Renungan Paskah: SINABUNG

0
197

Oleh: Daud S. Sitepu (Papua)

 

sinabung 5
Reporter Sora Sirulo/ Sirulo TV saat meliput erupsi Gunung Sinabung.

daud  sitepuSinabung adalah gunung yang mempunyai karakter berbeda dari gunung-gunung berapi lainnya saat meletus. Rata-rata gunung meletus dengan cepat dan sekaligus besar dan selesai. Lalu, terjadi lagi letusan tapi ratusan tahun kemudian.

Gunung Sinabung karakter letusannya berulang dan tidak sekaligus serta tahunan. Tidak seorangpun yang tahu dan tidak seorangpun dapat meramalkan kapan akan terjadi letusan besar sekaligus berakhirnya muntahan yang berulang-ulang ini.

Dampaknya, derita yang tak berkesudahan bagi yang tinggal di sana. Kesulitan bertani, yang merupakan sumber kehidupan sehari-hari. Kesulitan untuk membiayai anak sekolah karena sumber penghasilan berkurang. Stress dan derita setiap hari melihat kondisi ini. Kapan akan berakhir?

Perlu semangat dan pemikiran untuk melepaskan diri dari kondisi yang ada dan mencari lahan baru, mencari alternatif pekerjaan baru, mencari usaha-usaha lain di desa lain, atau kota lain untuk bertahan hidup dan hidup yang lebih baik.


[one_fourth]ribuan tahun barangkali nenek moyang tinggal dan bercocok tanam di sini[/one_fourth]

Berat memang untuk meninggalkannya, karena sudah ratusan tahun bahkan ribuan tahun barangkali nenek moyang tinggal dan bercocoktanam di sini. Kuburan-kuburan nenek moyangpun turun menurun di sana dan sudah menyatu dengan alam. Ini pola hidup kita Karo.

Kata-kata “inget kuta kemulihen” sejak meletusnya Gunung Sinabung telah membuat banyak kalak Karo di rantau mikir dua kali. Kalau pulang tinggal dimana lagi? Rumah semua sudah bocor kena belerang dan debu vulkanik. Banyak yang sudah roboh dan tidak punya biaya untuk perbaikannya.

Saya juga sedih rumah orangtua di Sukatendel kena debu tebal dan ladang tertutup oleh debu tebal. Matilah hasil pertanian dan kebun yang ada. Rumah bocor dan tidak bisa didiami lagi. Akhirnya dipugarlah rumah dengan seng baru dan kerangka atap baru.

Belum berhenti sampai di situ. Saat muncul lagi letusan, apalagi keluarga kami yang tepat di kaki Sinabung, harus mengungsi jauh dan harus tinggalkan kuta.

Mencari pekerjaan lain ternyata tidak mudah. Banyak sanak keluarga yang harus bertahan dengan tani dan jadi tukang cuci mobil, jualan tomat di Medan, jualan cabe, dll. Derita demi derita berkepanjangan terjadi.

Hanya satu pengharapan, Tuhan berkati kami semua Taneh Karo Simalem, ampuni dosa-dosa kami, pulihkan hidup kami Tuhan. Damai di Paskah ini turun kiranya atas kami. KehendakMu yang jadi bagi kami karena dariMulah kami hidup dan Engkau selalu memberi yang terbaik.

Selamat Paskah untuk seluruh saudaraku di Taneh Karo. Tetap bersyukur dan berdoa. Amin.


Leave a Reply