Haram Sukuisme Adalah Lagu Lama

0
231

Oleh: Bastanta P. Sembiring (Medan)

 

gbkp
Aca HUT Mamre GBKP ke 16 di Sukamakmur (Sibolangit) yang dimeriahkan oleh Sanggar Seni Sirulo dari Medan.

bastantaTiongkok negara Komunis yang berhasil menghidupkan emansipasi pemikiran karena tradisi budaya lokalnya. Sedikit saya kaitkan ke lingkungan gereja setelah tertarik membaca pengalaman mama Juara R. Ginting saat memberi kuliah (sebagai dosen tamu) di Jurusan Theologia Universitas Muenster (Jerman).

Para mahasiswa menjadi ribut karena terkejut mendengar dari dosen tamu ini bagaimana GBKP dan HKBP menerima keberadaan musik tradisional lokal di dalam gereja.

Sebagaimana kita ketahui GBKP beraliran Calvinis sedangkan HKBP Lutheran. Keduanya termasuk ke dalam Protestan.  Pada dasarnya, Protestan di seluruh dunia menjauhkan Injil dari nilai-nilai budaya lokal. Hal ini dapat dibaca di “Teologia Kontekstual” yang ditulis oleh: Pdt. E.S. Ginting atau beberapa tulisan saya di Bulletin Sinalsal.

Hanya saja, suatu hal menarik dengan beberapa gereja Protestan di Indonesia, termasuk GBKP dan HKBP, prakteknya di lapangan gereja-gereja Protestan ini tidak anti budaya lokal. Itulah yang membuat para mahasiswa Jerman itu terkejut dan bingung.

Mengapa begitu?

Hubungan harmonis dengan budaya lokal dilakukan oleh gereja-gereja Protestan untuk 2 tujuan: Sejauh ini dilakukan untuk 1. Mempertahankan umatnya dari satu kelompok etnis yang sama, dan 2. Membendung era-Pentakostalisme.


[one_fourth]dengan menerima dan berlindung di dalam tradisi budaya lokal lah gereja[/one_fourth]

GBKP dan HKBP sadar betul, hanya dengan menerima dan berlindung di dalam tradisi budaya lokal lah gereja dapat bertahan. Sehingga populerlah istilah kontekstual dan inkulturisasi. Apalagi sekarang ini ada trend untuk menghidupkan kembali budaya lokal dalam segala aspek.

Dapat dipastikan, daerah atau kelompok yang tidak mengedepankan kekhasannya akan tersingkir dari panggung.

Tiongkok karena budayanyalah dapat bertahan dari gerusan globalisasi dan mampu bersaing dengan Amerika, Jepang, dan Jerman, sehingga ada istilah “bukan mengglobalisasi Tiongkok, tetapi mengtiongkokkan globalisasi.” Demikian juga dengan Korea, India, Iran, Vietnam, dan bahkan Malaysia.

Integrasi budaya kini harus terjadi di segala aspek, sebab segala sesuatu yang tidak berakar pada  budaya lokal akan musnah. Orang yang mengharamkan sukuisme atau integrasi dengan budaya lokal akan tersingkir. Contohnya adalah Karo yang tersingkir di Pesisir karena tidak mempertahankan kekhasannya.

Siapa yang percaya Karo pendiri Medan? Atau Pakpak dan mungkin selanjutnya Simalungun akan musnah hanya kenangan di suatu saat nanti.


Leave a Reply