Kolom M.U. Ginting: KEBENARAN KARO

2
226
kebenaran
Bernita Depari dalam sebuah penampilan Sanggar Seni Sirulo di Hotel Dharma Deli, Medan (Festival Teater Rakyat Sumut)

M.U. GintingDalam membuka KEBENARAN KARO, Bastanta P. Sembiring bilang: “Sayangnya, sebagian orang Karo tidak begitu tertarik dengan kebenarannya.” Memang betul begitu ada tendensi suasana pikiran Karo, stidaknya sebagian Karo. Karena itu, juga Robinson Ginting Munthe di milis Tanahkaro bilang: “Pelajaran yang bisa ditarik bagi Karo. Jika kita yakin benar, maka kebenaran yang kita yakini itu harus diperjuangkan dengan gigih dan siap menghadapi resiko yang pahit sekalipun. Artinya, diam bukan pilihan, karena kebenaran yang didiamkan lambat laun akan rahib ditelan bumi.”

Sifat dan sikap mendiamkan sesuatu kebenaran ini, saya pikir, termasuk dalam way of thinking Karo dan sikap Karo, bagian yang negatifnya. Banyak sekali juga yang positifnya, dan yang positif ini sekarang semakin menanjak, terutama kalau kita lihat dari segi IDENTITAS KARO.

Kita masih ingat juga zamannya dimana orang Karo banyak yang pada malu mengaku Karo. Malu atau tak mau pakai mergana bersama namanya. Dalam soal ini sudah sangat banyak perubahan. Sebaliknya banyak yang sangat bangga pakai merga Karo lengkap dengan namanya. Ini saya perhatikan sangat menonjol di kalangan mahasiswa dan anak-anak muda Karo.

Zaman ‘malu jadi Karo’ sudah berlalu. Sekarang zaman ‘bangga jadi Karo’. Tetapi sifat mendiamkan KEBENARAN KARO masih ada, harus dikikis sekarang. Kita sudah bongkar kebusukan atau kebenaran dalam penggantian Tahura jadi Si Singa. Kita sudah bongkar kebenaran dalam perampokan tanah ulayat Karo di Kuta Pengkih (Kecamatan Tigabinanga, Kabupaten Karo) yang ketika itu berhasil menipu Karo dan mengelabui mata Prof. Dr. Masri Singarimbun.


[one_fourth]Pendatang jadi penguasa, dan lingkungan tiap hari dirusak[/one_fourth]

Banyak kebenaran Karo belum secara besar-besaran dikedepankan, misalnya di daerah ulayat Karo Deliserdang. Pendatang jadi penguasa, dan lingkungan tiap hari dirusak sehingga sering susah bernafas karena debu misalnya. Hutan dibabat seenaknya. Kasus Juma Tombak, dan kasus 9 desa Bangunpurba. Orang-orang Batak pakai lobi ke Mahkamah Agung (MA), Bagir Manan ketika itu, dan ke Mahkamah Konstitusi, Mahfud. Juma Tombak dan 9 desa Bangun Purba yang diperjuangkan orang Karo Deliserdang ketika itu jadinya gagal total.

Dukungan orang Karo lainnya termasuk pemuda dan mahasiswanya sangat minim terhadap pejuang-pejuang Juma Tombak dan Bangun Purba. Padahal itu adalah soal KEBENARAN KARO dalam mempertahankan tanah ulayatnya.


[one_fourth]Ikan peliharaan penduduk desa pada bermatian[/one_fourth]

Perusakan lainnya yang aktual ialah di desa Aqua, Doulu (Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo). Ikan peliharaan penduduk desa pada bermatian, karena racun limbah Aqua atau karena memang diracuni supaya penduduk keluar dan pindah dari situ. LSM CSR Aqua memang dikuasai oleh pendatang, bukan di tangan penduduk setempat yang punya hak atas tanah ulayat di Doulu. Sama seperti di Deliserdang, pendatang atau penguasa pendatang sama sekali tak berkepentingan menjaga lingkungan tanah ulayat Karo, apalagi ngomong soal KEARIFAN LOKAL KARO.


[one_fourth]Banyak juga yang cari aman dan nyamannya saja[/one_fourth]

Mengapa KEBENARAN ini belum terlihat menonjol di hadapan masyarakat dan dunia? Salah satu sebab utama yang tak mungkin tak diperhitungkan ialah ETHNIC COMPETITION yang, dalam hal ini, antara penduduk pendatang terutama orang Batak kontra  orang Karo penduduk asli pemegang tanah ulayat Deliserdang. Orang Karo banyak yang diam atau menunggu dan mengharapkan situasi jadi positif dengan sendirinya. Banyak juga yang cari aman dan nyamannya saja. Pengaruh way of thinking dan kultur pendatang diterima saja tanpa perlawanan walaupun mengerti bahwa kulturnya sendiri dan kearifan lokal Karo akan lenyap dengan kelakuan yang begitu.

Setelah menunggu dan berharap perbaikan akan datang dengan sendirinya ternyata gagal saja, makin banyak lagi yang lebih pasif lagi atau apatis, dan kebaikan atau perbaikan juga semakin tak akan pernah datang.


[one_fourth]sudah terjadi di Dairi Pakpak[/one_fourth]

Kenyataan ialah sebaliknya. Situasi yang ditunggu itu makin menyulitkan existensi orang Karo, karena dalam situasi ‘menunggu dan berharap’ itu berlaku proses mutlak ‘Darwinian natural selection’. Proses ini terjadi terus menerus di luar kehendak manusia atau di situ ada kehendak manusia untuk menaklukkan dan menyingkirkan etnis lain yang akan kalah dalam seleksi itu. Tak bisa juga sepenuhnya dikatakan kalau pendatang dan penguasa pendatang di Deliserdang tak berkehendak mengalahkan penduduk asli dan merusak tanah ulayatnya. Penyingkiran mutlak etnis asli dari kekuasaan dan tanah ulayatnya sudah terjadi di Dairi Pakpak. Di sini bukan lagi teori tetapi kenyataan. Di Deliserdang? Atau di Dataran Tinggi Karo?

[box type=”shadow”]

Pertama-tama, orang-orang Karo harus terlebih dahulu mengakui adanya ethnic competition, akibatnya dan pengaruhnya yang menentukan dan MEMATIKAN bagi perkembangan dan keberlangsungan (survival) Karo sebagai satu kultur dan daerahnya sebagai pusat perkembangan dan dasar tempat berdiri satu kultur, yaitu Kultur Karo.

[/box]

Setelah kita mengakui adanya ethnic competition, lalu kita harus mempelajari supaya jangan sampai punah dalam Darwinian selection itu. Banyak pendatang di Karo juga, dan harus ada prinsip ’di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung’. Atau  “Minorities should be welcomed but they should not be able to remake society in their own image,” tegas Kevin MacDonald yang sudah meneliti ethnic competition selama 20 tahun lebih terutama di Amerika Serikat dan juga di bagian lain dunia.

Sifat sebagian orang Karo yang tidak tertarik kepada kebenarannya sendiri, berangsur kita hilangkan dari benak kita. Sudah banyak juga yang positif dalam soal ini, seperti sudah terlihat di banyak gerakan kultural Karo sebagai gerakan pengenalan identitas dan jati diri Karo, dan dalam gerakan pencerahan KBB yang sudah terkenal, dan sebagai konsentrasi Revolusi Mental Karo.


2 COMMENTS

Leave a Reply