovert sangat perlu  dan dibutuhkan masa kini, terutama sekali bagi suku ‘talu sibujur’ orang Karo.

Kekurangan orang Karo ini yang orang Karo sendiri bilang dengan istilah ‘talu sibujur’ tadi, dimaksudkan berlaku bagi orang Karo sendiri yang selalu menderita kekalahan karena hanya mengandalkan kejujurannya.

Ketika era Patimpus memang harus begitu, manusa umumnya hidup bahagia dengan mengandalkan kejujuran. Sekarang tidak begitu lagi, kejujuran harus diimbangi dengan sifat lain, antara lain ialah ‘terus terang dan blak-blakan’ atau juga sifat ‘narsis positif’ yang telah terbukti  sangat efektif dalam mengorganisasi bisnis seperti Steve Jobs,  atau dalam   pemerintahan seperti Ahok.

Foto-foto dan video berasal dari sebuah pagelaran Sanggar Seni Sirulo di Medan.

Tulisan terkait: Kolom M.U. Ginting: e-Budget Ahok



Leave a Reply