Kolom M.U. Ginting: MEMPERKUAT KEARIFAN LOKAL

0
113
arif lokal
Cover buku dari Prof. Dr. Mary M. Steedly mengenai Karo yang judulnya diangkat dari perumpamaan Karo “GANTUNG LA ERTINALI”

M.U. Ginting“Sekarang, bagaimana memperkuat kearifan lokal. Banyak yang telah tergerus oleh budaya luar, oleh suku luar dan oleh banyak hal. Perlu disikapi dan dilestarikan melalui cara-cara yg sistematis. Butuh para pemikir, butuh para pemimpin, butuh cendikiawan, butuh dana, butuh kesadaran bersama. Supaya kelak tidak hanya tinggal nama. Tetapi dapat lestari dan abadi,” tulis Daud S. Sitepu di mailing list Tanah Karo.

Sungguh mengesankan apa yang disimpulkan oleh Sitepu ini. Bagus sekali.

Kearifan lokal, ‘banyak tergerus oleh budaya luar’, tak teragukan lagi dalam ethnic competition. Elit pendatang di Karo bilang sendiri.

“HKBP telah turut berperan dalam mewarnai kehidupan di Karo,” kata Kapolres Karo AKBP Viktor Togi Tambunan seabgaimana diberitakan oleh Sora Sirulo.

“Mewarnai kehidupan di Karo” adalah usaha atau unsur terpenting dalam ethnic competition ‘natural selection’ Darwin. Di sini, soal pendatang mengubah ‘image’ penduduk setempat.  MacDonald telah bikin analisa soal ini, dia bilang: ‘Minorities should be welcomed but they should not be able to remake society in their own image’. Yang betul ialah ‘di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung’.


[one_fourth]melalui cara-cara yang sistematis[/one_fourth]

Jangan mengubah atau merongrong kearifan lokal. Tetapi supaya kearifan lokal ini dapat lestari, ‘perlu disikapi melalui cara-cara yang sistematis’. Betul sekali dan inilah yang aktual sekarang.

[box type=”shadow”]

Pertama, aktif dan giat, berbicara maupun bertindak bikin keaktifan apa saja, karena sikap ini yang datang dari para pesaing yang selalu mengalahkan kita.

Ke dua, solidaritas sesama kita, karena sikap pesaing yang begini juga telah mengalahkan kita.

Ke tiga, feedback sesama Karo, karena ini juga telah dimanfaatkan oleh pesaing kita. Feedback perlu untuk saling menghidupkan semangat, inisiatif serta kreasi.

[/box]

Ini semua dilaksanakan ‘dengan cara-cara yang sistematis’, artinya kapan saja, di mana saja dan setiap orang Karo harus lakukan. Perbanyak yang ikut di media sosial internet, perbanyak inisiatif, perbanyak feedback sesama Karo, sebarkan dan luaskan ke seluruh penjuru apa saja kegiatan Karo misalnya dalam kegiatan kultur budaya.

Tinggalkan sifat tak peduli atau sinik saja. Katakan apa yang harus dikatakan, tulis apa yang harus ditulis, dan sebarkan.

Jika hanya diam tak akan ada perubahan. Atau lebih jelek lagi ialah kita yang diubah oleh orang lain.


Leave a Reply