Ahoy–Mejuah-juah Sapaan Kota Medan

5
1571

Oleh: Bastanta P. Sembiring (Medan)

 

ahoy mejuah-mejuah
Tarian MUMBANG MEDAN karya Juara R. Ginting dibawakan oleh staf redaksi Sora Sirulo pada sebuah acara memperingati HUT Kota Medan di seputaran monumen pndiri Kota Medan Guru Pa Timpus Sembiring Pelawi.

bastantaRencana Walikota Medan, Zulmi Eldin, mencanangkan “AHOY MEJUAH-JUAH” sebagai salam khas Kota Medan ditanggapi positif sebagian besar masyarakat Karo – Melayu.

Di media sosial facebook, sudah sejak seminggu, banyak diunggah meme dan status membahas tentang hal ini. Komentar positif pun berhamburan dan memberi dukungan, khususnya datang dari masyarakat Suku Karo dan Suku Melayu.

Ahoy Mejuah-juah diambil dari salam khas dua suku asli yang mendiami Sumatera Timur sekitarnya. “Ahoy” dari Melayu dan “Mejuah-juah” merupakan salam khas Suku Karo.


[one_fourth]Sangatlah pantas bila “Ahoy Mejuah-juah”[/one_fourth]

Sejarah mencatat, Kota Medan didirikan olah Guru Pa Timpus, seorang putra Karo dari Ajijahe di Dataran Tinggi Karo (Karo Gugung), dari merga Sembiring Pelawi yang turun ke Dataran Rendah Karo (Karo Jahe). Sangatlah pantas bila “Ahoy Mejuah-juah” dijadikan sebagai sapaan has Kota Medan mengingat pendiri dan yang mendiami Medan adalah warga Suku Karo dan Suku Melayu.

Selama ini kita ketahui, setiap orang dari luar Medan selalu mengucapkan “horas” kepada orang yang berasal dari Medan, ataupun saat berkunjung ke Kota Medan. Padahal ini merupakan sebuah kekeliruan. Pasalnya, “horas” adalah sapaan khas Suku Batak yang sering juga dikenal dengan Tapanuli. Tentunya ini sangat merugikan bagi Suku Karo dan Suku Melayu sebagai pendiri dan bumi putera Kota Medan.

Untuk itu, kita patut memberikan apresiasi dan dukungan penuh kepada program yang dicanangkan oleh Walikota Medan ini: memperkenalkan “Ahoy Mejuah-juah” sebagai sapaan khas Kota Medan.

Ahoy Mejuah-juah Kota Medan!


5 COMMENTS

  1. Sebagian berpendapat bahwa ini memperkuat posisi piolitik golongan tertentu. Disini orang Melayu dan orang Karo. Pendapat ini benar 100%. Inisiatif ini ada atau tidak tetap ada keuntungan politiknya. Kalau tak bikin apa-apa maka pasti ada juga yang menang politiknya, yaitu pendatang di kota Medan. Kalau inisiatif ini dijalankan yang menang ialah penduduk asli Medan orang Karo dan orang Melau. Kalau orang Karo bilang, kebenaran kalau didiamkan akan hilang ditelan bumi. Jadi inisiatif atau tidak, tetap ada yang menang secara politis. Ukuran terakhir selalu ialah mana yang adil. Yang betul dan pasti adil ialah ‘dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung’. Itulah yang adil dan benar. Politik yang adil dan benar pastilah menguntungkan bagi semua termasuk bagi yang merasa dirugikan. Karena biar bagaimanapun keadilan dan kebenaran akan tetap betul dalam menjalankan politik apa sekalipun. Ini tak dijalankan sudah sejak lama sehingga pendatang sudah berhasil dalam proses ethnic competition selama ini mengubah ‘the image of the local population’ seperti di Pakpak Dairi dan Siamalungun. Di Medan sekarang berlaku kembali ke Ahoy Mejuah-juah. Tak ada yang perlu disembunyikan disini. Itulah kebenaran dan keadilan, selalu harus diperjuangkan secara terbuka dan tahan diperdebatkan. Kebenaran ilmu pengetahuan ialah kalau kebenaran itu tak bisa lagi disangkal dari segi kebalikannya. Kebenaran jadi KEBENARAN ILMIAH.

    MUG

  2. Omongkan, omongkan. omongkan . . .
    Kebenaran yang didiamkan akan amblas ditelan bumi.
    Sudah banyak kebenaran Karo ditelan bumi. Sekarang gali lagi, omongkan!

    Dukung Ahoy Mejuah-juah walikota Zulmi Edin. Dia akan bikin sejarah.

    MUG

Leave a Reply