Penyeragaman Budaya Lokal oleh Gereja

0
311

Oleh: Alex Christian Ginting

 

Alex Christian Ginting 4
Sumber: http://ministry127.com/church-planting/the-new-testament-church-model

Alex Christian GintingKursi kedudukan Patriark Ekumenis Gereja Orthodox Timur masih ada di Konstantinopel. Gereja-gereja Perjanjian Baru masih ada hingga sekarang. Patriarkal Antiokhia (dimana untuk pertama kalinya pengikut Kristus disebut Kristen) kini berkedudukan di Damaskus, Siria, dan masih banyak lagi. Gereja Orthodox Timur meskipun tidak ada hubungannya dengan orang Reformasi (Luther, Calvin, dan Zwingli) tetap melihat budaya sebagai sebuah warisan kemanusiaan dan memegang peran dalam kehidupan kegerejawian.

Contoh paling nampak adalah kebudayaan Rusia yang berjalan dengan gereja setelah pengkristenan Rusia pada Tahun 800an. Memang benar, dalam kehidupan liturgikal gerejawi terdapat berbagai standar yang tidak bisa diubah karena memiliki arti teologis yang, bila digeser, dapat memiliki implikasi.

Namun, dalam kehidupan kebudayaan, gereja tetap memeluk kebudayaan dengan cara menggunakan produk kebudayaan dalam liturgi; misalnya untuk vestimentum imam terdapat corak-corak dari kebudayaan lokal, menggunakan bahasa asli di daerah tersebut, penggunaan roti atau tumpeng untuk pesta-pesta gerejawi dan sangat banyak lagi.


[one_fourth]sifat dari gereja adalah memanusiakan manusia[/one_fourth]

Budaya adalah bagian dari kemanusiaan. Gereja akan tetap terus menggabungkan budaya ke dalam kehidupannya karena sifat dari gereja adalah memanusiakan manusia. Memisahkan budaya lokal dari kehidupan manusia sama dengan membuang identitas kelompok manusia tersebut.

Masalahnya, bukanlah Asia vs Barat, tapi sifat lokalitas sebuah kongregasi.

Mungkin yang disebut kebobrokan Gereja Roma Katolik yang tidak berdasarkan budaya lokal adalah hasil dari reformasi Karel Agung dan reformasi Nikolaetan. Saat itu, terjadilah penyeragaman berbagai ritus lokal ke dalam ritus yang kini kita kenal sebagai ritus Latin.

Sebenarnya, bila kita lihat lebih jauh, kekatolikan memiliki kelokalannya sendiri yang akhirnya diendapkan menjadi sebuah ritus (misalnya Sarum, Mozarabik, Ambrosian, dll). 


Leave a Reply