Galiman: Hargemantan gementan gajah malengkang

0
413

Oleh: Adri Istambul Lingga Gayo (Surabaya)

 

galimanAdri IstambulJambu klutuk atau jambu batu bahasa Karonya galiman. Dulunya, galiman tumbuh di pekarangan ataupun di ladang tanpa sengaja ditanam khusus. Buahnya waktu itu belum dikenal dapat dibuat jus maupun manisan. Tidak heran pohon galiman tumbuh begitu saja. Seringkali menjadi makanan burung atau masak di pohon.

Semasa kecilku dulu, dengan teman-teman sepermainan sering nangko galiman alias mencuri jambu klutuk di pekarangan rumah yang tidak berpenghuni atau di ladang atau kebun yang pemiliknya sedang tidak berada di sana.


[one_fourth]namanya memasuki pekarangan atau ladang orang tanpa izin[/one_fourth]

Istilah mencuri sebetulnya tidak terlalu tepat karena sesungguhnya buah galiman itu tidak memiliki nilai ekonomis. Lagipula, anak anak yang mengambilnya hanya 1 sampai 3 buah untuk dimakan di tempat. Tapi , yang namanya memasuki pekarangan atau ladang orang tanpa izin tetap dianggap mencuri. Ha…. ha…. ha…. Ha…. Namun, tidak pernah ada sanksi hukum atau orang mengadu ke polisi bilau buah galimannya diambil oleh anak anak.

Saya pernah diajak nangko galiman oleh teman-teman sepermainan. Namun, ketika saya mau makan, saya ragu. Konon katanya, kebun itu ada yang jaga sebangsa zin (Bahasa Karonya sengen). Kalau kita ambil tanpa izin (mencuri) di kebun itu, perut kita jadi buncit. Lalu, salah seorang teman yang lebih tua membaca mantera; hargementen hargementen gajah malengkang tidak ada kata bisa, bisa si indong-indong…. puh…. puh…. Puh. Disemburkannya ludahnya lalu menggigit galiman itu.

“Lihat,” katanya.

“Mana itu zin yang jaga? Mana sengen yang bikin perut buncit itu” katanya lagi menantang.

Sampai habis buah galiman itu dia makan. Tetap tak bergeming, aku tidak mau makan, takut dosa dan takut sengen.

Setelah aku SMA, baru aku tahu ternyata itu masih ladang pamanku dan memang tidak ada zin atau sengen di situ yang bikin perut buncit. Jadi, hanya sekedar nakut-nakutin. Aku jadi tertawa sendiri dan terkenang dengan galiman yang besar dan ranum, yang sudah di tangan tapi tidak jadi kumakan.


[one_fourth]galiman menjadi buah favorit saat itu[/one_fourth]

Galiman memang menjadi buah yang paling gampang didapat dengan gratis, berbeda dengan buah-buah yang lain seperti halnya nanas, mangga, sirsak, durian, tebu, jeruk atau kelapa yang sudah menjadi komoditi barang dagangan. Dulu, kita tidak mengenal apel Washington, jeruk Mandarin, durian Bangkok, salak Pondoh, anggur, buah naga, melon, semangka, ataupun buah pir yang sekarang sudah diecer oleh pedagang sepanjang jalan besar di kampungku. Karena itu, galiman menjadi buah favorit saat itu.

Galiman juga menjadi inspirasi seniman Karo seperti lirik: “Bagi galiman tamburi bulungna..” Artinya, masak bukan karena disengat mentari (karena dilindungi oleh daunnya) tapi masak wajar sesuai usia ata, gambalangnya, kecantikan alamiah yang tersembunyi.

Galiman itu, aku tanam di pekarangan belakang rumahku. Sekarang berbuah lebat. Setiap aku makan buah galiman itu aku selalu ingat mantra penghilang sengen alias zin: Hargemantan gementan gajah malengkang….

Teriring salam hangat dari seorang kawan di pinggir lumpur LAPINDO Sidoarjo@AILG


Leave a Reply