Roberto Bangun Tidak Melawan TUHAN

0
304

Oleh: Bastanta P. Sembiring (Medan)

bastantaroberto 3Sebuah foto diunggah di grup facebook Jamburta Merga Silima (JMS) dengan keterangan, “La piga pang bagi ni bulang enda Roberto Bangun si mindo irubah kata-kata ibas “Pertoton Bapa Kami” (Nusur ku begu irubah jadi Nusur ku doni kematen).” Kemudian, tanpa mau memahami yang menjadi pokok persoalan ada akun dengan sumbang berkata, kalau Roberto Bangun sedang menantang ataupun melawan Tuhan.

Hal pertama yang perlu diperhitungkan, dalam beberapa versi Doa Bapa Kami, tidak pernah ada ditemukan kalimat, nusur ku begu ataupun terjemahan yang senada pada versi bahasa manapun.


[one_fourth]yang beliau protes itu adalah Pengakuan Iman Rasuli[/one_fourth]

Ke dua, dari analisa saya berdasarkan keterangan di atas, yang diprotes oleh Pak Bangun bukanlah “Doa Bapa Kami” yang diajarkan oleh Tuhan Yesus sebagaimana tertulis di Alkitab, atau dalam bahasa Karonya dikenal dengan Pertoton Tuhan/ Pertoton Bapa Kami. Tetapi yang beliau protes itu adalah Pengakuan Iman Rasuli atau dalam versi Karonya, Pengakun Kiniteken Kalak Kristen.

Perlu diketahui, Pengakuan Iman Rasuli (Pengakun Kiniteken), bukanlah kata-kata dari Tuhan Yesus (lihat Alkitab), tetapi adalah tradisi dalam gereja, seperti halnya tradisi sidi atau gereja Karo katakan ngawan, yang pada dasarnya tidak memiliki landasan Alkitabiah.

Kemudian timbul pertanyaan, apakah dengan meminta perbaikan bahasa dalam Alkitab, itu sama dengan melawan Tuhan?

roberto 4Perlu diingat,  bahasa asli Alkitab, yakni Ibrani untuk Perjanjian Lama (PL) dan Yunani untuk Perjanjian Baru (PB). Dari sejarah kekeristenan di Karo, missionaris asal Belanda lah yang pertama kali menterjemahkan Alkitab ke Bahasa Karo. Kemungkinan besar, beliau menterjemahkannya dari Bahasa Belanda, bukan Ibrani ataupun Yunani. Penterjemahan dari Yunani dan Ibrani ke Belanda pun sudah mengalami banyak perubahan makna dan banyak kata tidak memiliki makna terjemahan standart, lebih kepada makna tafsiran. Demikian juga saat diterjemahkan ke Bahasa Karo dari Bahasa Belanda.

Seperti contoh, “Apakah engkau benar mengasihi Aku […]?” tanya Yesus kepada Petrus. Pertanyaan ini diulang Tuhan Yesus sebanyak 3 kali kepada Petrus. Mengapa? 


[one_fourth]kita temukan kata “agapos” dan “philia”[/one_fourth]

Saya tidak mau memberi tafsiran, tetapi saya kasi kata kuncinya, yakni lihat versi Alkitab Yunani. Di sana akan kita temukan kata “agapos” dan “philia” yang di dalam Bahasa Indonesia sama-sama diterjemahkan “kasih” dan dalam Bahasa Karo adalah “kekelengen”.

Ke dua, Alkitab berbahasa Indonesia dan bahasa Karo yang selama ini kita pakai pun telah menjalani beberapa kali perbaikkan. Artinya, perbaikan selalu dilakukan untuk menyempurnakan kata-kata di dalamnya dan menyesuaikannya dengan keadaan pengguna.

Maka, jika ada seseorang yang melihat kesalahan atau kekurangan dalam penulisan Alkitab (terjemahan), maka itu sama artinya dia membaca Alkitab dengan teliti. Jika ada komentar yang mengatakan Roberto Bangun melawan Tuhan, itu pernyataan yang  prematur dan sangat keliru.

Mejuah-juah.


Leave a Reply