Kolom M.U. Ginting: HABIS TEMPAT UNTUK SEMBUNYI

0
121
Mila
3 Artis Sanggar Seni Sirulo (Karmila Kaban, Salmen Sembiring dan Erna br Ginting)

M.U. GintingKelihatannya DPRD negeri ini sudah tak ada kerjaan atau tak ngerti kerjaannya. Kapan pikirannya muncul untuk membangun negeri ini, ya? Belakangan ini sudah jadi kebiasaan aneh juga pada ngadu ke Polisi/ Bareskrim. Kayaknya ini juga jadi hobbi orang-orang tertentu. Apakah proses perkembangan negeri ini harus menjalani proses aneh-aneh ini?

Walaupun proses perubahan negeri ini (dari diktator ke demokrasi) dibandingkan dengan negeri-negeri lainnya yang sama arahnya seperti Soviet, Yugoslavia, Konggo (Kinshasha), Kambodia, Irak, dll. jelas Indonesia masih lebih ‘ringan’ pengorbanannya maupun perpecahannya.

Dalam hal pencolengan uang dan kekayaan negara (rakyat) dalam proses itu di Soviet adalah pencolengan dan perampokan terbesar dalam sejarah dunia. Dengan runtuhnya negara Soviet maka seluruh kekayaan negara jadi tak bertuan dan semua pada nyoleng dan bikin kekuatan untuk menyoleng.


[one_fourth]kekayaan pindah ke tangan bandit-bandit[/one_fourth]

Pesta besar pencolengan terjadi yang ke dua kalinya setelah perampokan besar-besaran kekayaan kaisar Rusia Tahun 1917 oleh laskar Lenin. Di sini harta kekayaan oleh Lenin dipindahkan ke tangan rakyat. Sebaliknya, pada masa keruntuhan Soviet, kekayaan pindah ke tangan bandit-bandit besar maupun kecil.

Di Indonesia ada status quo kekayaan ketika runtuhnya diktator fasis Soeharto. Tetapi kemudian tumbuh subur korupsi nasional, terbesar dan tersohor dalam sejarah perkembangan negeri berkembang karena SDA banyak dan berlimpah. Hasil hutan dan tambang mengalir ke luar dengan aliran yang sangat deras tanpa kendali selama 10 tahun Reformasi. Semua dikuras dan semua dijual segala yang masih bisa dijual; seperti halnya terjadi pada banyak perusahaan negara. Korupsi merupakan kombinasi dari semua aliran kekayaan itu.


[one_fourth]tempat-tempat bercokol WCC (White Collar Criminals)[/one_fourth]

Pemerintahan Megawati kemudian bikin KPK untuk mengimbangi semua kejahatan white collar ini. Badan ini telah banyak bikin kalang kabut para koruptor dan dalangnya. Mereka ini di mana-mana bersarang terutama di tempat-tempat basah institusi negara. Tak terkecuali badan-badan perwakilan rakyat seperti DPR dan DPRD seluruh negeri adalah merupakan tempat-tempat bercokol WCC (White Collar Criminals).

KPK telah bikin perang cicak dua kali, karena institusi polisi juga dibikin jadi tempat basah bersamaan dengan euforia kebebasan polisi dari kekuasaan dan cengkraman militer era sang diktator. Perang cicak yang terakhir masih  belum tuntas sepenuhnya walaupun sudah banyak korbannya (pelengseran dari jabatan).


[one_fourth]ada kebanggan sedikit dalam soal ini[/one_fourth]

Dalam perang cicak dan perkembangan maju demokrasi serta keterbukaan, Indonesia bisa dikatakan negara nomor 1 di dunia, jika dibandingkan dengan negara maju sekalipun. Hebat memang. Tak salah kalau ada kebanggan sedikit dalam soal ini.

Internet dan Media Sosial adalah unsur penolong terpenting dalam semua perkembangan yang positif negeri ini. Rakyat Indonesia semakin pandai dalam menggunakan alat canggih ini. Tak ada kekuatan yang bisa menandingi. Karena itu perkembangan Indonesia dan kemanusiaan ke arah yang positif tak ada keraguan lagi.

Dengan keterbukaan dan transparansi serta dengan mengikutkan jutaan rakyat, WCC akan gulung tikar. Tak ada tempat gelap untuk bersembunyi, atau untuk menyembunyikan kegelapan, begitu kata whistle blower Snowden, perintis terkemuka dalam soal kegelapan Abad 21. Betul sekali.


Leave a Reply