Jubileum 75 Tahun HKBP Kabanjahe

1
327

ngguntur purbaNGGUNTUR PURBA. KABANJAHE. Jubileum 75 Tahun HKBP Kabanjahe dirayakan kemarin [Minggu 8/3] di Gereja HKBP Kabanjahe Jl. Irian (Kabanjahe). HKBP Kabanjahe adalah merupakan sebuah resort (Resort Kabanjahe) yang merupakan bagian dari Distrik X Medan-Aceh. Acara ini dihadiri oleh Bupati Karo Terkelin Brahmana SH, Kapolres Karo AKBP Viktor Togi Tambunan, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Karo Effendi Sinukaban, Plt. Ketua Moderamen GBKP Pdt. Erick J. Barus D.Th serta seluruh warga HKBP Resort Kabanjahe dan para undangan lainnya.

Dalam kata sambutannya, Ephorus HKBP Pdt. WTP Sumarmata MA mengatakan, Tanggungjawab gereja adalah tanggungjawab spiritual dan tanggungjawab sosial. HKBP harus banyak belajar ke GBKP terutama pemberdayaan ekonomi kerakyatan melalui Koperasi CU Pijer Podi Kekelengan yang berhasil dijalankan GBKP dan pertanian dari Tanah Karo.

“Bapak Bupati, bawalah Tanah Karo ke arah yang lebih maju. Erupsi Sinabung bukan bencana tetapi berkat buat Tanah Karo sehingga tinggal diolah bagaimana erupsi Sinabung membawa kebaikan untuk Tanah Karo,” ujar Ephorus.

Pesta Jubileum 75 Tahun HKBP Kabanjahe ini diawali Prosesi Rombongan Pimpinan HKBP, seluruh Parhalado, sintua, anak rantau dan para undangan dari Simpang Empat Jl. Irian menuju Kompleks Gereja HKBP Kabanjahe dengan Pengalungan Bunga dan Penandatangan Prasasti, dilanjutkan dengan Ibadah Minggu dipimpin oleh Praeses HKBP Distrik X Medan-Aceh dan khotbah oleh Ompui Ephorus HKBP Pdt WTP Simarmata MA.

Sebagai thema Pesta Jubileum 125 Tahun HKBP Tampahan ini adalah: “Puji hamu Jahowa, Baritahon GoarNa, pabotohon pambahenanNa (Mazmur 105 :1)”.


[one_fourth]sedang terjadi pergeseran nilai dan kearifan lokal semakin berkurang[/one_fourth]

Bupati Karo Terkelin Brahmana SH dalam sambutannya menyampaikan, saat ini memang sedang terjadi pergeseran nilai dan kearifan lokal semakin berkurang. Ada ketidakpercayaan antara pemerintah dan rakyat, demikian juga antara gereja dan jemaatnya ada gap. Untuk itu kearifan lokal harus terus dipertahankan dan semakin ditingkatkan agar mampu bertahan menghadapi perkembangan zaman.

Terkelin berharap dengan usia HKBP Kabanjahe yang sudah 75 tahun, HKBP semakin matang dan bijaksana dan bersama-sama dengan Pemkab Karo mampu membangun keimanan agar terbina rasa persatuan dan kesatuan antar umat Kristiani sehingga terjalin hubungan yang harmonis antara sesama umat.

“Mari bersama menjaga keutuhan Tanah Karo terutama masalah keimanan,” ujar Terkelin.


[one_fourth]HKBP telah turut berperan dalam mewarnai kehidupan di Karo[/one_fourth]

Kapolres Karo AKBP Viktor Togi Tambunan dalam sambutannya menyampaikan bahwa HKBP telah turut berperan dalam mewarnai kehidupan di Karo yang mayoritas warganya beragama Kristen. Namun masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Untuk itu, warga HKBP harus mendewasakan iman dengan menjadi garam dan terang bagi lingkungan sekitar. Dalam kehidupan sehari-hari harus bertindak dengan mencerminkan kedewasaan iman. Viktor berharap dengan jubileum 75 tahun HKBP dapat membawa perubahan ke arah yang lebih baik dan hidup para Jemaat harus memuliakan Tuhan.

Ketua Panitia Pelaksana (Nasib Sianturi) sebelumnya telah menyampaikan, untuk Jubileum 75 Tahun HKBP Kabanjahe ini, telah dilaksanakan berbagai kegiatan dan syukuran ( 7-8 Maret 2015). Adapun maksud dan tujuan dari kegiatan jubileum adalah untuk mensyukuri pembangunan lantai dua sopo (gedung serba guna) HKBP Kabanjahe.


1 COMMENT

  1. “Bupati Karo Terkelin Brahmana SH dalam sambutannya menyampaikan, saat ini memang sedang terjadi pergeseran nilai dan kearifan lokal semakin berkurang.” bupati Karo dalam 75 th jubileum HKBP Kabanjahe.

    Bagus juga ini kalau bupati Karo Terkelin sudah menganalisa nilai dan kearifan lokal semakin berkurang. Pertama memang harus ada PENGAKUAN terhadap kekurangan, baru bisa melangkah ke perbaikan apa yang diakui itu. Dan selama ini juga tak ada penilaian seperti itu. Bravo pak bupati.

    Kearifan lokal dapat diartikan sebagai nilai-nilai budaya yang sudah teruji kebaikanya dan kegunaannya dalam suatu masyarakat. Jadi untuk mengetahui suatu kearifan lokal di suatu wilayah tertentu, maka kita harus memahami nilai-nilai budaya yang ada di dalam masyarakat wilayah tersebut.

    Di Karo, kearifan lokal tak terpisahkan dari sangkep nggeluh Karo, yang terdiri dari 3 unsur yaitu anak-beru, senina dan kalimbubu. Ini juga adalah 3 unsur mutlak dalam demokrasi etnis Karo dan dalam gotong royong Karo. Demokrasi etnis Karo adalah demokrasi horizontal dengan hierarki bergilir dan adil.

    Anak-beru ialah kolektif atau golongan keluarga penerima dara, adalah kolektif pekerja dalam upacara adat Karo. Kolektif ini bertanggung jawab untuk menyelesaikan semua perkerjaan aktual dalam satu upacara adat.

    Senina atau disebut juga sukut, adalah kolektif atau golongan keluarga yang punya hajatan dalam upacara tradisi Karo.

    Kalimbubu ialah kolektif atau golongan keluarga pemberi dara, adalah yang tertinggi dalam hierarki adat Karo, sehingga disebut juga Dibata niidah (Tuhan yang terlihat).

    Mengapa ada pergeseran nilai dan kearifan lokal semakin berkurang?

    Jawaban yang paling tepat ialah karena perkembangan atau semakin ketatnya persaingan etnis (ethnic competition). Kompetisi etnis ini terutama sangat sengit di Sumut. Di Karo juga semakin sengit dengan meningkatnya migrasi pendatang ke Karo. Contoh daerah yang tertimpa malapetaka ini ialah Dairi Pakpak atau juga terlihat di Simalungun terutama ibukotanya Siantar. External domination bikin kearifan lokal luluh lantak atau lenyap punah.

    “Given that some ethnic groups (especially ones with high levels of ethnocentrism and mobilisation) will undoubtedly continue to function as groups far into the foreseeable future, unilateral renunciation of ethnic loyalties by some groups means only their surrender and defeat – the Darwinian dead-end of extinction. The future, then, like the past, will inevitably be a Darwinian competition in which ethnicity plays a very large role.” profesor Kevin MacDonald dalam tulisan Genetic Interests of Ethnic Groups.

    Jadi bagi orang Karo berlaku kebersamaan dan kesetiaan sesamanya dalam menghadapi persaingan yang tak terelakkan ini. Kalau kebersamaan dan kesetiaan sesama Karo ini terganggu, atau karena satu atau lain hal diabaikan oleh orang Karo dalam persaingan itu, berarti menyerah dan menuju kekalahan. Atau akan menemui batas ujung kepunahan.

    Orang-orang pendatang di Karo selalu disambut oleh orang Karo, tetapi tidak harus unilateral renunciation of ethnic loyalties. ‘Minorities should be welcomed but they should not be able to remake society in their own image’. Bagi pendatang masih tetap harus diberlakukan ‘dimana kaki berpijak disitu langit dijunjung’. Bagi Karo harus tetap mempertahankan dan mengembangkan kearifan lokal Karo.

    Persaingan etnis adalah alamiah, jadinya spertinya kita harus melawan human nature dalam menangani persaingan etnis ini. Kita harus mengakui ini, baru bisa menghadapinya. Kita harus mengerti juga bahwa tiap etnis punya mobilitas berlainan, begitu juga inteligensinya dan kesetiaan etnisnya sangat berbeda dari etnis ke etnis seperti dalam penjelasan MacDonald diatas.

    MUG

Leave a Reply