Makam Pendiri Kota Medan Terlantar

1
369

Laporan: Salmen Sembiring (Medan)

 

Salmen 1Setelah sekitar 45 menit perjalanan, rombongan Karo Tracker Community (KTC) tiba di Kecamatan Hamparan Perak (Kabupaten Deliserdang) [Minggu 8/3]. Rumah-rumah warga yang memiliki palas mulai tampak di kiri dan kanan jalan. Sedang  latar belakang pemandangannya berupa tanaman kelapa dan pisang. Sesekali terlihar tanaman muda. Setelah menanyakan ke beberapa warga, kita menuju Desa Lama, tempat dimana makam Sang Pendiri Kota Medan berada.

10 menit dari Hamparan Perak, rombongan mulai masuk ke Desa Lama. Jalanan begitu sempit. Ada juga warga, yang kita Tanya, tidak mengetahui keberadaan makam putra kebanggan Suku Karo itu. Tapi, kebanyakan warga Desa Lama mengetahuinya.

Kita diarahkan ke suatu tempat dimana jalannya belum beraspal.

“Kebun pisang yang rimbun, itu sebagai tanda jalan menuju makam,” ujar seorang perempuan dari Suku Banjar.

Rombongan menelusuri jalan setapak di kebun pisang. Jalan menuju makam harus melalui ladang warga. Tidak ada jalan umum menuju makam. Akhirnya, tim menemukan makam Guru Patimpus Sembiring Pelawi, founding father-nya Kota Medan.

salmen 7Makamnya berupa gundukan tanah setinggi sekitar 30-40 cm dengan panjang sekitar 3-4 m. Tidak ada nisan atau vas bunga. Ia hanya ditandai dengan tumpukan 2 batu di sisi kepala dan kakinya yang menunjukkan arah Utara dan Selatan. Di sebelah Timur ada serumpun bambu dan pohon petai cina. Ada juga tunggakan pohon yang mulai buruk di pinggir makam. Tampak juga taburan bunga yang mulai kering di atas makam. Di sebelah Barat Daya ada tumpukan belasan batu kali. Juga ada tumbuhan depuk-depuk yang tumbuh subur.

Orang Medan hanya mengenangnya sebagai pendiri Kota Medan. Tidak lebih dari situ. Ketika tugas mendirikan selesai maka selesai juga ingatan akan orang itu. Demikianlah sadisnya kehidupan di era modern ini, dan semua orang akan demikian. Tapi, sebagai bangsa yang beradab, orang Karo seharusnya malu dengan situasi ini. Demikian juga halnya dengan orang-orang yang hidup di atas perkampungan yang didirikan lebih dari 400 tahun lalu.

Orang-orang Melayu yang kitas ajak bicara di sini juga tidak dapat banyak bertindak untuk makam. Bahkan, informasi menuju makam tersebut juga hanya untaian pita-pita merah yang disangkutkan pengunjung sebelumnya di pokok pisang. Jangan harap ada plang informasi.

Setelah mengajak pekebun di pinggir makam bercakap-cakap, ternyata ia pasrah terhadap apa yang akan dipikirkan dan dilakukan pemerintah. Ketika kami meminta warga mengusulkan ke pemerintah agar makam diperbaiki, ia langsung mengelak seperti manusia tanpa harap.

Salmen 10Kuburan itu berada di pinggiran kebun warga yang ditanami terong dan kacang-kacangan. Di sebelah Utaranya adalah kebun pisang milik orang Tionghoa. Secara administratif makam ini berada di wilayah pemerintahan kabupaten Deliserdang. Namun, sesungguhnya Kota Medanlah seharusnya yang lebih merasa memiliki. Jadi, pemerintah Kota Medan seharusnya juga gigih untuk memperbaiki makam ini agar tidak seperti kacang lupa kulit. Masa orang-orang hanya menikmati buah tanpa merawat pohon?

Beberapa anggota rombongan mengambil foto dokumentasi. Sebagian dari mereka mengatakan ini lebih sadis daripada kuburan manapun diantara putra Karo.

“Tidak ada lagi makam orang Karo separah ini,” ujar seorang diantaranya.

Bahkan pekebun yang menyatakan dirinya bermarga Barus (salah satu merga Suku Karo) itu juga merasa miris dengan situasi makam itu.

“Masya keluarganya juga tidak memiliki niat untuk memperbaiki,” ujar Barus.

Apakah kita harus menunggu pemerintah atau perlu sebuah gerakan pengumpulan dana untuk memperbaiki makam ini?

Berdasarkan diskusi dengan sesama anggota tim KTC, ada juga masyarakat Karo yang meyakini makam Guru Patimpus berada di Desa Perbaji (Kecamatan Tiganderket, Dataran Tinggi Karo). Tidak jauh dari makam tersebut diinformasikan warga terdapat telaga tempat Puteri Ijo pernah singgah (mandi) namun tim tidak sempat lagi mengunjunginya.

Satu jam kemudian, Karo Tracker Community kembali meninggalkan makam menapaki jalan berbatu untuk kembali ke Kota Medan.


1 COMMENT

  1. Karo dan Medan berterima kasih atas inisiatif ana-anak muda Karo ini untuk memulai bikin sesuatu untuk memperbaiki keadaan makam ini. Sangat tak patut kalau seorang pendiri kota besar seperti kota Medan sekarang, dibiarkan terlantar tanpa ada ada yang menggubris. Teruskanlah bikin apa saja, setidaknya nisan tanda nama Patimpus Sembiring Pelawi pendiri kota Medan, atau kuburannya dipindahkan ke satu taman makan pahlawan.
    MUG

Leave a Reply