Pijer Podi (2): Motto Suku Karo

3
968

Oleh: Bastanta P. Sembiring (Medan)

 

gerat
4 merga yang menempati 4 jabu suki di rumah adat Karo berhubungan satu sama lain sebagai Sembuyak Rumah (Bena Kayu), Anak Beru Rumah (Ujung Kayu), Kalimbubu Rumah (Lepar Bena Kayu), dan Senina Rumah (Lepar Ujung Kayu). Sembuyak dan Senina harus dari 2 urung yang berbeda sehingga mereka juga dari merga yang berbeda pula (Foto: Juara R. Ginting)

bastantaSemboyan ataupun motto yang diciptakan oleh satu komunitas, ataupun dijulukkan oleh orang-orang luar, tentunya memperhatikan aspek internal dari komunitas tersebut. Sebagai contoh, julukan Bumi Turang untuk Taneh Karo ataupun pijer podi sebagai motto dari Kabupaten Karo. Mari kita merenung sejenak. Dapatkah kita katakan pijer podi adalah motto pemersatu Suku Karo sejak dahulu hingga sekarang dan juga untuk hari esok?

Coba kita perhatikan sangkep nggeluh Kalak Karo”, yakni: Merga Silima, Tegun Siempat, Tutur Siwaluh, dan Perkade-kaden Sisepuluhdua. Sangkep nggeluh ini telah dimiliki setiap orang Karo ataupun yang telah dikarokan sejak dahulu.

Artinya, tidak ada orang Karo atau yang telah dikarokan yang tidak terangkul di dalam sangkep nggeluh ini. Begitu kita dilahirkan sebagai orang Karo atau dikarokan, maka kita telah berada di dalam rangkulannya.

[box type=”shadow”]

Kita setuju dasar dari tatanan sosial Suku Karo adalah sangkep siempat ataupun tegun/ terpuk siempat; 1. Sembuyak, 2. Anak Beru, 3. Kalimbubu, dan 4. Senina.

[/box]

Kita ambil satu contoh aplikasinya pada runggu (rapat) pada hajatan/ upacara adat, misalnya. Setiap orang Karo ataupun yang dikarokan akan mengalami semua posisi tersebut. Harus kuh (lengkap) sangkep nggeluh siempat ini. Jika salah satu dari keempat tiang ini tidak hadir, maka bangunan akan miring bahkan bisa runtuh. Demikian juga dalam runggu, jika salah satu tegun (kelompok) tidak ada, maka runggu menurut adat Karo tidak bisa dilangsungkan. Tidak percaya?


[one_fourth]kita mulai saja runggu ini sebab ….[/one_fourth]

Coba perhatikan misalkan perjabun (perkawinan) secara Karo di tanah rantau. Apakah dalam runggu untuk merencanakan hajatan tersebut salah satu pihak keluarga dapat mengatakan “kita mulai saja runggu ini sebab Anak Beru kami jauh di Taneh Karo sana”? Tentu tidak.

Pastinya, diusahakan agar setiap tegun (4 terpuk) itu hadir. Setidaknya dicarikan yang dapat mewakilinnya. Artinya, tiang harus lengkap empat. Bukan dua atau pun tiga. Harus empat!

Jadi, nyata sekali implementasi pijer podi ini pada kehidupan masyarakat Karo melalui sangkep nggeluh. Karena itu, tidaklah mengherankan jika orang Karo mengatakan: “Kam kap aku. Aku kap kam” atau dalam bahasa Indonesianya, “Aku adalah engkau dan engkau adalah aku.”

Ini sebagai gambaran betapa eratnya, kokohnya, dan indahnya persaudaraan Karo itu. Pijer podi memenuhi syarat sebagai motto hidup Suku Karo.

Namun, bagaimana jikalau keempat tiang utama yang melatari pijer podi itu kurang alias tidak lengkap? Ibarat bangunan, dia akan miring bahkan runtuh, demikian juga tatanan sosial Karo karena tidak ada lagi penopang yang kokoh menyokong sistim kekerabatan masyarakat Karo.

Ola main-main teman, sangkep siempat e harga mati.

BERSAMBUNG

Tulisan terkait: Pijer Podi (1): Arti Kata


3 COMMENTS

  1. Tulisen PBS enda enggo nambah janah memperluas pengertian sangkep nggeluh Karo terutama ibas konsep Rakut Sitelu Karo. Penambahan dan perluasan tulisan-tulian soal-soal tradisi dan filsafat hidup Karo oleh anak-anak muda kita sangat memberikan semangat bagi kelanjutan perjuangan etnis Karo dalam mengubah dan mengembangkan dirinya sebagai suku dan dalam mempertahankan existensi daerah ulayat kultur Karo.
    Maju terus anak-anak muda dan generasi muda Karo.

    MUG

  2. Saya berharap tulsan tentang budaya, sejarah dan serta hal-hal yang berkaitan tradisi Karo. Mohon diulas mengapa Karo bukan Batak. Serta asal muasal Karo dari sisi Antropologi. Mudahan ini dapat memberikan penjelasan kepada anak-anak kami tentang budaya ibunya yg beru Tarigan. Mejuah juah

  3. Ibarat SANGKEP SIEMPAT: 1. Sembuyak, 2. Anak Beru, 3. Kalimbubu, dan 4. Senina adalah pondasi(tiang), jika komposisinya/jumlahnya kurang, maka bangunan akan miring bahkan runtuh.
    Demikian juga dengan “sangkep siempat” yang merupakan pondasi/dasar dari tatanan sosial pada Suku Karo, maka runggu tidak akan berjalan dengan baik bahkan tidak bisa dijalankan.
    Jadi, SANGKEP SIEMPAT harga mati. Jangan main-main atau dikurang kurangi. Mejuah-juah.

Leave a Reply