Nilai Sosial dan Nilai Ekonomi: Karo vs Batak

1
548

Oleh: Bastanta P. Sembiring (Medan)

 

rumah adat batak
Rumah adat Batak

bastantaBeberapa waktu lalu kita membahas sedikit tentang Rumah Adat di rumpun Kebudayaan Austronesia, termasuk Karo, Minang, Melayu, Batak, dll. Demikian juga keterkaitannya dengan nilai-nilai kesopanan yang berkembang di masyarakatnya. Lalu, kemarin itu, Edi Sembiring mengunggah sebuah foto Rumah Adat Karo ke group facebook Jamburta Merga Silima (JMS) yang dikutip dari Koran Rotterdamsch Nieuwsblad bertanggal 04 Juli 1928. Beberapa akun turut mendiskusikan konstruksinya dari aspek bahan, namun pandangan saya bertumpu pada pertanyaan: “Apa nilai-nilai yang terkandung dalam pembangunan sebuah rumah adat terhadap masyarakatnya?”

Kemudian, saya kembali mengingat satu akun mengunggah foto yang berjudul “Sinamot Karo 2015” masih ke JMS, yang memuat tabel berisikan Beru Silima (Karo-karo, Tarigan, Ginting, Sembiring dan Peranginangin). Lengkap dengan harganya dalam satuan rupiah. Tentunya, ini menimbulkan pro dan konta.

Sebahagian mengganggap ini hanya sebuah meme untuk meramaikan, namun di lain pihak termasuk saya mengganggapnya sebuah penghinaan terhadap perempuan Karo dan budaya Karo. Karo tidak mengenal istilah sinamot (Batak). Tukur/ unjuken (Karo) prinsipnya sangat jauh berbeda dengan mahar dalam budaya lainnya ataupun sinamot dalam budaya Batak.

rumah adat karo 1
Rumah adat Karo

Di Karo, social value (nilai sosial) dari pertukaran itu yang menjadi rujukan, bukan economic value (nilai ekonomis).

Saya melihat perbedaan penekanan antara social value dengan economic value terkait juga perbedaan penekanan di jaman modern antara Karo dengan Batak yang tercermin dalam penggunaan arsitektur tradisionalnya.

Seperti yang disampaikan oleh Juara R. Ginting dalam sebuah diskusi yang katanya, menurut seorang arsitek Gaudence Dominig, sebagian dari rumah-rumah adat Batak adalah sopo eme (lumbung padi) yang dialihkan menjadi rumah.

“Dulu, tidak ada perkampungan Batak yang memperlihatkan adanya 2 baris rumah saling berhadapan. Di belakang hari, orang-orang Batak mengalihfungsikan sapo menjadi rumah,” kata Ginting sambil menambahkan bahwa ini menandakan adanya kesamaan antara konatruksi tiang-tiang sopo dengan tiang-tiang rumah adat mereka yang disebut jabu.

Dari yang dikemukakan di atas, maka tampak adanya tahapan alih fungsi dari sopo ke rumah pada masyarakat Batak. Yang dapat saya petik yakni bukan hanya alih fungsinya (bendanya), tetapi juga peralihan keadaan sipemilik, yang tadinya hanya punya sopo kemudian direhab dan renovasi menjadi sebuah rumah. Artinya, ada peningkatan secara kemampuan, yang dalam hal ini kemampuan ekonomi. Jadi economic value (nilai ekonomi) atau bisa juga kita katakan kemampuan ekonomi sangat berperan di sini.


[one_fourth]yakni: 1. Sembuyak (Bena Kayu), 2. Anak Beru (Ujung Bena Kayu), 3. Kalimbubu (Lepar Bena Kayu), dan 4. Senina (Lepar Ujung Karo)[/one_fourth]

Berbeda dengan yang terjadi di masyarakat Suku Karo, dimana berdirinya sebuah rumah, atau tepatnya Rumah Adat bukan ditentukan oleh kekuatan ekonomi semata, tetapi kepada sebuah pencapaian kebangsawanan yang erat kaitannya dengan sosial value (nilai sosial) tadi. Sehingga rumah yang didirikan itu dihuni (lihat Jabu Suki Rumah Adat Karo) berdasarkan tatanan sosial Karo yang dikenal dengan Sangkep Nggeluh Siempat (Sangkep Siempat), yakni: 1. Sembuyak (Bena Kayu), 2. Anak Beru (Ujung Bena Kayu), 3. Kalimbubu (Lepar Bena Kayu), dan 4. Senina (Lepar Ujung Karo). Sembuyak di sini ialah kaum simanteki (pendiri).

Biak-biak (tabiat) inilah yang terus tumbuh dalam watak kedua suku ini, yakni Karo dan Batak. Dalam kehidupan sehari-hari dimana Karo cenderung introvert dan Batak yang extrovert. Karo yang mengejar ketenangan dan harmonisasi yang tentunya hanya didapat melalui nilai-nilai sosial, berbeda dengan masyarakat Batak yang lebih kepada eksploitasi yang erat kaitannya dengan pandangan nilai-nilai ekonomis.

Terkadang tidaklah mengherankan jika melihat masyarakat Karo yang memasang target pencapaian sebatas marwah dan ketenangan sebagai fitrahnya, dengan kata lain, cari amannya. Mejuah-juah.


1 COMMENT

Leave a Reply