Gereja dan Budaya Lokal (1)

0
301

Oleh: Bastanta P. Sembiring (Medan)

 

kerk 2
Sebuah gereja di Kota Leiden (Nederland). Sumber: http://rijksmonumenten.nl/monument

bastantaSejarah pernah mencatat masa-masa kejayaan gereja-gereja Asia. Saat itu, terjadi perkembangan kebudayaan gereja, teologia, dan pelonjakan jumlah jemaat yang signifikan. Namun, sejarah juga mencatat bahwa pada Abad 15 M terjadi kemerosotan yang radikal terhadap keberadaan gereja-gereja di Asia, bahkan hampir lenyap dari benua kulit berwarna ini.

Jika kita menelaah Alkitab, banyak gereja yang disebutkan di Asia kecil kini tidak ada lagi. Turki, yang dulunya pernah menjadi rumahnya gereja-gereja berkembang kemudian menjadi gereja terbesar yang disebut Konstatinopel, kini menjadi negara 1001 masjid.


[one_fourth]penyebab utama terjadinya kemerosotan kekristenan[/one_fourth]

Dalam buku Konteks Bertheologi karangan Pdt. drs. Edi Suranta Ginting MDiv. MTh. dikatakan, 3 penyebab utama terjadinya kemerosotan kekristenan di Abad 15.

Pertama, gereja tidak lagi memberitakan Injil. Mungkin karena dilarang oleh penguasa yang bukan Kristen, maupun alasan theologis dan politis lainnya serta, bahkan, karena gereja terlalu sibuk dengan urusan birokrasi organisasi gereja. Ke dua, karena orang-orang Kristen lebih bodoh dan lebih miskin daripada orang-orang yang bukan Kristen. Tiga, karena kekristenan tidak berakar pada budaya lokal/ setempat.

Di Kartago (Aljazair sekarang), yang merupakan tempat lahirnya 3 teolog besar gereja (Cyprianus, Tertulianus, dan Agustinus) juga mengalaminya. Gereja tumbuh dan berkembang tapi tidak berakarkan pada tradisi budaya setempat. Gereja Nestorian yang pernah berjaya dan pernah mendirikan banyak gereja di berbagai negara pada Abad 7, seperti di India, Iran, China, dan bahkan Indonesia kini entah di mana.


[one_fourth]akses untuk semakin dekat dan diterima oleh masyarakat lokal[/one_fourth]

Ini sangatlah tampak nyata dan juga terjadi pada gereja-gereja di Indonesia. Jika kita melihat di awal-awal proses zending, para missionaris berusaha keras melakukan pendekatan sosial dan kultural agar gereja dapat akses untuk semakin dekat dan diterima oleh masyarakat lokal.

Unsur-unsur tradisi setempat sedemikian rupa diramu agar dapat dimasukkan di dalam ritual gereja bahkan merasuk hingga konteks teologia yang dianut gereja tersebut. Hasilnya, gereja dan budaya ibarat rel kereta, walau terpisah dan berbeda ruang namun tetap sejalan. Seakan harus berjalan bersama. Jika tidak, ibarat kereta tadi, tidak akan dapat berdiri tegak di atas satu rel. Bisa terjungkal. Demikianlah gereja dan budaya di masa-masa mula-mula zending seakan harus sejalan agar mudah dimengerti dan diterima.

Di beberapa wilayah memang hal ini berhasil. Tampak dengan keberadaan gereja-gereja suku dan gereja Khatolik inkulturisasi yang ada sekarang, walapun tidak jarang beberapa orang dan kelompok yang kurang puas dengan prinsip ritual dan teologis di gereja itu hendak menggesernya dan menerapkan konsep kembali kepada konteks teologi dan ritual gereja Barat yang dianggap lebih suci dan sesuai.

BERSAMBUNG


Leave a Reply