Sanggar Seni Sirulo dan Hari Musik Nasional

0
176

Oleh: Salmen Sembiring

 

Salmen 1Sudah 2 tahun saya tidak lagi bergelut dengan dunia seni Karo. Hari ini [Senin 9/3] tepat Hari Musik Nasional, membuat saya terkenang kembali pada sebuah wadah pelestarian musik lokal, Sanggar Seni Sirulo. Saya ingat betul bagaimana sanggar ini dibentuk pada tahun 2009, yang hanya terdiri dari beberapa mahasiswa Karo dari USU dengan nama Sanggar Najati. Ketteng-ketteng sebagai alat musik wajibnya.

sirulo 10
Sanggar Seni Sirulo saat latihan

 

Ketika berbicara dunia musik Karo, maka kita bisa melihat dua sisi perkembangannya. Pertama, ada kelompok yang mengikuti tuntutan pasar. Tidak sedikit kaset VCD yang menampilkan musik pop, remix, sampai “are-are”. Kelompok ini lebih mengutamakan keuntungan daripada melihat “nilai” dari musik itu sendiri. Namun, ini bukan sesuatu yang perlu ditolak karena merupakan perkembangan musik itu sendiri. Terakhir saya dengar juga telah begitu berkembang musik Jazz Karo.

Kelompok ke dua adalah kelompok kolaboratif. Kelompok ini seperti menyajikan “masa lampau” pada masa “sekarang” ataupun menggabungkan musik tradisional dengan musik modern. Kelompok ini juga sepertinya memiliki kerinduan untuk mengembangkan musik tradisi agar dapat mendapat tempat di masyarakat di tengah-tengah kuatnya pengaruh dan pasar musik modern. Berdasarkan pengalaman saya, ternyata banyak yang merindukan musik tradisi (kolaboratif) di samping banyak juga yang meragukan awalnya.

sirulo 5
Mengajar anak-anak pengungsi Sinabung bermain ketteng-ketteng (Kabanjahe)

Saya ingat penampilan awal-awal Sanggar Seni Sirulo pada peresmian sebuah LSM di Medan. Banyak juga yang mencemooh menyatakan musik seperti itu sudah ketinggalan atau kolot atau tidak sesuai lagi. Namun, Sanggar Seni Sirulo memiliki cara pandang berbeda. Di satu sisi, musik adalah musik, dia tidak lebih dari musik atau lantunan nada. Di sisi lain, musik memiliki “nilai”. Dalam hal ini, seseorang dapat menafsirkan musik sebagai apa bagi hidupnya.

Ada yang menganggap musik sebagai penunjang aktifitas magis (rohani), ada yang mengganggapnya sebagai hiburan (entertainment), ada yang menganggap sebagai pekerjaan, ilmiah, realitas sosial, jiwa, perjuangan dan sebagainya. Sanggar Seni Sirulo tampaknya menganggap seni musik sebagai wujud budaya yang awalnya bisa saja didominasi oleh nilai magis namun dapat diubah menjadi entertainment seperti kebanyakan saat ini.

Itulah dasar Sanggar seni sirulo, membuat yang sakral menjadi awam dan dikemas secara ringan sehingga dapat dinikmati semua orang tanpa perlu menafsirkan secara dalam terlebih dahulu atau mengaitkannya dengan masa lampau.

Setahun Sanggar Seni Najati berjalan, ada kesepakatan untuk mengubah namanya menjadi Sanggar Seni Sirulo. Hal ini berkaitan dengan dikukuhkannya Sirulo Community Mediation (SCM) sebagai sebuah LSM resmi dengan Sanggar Seni Sirulo sebagai salah satu unit kegiatan (usahanya).

sirulo 6
Ketua Sanggar Seni Sirulo (Ita Apulina Tarigan) (paling kanan yang juga Pemimpin Redaksi SoraSirulo.com terkadang ikut juga bermain musik dalam pertunjukan selain bekerja sebagai assisten sutradara pertunjukan.

Kata Sirulo juga dipandang lebih awam, karena berarti milik umum. Sejak saat itu, Sanggar Seni Sirulo kebanjiran “pesanan”. Sepertinya banyak yang minat akan seni Past and Present in the Present ini. Meskipun banyak yang “memesan”, Sanggar Seni Sirulo tidak lupa bahwa spirit sanggar ini adalah melestarikan seni tradisional. Karena itu, sering juga melangsungkan pertunjukan seni musik dengan swadaya sendiri. Seperti yang dilakukan saat pertunjukan di Kesain Neumann (Medan). Selain untuk memperjuangkan penyelamatan situs sejarah Benteng Putri Hijau di Delitua juga menghibur pengungsi korban erupsi Sinabung  Tahun 2010.

Terakhir, Sanggar Seni Sirulo sering mengikuti festifal seni tradisional tingkat Sumut, tour ke beberapa kota di Sumut (Medan, Binjai, Berastagi, Siantar) dan menampilkan seni tradisional Karo pada acara kerja tahun (pesta tahunan kampung).

Kehadiran Sanggar Seni Sirulo di kerja tahun menambah khasanah seni musik yang biasanya hanya menarikan “lagu gendang”, sedangkan Sirulo menampilan musik gendang itu hadir nyata. Tidak hanya ke desa-desa, bahkan Sirulo juga memiliki kesempatan menampilkan seni musik Karo di salah satu mall besar di Kota Medan.

Mungkin tidak hanya Sirulo saat itu, juga ada beberapa sanggar lain yang bergema seperti sanggar Ersinalsal, sanggar Karo Indonesia dan lainnya. Di tingkat internasional, kita dapat mendengar gaung seni musik Karo oleh sanggar Tartar Bintang di Eropah, khususnya Belanda.

sirulo 14
Sang sutradara Juara R. Ginting yang kadang menyutradarai pertunjukan Sanggar Seni Sora Sirulo secara langsung, dan terkadang menyutradarainya lewat webcam dari Belanda dengan bantuan assisten sutradara Ita Apulina Tarigan.

Dari semuanya ini, saya melihat begitu banyak rupanya pemuda yang meminati musik tradisi Karo. Mereka hanya belum mengenal atau masih belum memiliki akses untuk mempelajarinya atau terpisah satu sama lain karena belum memiliki wadah yang menyatukan. Tidak hanya lelaki, beberapa perempuan yang teramat jarang pada Suku Karo bermain musik, ternyata dapat memainkan musik tradisional Karo di Sanggar Seni Sirulo. Awalnya merasa enggan atau aneh, namun setelah beberapa kali penampilan rupanya menjadi ketertarikan sendiri.

[one_fourth]ketteng-ketteng bukan sesuatu yang rumit dipelajari[/one_fourth]

Mengapa perempuan juga dapat belajar apa saja yang mereka ingini layaknya ilmu lain yang dapat dipelajari siapa saja? Seperti saya sendiri yang dari awal sampai sekarang hanya dapat memainkan musik tradisi Karo yakni ketteng-ketteng. Perempuan lain juga seperti itu, ketteng-ketteng bukan sesuatu yang rumit dipelajari bagi mereka. Sebagaimana bang Juara R. Ginting pernah menulis di sebuah kolomnya dengan judul “Ketteng-ketteng: Mudah dan Murah”.

Saya tidak dapat bergabung dengan kelompok musik tradisi lagi karena bekerja jauh di luar Medan. Namun, harapan saya pemuda Karo terus kreatif untuk melestarikan, mengembangkan, kolaborasi, innovasi dan sebagainya dalam khasanah musik Karo dengan munculnya kelompok-kelompok seni tradisional. Tentunya gaungnya tidak hanya akan terbatas di Sumut tapi juga nasional.

Maju terus musik tradisional Karo!



Leave a Reply