Tanggapan atas “Gereja dan Budaya Lokal (1)”

0
174

Oleh: Daud S. Sitepu (Papua)

 

gereja 1
Sebuah gereja tua di Sorong (Papua)

daud  sitepuMembahas agama khususnya Kristen akan menarik sekali dan tidak akan pernah habis-habisnya. Saya tertarik dengan tidak berkembangnya agama pada periode tertentu, seperti yang ditulis oleh Bastanta P. Sembiring.

Ada benarnya, 3 penyebab yang diungkapkan. Seperti pelarangan pemberitaan injil, pelarangan ibadah oleh penguasa. Sejarah mencatat, pelarangan ini mulai dari gereja mula-mul sampai jaman ini. Tetapi pelarangan tersebut tidak membuat Injil dan kekristenan hilang sama sekali.

Jika di suatu negara tertentu dilarang. Di bagian bumi lain dia justru tumbuh subur. Bergerak menyentuh pribadi lepas pibadi. Yang sangat menarik adalah Injil telah merubah jutaan pikiran manusia untuk berubah menjadi manusia yang beradab, manusia menghormati sesamanya, mengasihi sesama dan menyembah Tuhan.

Dua prinsip inilah yang dikabarkan kepada seluruh muka bumi kepada seluruh manusia agar menyembah Tuhan dan mengasihi sesama manusia. Dua prinsip utama ini dijabarkan dalam 10 Hukum Allah.


[one_fourth]Kegelapan manusialah yang melarang terang itu bersinar[/one_fourth]

Injil telah menerangi dunia yang gelap dengan kebenaran yang disampaikan oleh Yesus dan murid-murinya. Kegelapan manusialah yang melarang terang itu bersinar, namun tidak pernah bisa dipadamkan sampai akhir kesudahan bumi ini.

Injil tidak pernah kompromi dengan dosa, sehingga banyak yang menolaknya. Hasil jamahan kekristenan dan jamahan Injil dapat dirasakan seperti di Papua, yang dulu dibawa oleh Oton Gesler di Pulau Mansinan telah merubah hidup manusia menjadi seperti yang ada saat ini di Tanah Papua. Luar biasa jamahan Tuhan.

Di Eropah pun peradaban maju karena jamahan Injil awal mulanya. Di Korea Selatan terjadi perubahan luar biasa karena jamahan Injil Tuhan. Di Karo pun saat ini telah begitu maju karena ada kuasa Injil yang menerangi hati dan hidup manusia.


Leave a Reply