Apatisme Masyarakat Terhadap Pilkada Menuju Titik Nadir

0
212

Oleh: Daud Ginting (Medan)

 

daud gintingUntaian kata-kata ini memang serasa berlebihan, provokatif bahkan bermakna pesimis. Namun, tidak dapat dipungkiri, masyarakat sebagai calon konstituen (pemilih dalam Pilkada) memang sedang dalam posisi tidak yakin terhadap niat baik para calon bupati.

Dalam persepsi masyarakat, umumnya, siapapun yang akan terpilih jadi bupati, nasib masyarakat akan sama saja seperti sebelumnya. Tidak menjadi lebih beruntung atau tidak lebih sejahtera. Menurut masyarakat, siapa pun yang jadi bupati, yang terjadi hanya pengulangan kebiasaan lama. Semunya mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompok bupati yang bersangkutan.

Bahkan dikhawatirkan bupati yang akan terpilih akan tetap asyik dengan mengutamakan pemenuhan kenikmatan pribadinya; baik dengan melakukan korupsi maupun memperkaya kroni-kroninya.


[one_fourth]dianggap paling jitu adalah menerap-kan serangan fajar[/one_fourth]

Apatisme masyarakat ini memang merisaukan bagi para bakal calon bupati yang berkeinginan ikut bertarung di ajang Pilkada yang dilaksanakan akhir Tahun 2015. Bila apatisme masyarakat ini terus berlangsung maka tidak berlaku lagi metode marketing politik modern. Motode ini pada intinya mengandalkan manajemen branding dan popularitas untuk meningkatkan elektabilitas dalam program kampanye. Tetapi, jurus pamungkas yang dianggap paling jitu adalah menerapkan serangan fajar (money politics).

Ironis memang. Suka atau tidak suka, itu merupakan konsekuensi dari dosa turunan yang diwariskan para pemimpin kepala daerah atau gubernur, bupati maupun walikota sebelumnya. Mereka meninggalkan banyak catatan buruk dalam benak masyarakat.


[one_fourth]masyarakat sudah kadung tidak percaya[/one_fourth]

Tidak dapat dihindari lagi, siapa pun yang hendak maju menjadi calon kepala daerah dalam Pilkada yang akan datang perlu melakukan edukasi politik dengan kerja keras untuk menggeser/ merubah kerangka pemikiran (mind set) masyarakat. Namun, proses perubahan itu bukan merupakan pekerjaan yang mudah untuk dilakukan karena masyarakat sudah kadung tidak percaya lagi kepada para politisi yang dianggap busuk.

Inilah yang menarik untuk dicari solusinya. Apa yang kita lakukan?


Leave a Reply