Lagu-lagu Daerah Mencari Tempat

1
209

Oleh: Plato Ginting (Yogyakarta)

 

plato fotoplatoBeberapa tahun tinggal di Yogyakarta menyadarkanku akan banyak hal. Khususnya tentang seni yang berkembang begitu pesat di kota ini. Ada satu hal yang bagiku menjadi poin menarik jika dibandingkan dengan Taneh Karo, yaitu terkait dengan lagu-lagu daerah.

Umumnya, konsumen terbesar dunia musik adalah anak muda. Sebuah musik bisa dikatakan menjadi trend, ketika sebagian besar anak muda menyukainya. Sedangkan musik-musik yang disukai oleh orang tua cenderung kurang menarik bagi anak muda, ataupun dianggap Jadul.


[one_fourth]lagu ibunya adalah lagu-lagu Karo[/one_fourth]

Ibarat bahasa, kita mengenal istilah bahasa ibu, yaitu bahasa pertama yang kita dengar dan pelajari. Bagi orang Karo bahasa ibunya pada umumnya adalah bahasa Karo dan bahasa Indonesia menjadi bahasa ke dua. Aku mencoba membuat istilah sendiri untuk musik dan lagu-lagu yang pertama kita dengar sebagai ‘Lagu Ibu’. Ya, pada umumnya orang-orang Karo terutama yang berasal dari desa, lagu ibunya adalah lagu-lagu Karo. Lagu-lagu Indonesia yang mereka dengar di Televisi maupun radio menjadi lagu-lagu ke dua yang mereka dengar. Atau paling tidak, lagu-lagu Karo dan lagu-lagu Indonesia mereka dengar bersamaan. Paling tidak, porsi lagu-lagu daerah masih cukup tinggi untuk mereka dengarkan sehari-hari.

Hal ini berbeda jauh dengan daerah-daerah lain, khususnya di Pulau Jawa. Dari perbincanganku dengan teman-teman yang berasal dari Jogja, Semarang, Tegal bahkan Kalimantan. Mereka menyebutkan, ketika kecil, mereka jarang mendengarkan lagu-lagu daerah. Mereka lebih banyak mendengarkan lagu-lagu Indonesia dan lagu-lagu Barat. Bahkam mereka merasa lagu-lagu daerah itu memang dibuat khusus untuk orang-orang tua.

usman gintingAku coba ambil contoh sederhana. Jika kita coba melihat playlist anak-anak muda Karo di HP ataupun laptop, pada umumnya pasti kita temukan lagu-lagu Karo yang menjadi lagu favorit mereka. Bagi mereka, lagu-lagu Karo tidak kalah pentingnya dengan lagu-lagu Indonesia maupun lagu-lagu Barat koleksi mereka. Hal ini menjadi berbeda dengan teman-teman yang kusebutkan di atas. Sangat jarang mereka mengoleksi lagu-lagu daerah di HP ataupun laptop. Mereka tetap menganggap lagu-lagu daerah bukan trend anak muda.

Sebenarnya, kalau kita mau melihat, Karo masih memiliki banyak hal menarik yang tidak kalah dari daerah-daerah lain di Indonesia. Kita hanya perlu menyadarinya saja, bahwa kita punya keistimewaan sendiri, yang tak harus sama dengan orang lain.

Mejuah-juah.



1 COMMENT

  1. “Kita hanya perlu menyadarinya saja, bahwa kita punya keistimewaan sendiri, yang tak harus sama dengan orang lain.”
    Betul sekali kesimpulan ini. Disini mengutamakan PERBEDAAN untuk dipahami dan dipelajari. Pembaruan atau perubahan selalu datang dari perbedaan bukan dari persamaan. Karo memang unik dan sangat banya keunikannya yang masih perlu digali, dan bahkan bagi kita orang Karo.
    Lagu-lagu Karo umumnya mal bukan dur, sangat banyak persamaannya dengan lagu-lagu klasik mal terkenal ciptaan orang Eropah seperti Chopen.

    Dialektika Karo yang paling tua didunia, belum menjadi pengetahuan hidup bagi orang Karo sendiri.
    Karo penemu dialektika pertama, bukan Yunani kuno (Heraklitos) seperti yang ditanamkan oleh orang Barat kepada kita. Dialektika Karo sudah berumur lebih dari 5000 tahun karena sudah ditemukan budaya masyarakat Karo berumur 7400 th sedangkan dialektika Yunani kuno Panta Rei Heraklitos baru 500 BC.

    MUG

Leave a Reply