Kolom M.U. Ginting: SUDAHLAH

0
145
kbb
IlustrasiĀ± Darul Kamal Lingga Gayo

M.U. GintingWasekjen Partai Golkar versi Munas Bali Ali Mochtar Ngabalin yang juga mengaku pengurus bagomobe suku Bugis Makassar, Papua, mengatakan: “Sudahlah jangan ada kekerasan. Dalam acara di televisi Yorrys tuh kalah berargumentasi, maka dari itu cari tempat lain yang tidak live biar kita berargumentasi, jangan kita pakai cara kekerasan.”

Kalau kalah berargumentasi jangan lantas pakai kekerasan, jelas tak akan menyelesaikan soal, malah tambah ruwet. SARA, Premanisme, sudah berlalu, adalah sisa abad lalu. Sisanya memang masih ada dan dipakai oleh sisa pemikir lalu pula. Berdebat tidak selalu bisa menang, terlebih bagi orang-orang yang selama ini lebih memakai kekerasan dari pada pakai mulut dan diskusi. Orang-orang ini tak cukup persediaan bekal untuk berdebat apa saja.


[one_fourth]Diskusi dan debat bisa diteruskan di internet[/one_fourth]

Tetapi kalau kalah debat di tempat terbuka dan langsung berhadapan, belum tentu merupakan kekalahan yang menentukan. Diskusi dan debat bisa diteruskan di internet, lebih mendalam dan lebih luas yang bisa terlibat dan mengikuti. Semakin luas semakin terlihat kebenaran yang tahan uji.

Ini mirip dengan mencari kebenaran dalam proses pembaruan satu ilmu pengetahuan. Begitu tak ada lagi argumentasi atau bukti kebalikan dari kesimpulan akhir itu, berarti sudah benar. Ini jelas tak bisa dicapai dengan premanisme atau kekerasan lainnya. Dengan premanisme dan kekerasan yang didapat hanyalah kegelapan, artinya yang takut terbuka, artinya tak benar.

Di era diktator Soeharto atau diktator komunis, kebenaran selalu dilindungi dengan kekerasan atau senjata. Orang bilang itu benar karena takut diintimidasi atau dilikwidasi dengan kekerasan oleh penguasa atau oleh premannya. Kebenaran begini tak mungkin lama disimpan, tetapi sempat juga disimpan selama 30 tahun lebih di Indonesia dan di Soviet 70 tahun lebih.

Itu abad lalu, tapi. Abad sekarang lebih cepat keluarnya apa saja yang tak benar. Kegelapan dalam perang suku atau ethnic competition jadi terbuka di hadapan semua orang.

Di era internet dan era whistle blower, tempat-tempat sembunyipun selalu ada lampunya, jutaan lentera rakyat dan bisa serentak dinyalakan seluruh dunia. Luar biasa.


Leave a Reply