Kolom M.U. Ginting: Dari Ahok ke Gatot dan Posisi Karo

0
259
Mahansa
Mahansa Sembiring bersiap-siap tampil di panggung bersama Sanggar Seni Sirulo.

M.U. GintingFPI dan GMJ di Jakarta betul-betul nggak ada kerjaan selain demo untuk melengserkan Ahok. Apa gak ada usul konkret misalnya memajukan pendidikan anak-anak atau pengurusan anak-anak tak mampu bersekolah di Jakarta, atau usul menghijaukan Jakarta, misalnya?

Kalau usul-usul baik untuk penduduk Jakarta ditolak oleh Ahok baru demo besar-besaran.

Hampir mirip dengan ‘dialog etnis Sumut’ mau melengserkan Gatot lantas nanti etnis mana yang mau jadi gubernur? Orang Karo tak perlu ikut-ikutan mendukung etnis tertentu jadi Gubsu. Ikut-ikutan diperalat mendukung etnis lain jadi Gubsu jelas bukan kepintaran. Kepintaran bagi Karo ialah kalau orang Karo berjuang untuk didukung oleh semua etnis  jadi Gubsu, karena orang Karo sudah terkenal orang jujur.


[one_fourth]kejujuran untuk kepentingan bersama semua etnis[/one_fourth]

Siapapun jadi Gubsu harus bisa dinilai secara transparan apa saja perbuatannya yang positif atau yang negatif sehingga semua suku bisa menilai secara objektif. Itulah ethnic competition dalam arti perlombaan dalam kejujuran untuk kepentingan bersama semua etnis. Bagi orang Karo memilih Karo karena orang Karo adalah orang jujur dan bisa dipercaya. Alasan penting lainnya ialah karena Medan dan Sumtim adalah Karo sebagai penduduk aslinya. Medan dibangun dan didirikan oleh orang Karo. Medan, Deli, dan Langkat penduduk aslinya adalah orang Karo. Karena itu daerah ini adalah daerah ulayat Suku Karo.

Walaupun orang Karo adalah orang jujur tetapi kalau Gubsu Karo tidak jujur sebagaimana sifat orang Karo pada umumnya, orang Karo juga tidak akan memilih dia atau harus dilengserkan!

[one_half]Propinsi Karo yang meliputi daerah-daerah
Kabupaten Karo, Deliserdang atau Deli, Langkat Hulu, Singalorlau, Laubaleng/ Mardingding, Karo Alas, dan Kota Berastagi[/one_half]

Orang Batak mau bikin Protap dan sudah disetujui oleh DPR. Propinsi Nias juga sudah dapat persetujuan DPR. Orang Batak atau Nias tinggal meneruskan persetujuan DPR itu. Juga orang Mandailing sudah bikin usul Propinsi Sumtra, tetapi belum dapat persetujuan DPR. Orang Melayu bikin ASLAB. Orang Karo mau bikin Propinsi Karo yang meliputi daerah-daerah Kabupaten Karo, Deliserdang atau Deli, Langkat Hulu, Singalorlau, Laubaleng/ Mardingding, Karo Alas, dan Kota Berastagi. Yang jadi Sumut hanya tinggal kota Medan, dan kota bangunan Patimpus itu nantinya hanya sebagai kota metropolitan tersendiri seperti New York atau Geneva Indonesia, diperindah dan diglobalkan jadi metropolitan penting untuk bisnis dan kultur di Asia Tenggara.

Mahansa 2
Penampilan Sanggar Seni Sirulo saat Annes Tarigan bernyanyi

Propinsi-propinsi ex Sumut itu nanti bisa kerjasama dalam suasana baru, kerjasama berbagai kultur sesuai dengan propinsinya masing-masing. Itu karena tiap propinsi adalah pusat gerakan tiap kultur yang berbeda dan kearifan lokal yang berbeda. Tiap propinsi mencerminkan PELESTARIAN BUDAYA DAN KULTUR dalam arti memanfaatkan kekuatan dan potensi luar biasa yang ada di dalam tiap kultur yaitu  dalam kultur Karo di Propinsi Karo, kultur Batak di Protap, kultur Mandailing di Sumtra, kultur Melayu di Aslab, kultur Nias di kepulauan Nias.


[one_fourth]saling menyingkirkan antar etnis merebut kekuasaan ….[/one_fourth]

Tiap propinsi berlomba memajukan dan mengembangkan daerahnya masing-masing. Persaingan etnis atau ethnic competition akhirnya terarah ke perlombaan kemajuan daerah. Perlombaan saling menyingkirkan antar etnis merebut kekuasaan seperti dalam sejarah Sumut jadi hilang. Sebagai gantinya adalah perlombaan ke arah kemajuan masing-masing tetapi semua ini mengarah ke kemajuan nation Indonesia.

Tak perlu lagi bikin basa-basi dialog etnis seperti pemakzulan Gatot. Kalaupun masih ada nanti ialah di kota metropolitan Medan. Tetapi, di sinipun harus diberi penghargaan pertama bahwa Kota Medan adalah kota Suku Karo sebagai aslinya.

Jadi, ada patokan keadilan; di mana tanah dipijak di situ langit dijunjung.

Orang-orang Karo di Jakarta pilih Jokowi/Ahok karena yakin kejujuran mereka,. Dan sekarang sudah yakin juga kejujuran Ahok dalam memimpin Jakarta. Usaha-usaha melengserkan Ahok tidak didukung oleh orang Karo yang ada di Jakarta. Karo selalu memihak kejujuran, termasuk dalam menilai orang-orang Karo sendiri.



Leave a Reply