Kolom M.U. Ginting: DARI AHOK KE KBB

0
152
silat karo
Di lingkungan Candi Ratu Boko (Kabupaten Klaten), Ita Apulina Tarigan (ke 2 dari kiri) mengajari Artur Pinem (kiri), Simon Pinem (ke 2 dari kanan) dan ibu mereka Dewi Inalia Sitorus berlatih silat Karo (ndikkar) (2014) (Foto: RUDY PINEM)

M.U. GintingKetua DPRD DKI Prasetyo curhat. Katanya, mulut Ahok tak bisa di-keep karena diduga hamilnya ngidam tokek. Kalau orang diam dia mulai bunyi, bawaannya curiga mulu. Ini menurut Prasetyo pembawaan buruk Ahok. Apa ‘hamil tokek’ tidak buruk, Pak?

Yang sangat tak disukai dari Ahok ialah blak-blakannya soal korupsi terutama di DPRD. Dan, ini semakin jelas di kalangan rakyat banyak. Tentu ini bagi Prasetyo lebih baik kalau gelap-gelapan saja. Ha ha ha . . .

Ahli hukum tata negara Irman mengatakan, komunikasi harus dilakukan secara terbuka tanpa ada yang disembunyikan. Keliru jika pembicaraan eksekutif dan legislatif dilakukan secara diam-diam.


[one_fourth]Dalam kegelapan bersembunyi segala macam orang busuk[/one_fourth]

Betul sekali, Pak Irman. Kegelapan adalah sumber kebusukan. Dalam kegelapan bersembunyi segala macam orang busuk. Sebaliknya, keterbukaan dan keterusterangan adalah kekuatan dan sumber kekuatan.

Snowden dan Ahok adalah pelopor kemanusiaan dalam membongkar kegelapan  ciptaan manusia. Snowden dalam soal rahasia mata-mata dunia serta pencoleng email, telefon rakyat dan kepala-kepala negara, Ahok dalam soal pencolengan duit negara. Dua manusia ini adalah pahlawan kemanusiaan dalam merintis jalan menuju dunia yang cerah dan adil.

Perjuangan ethnonasional dunia adalah perjuangan yang adil untuk mempertahankan survival satu nation atau satu suku dengan ciri khusus nationnya atau sukunya. KBB (Karo Bukan Batak) adalah bagian yang tak terpisahkan dari perjuangan rakyat-rakyat dunia itu.

KBB harus menyatakan diri dengan terbuka, terus terang dan blak-blakan karena yang dicetuskan tak lain daripada kebenaran dan keadilan bagi etnis Karo serta kulturnya. Tak ada lebih dari situ.


Leave a Reply