Penanganan Total Dampak Erupsi Sinabung

0
139
sinabung 5
Wartawan Sora Sirulo Ngguntur Purba saat sedang meliput erupsi Gunung Sinabung.

bastantaBASTANTA P. SEMBIRING. MEDAN. Berbicara tentang bencana Sinabung tentunya menyangkut banyak hal. Bukan saja mengenai mereka yang secara langsung terkena dampaknya atau dengan kata lain mereka yang tinggal di kaki Gunung Sinabung (radius 0 – 5 km), tetapi juga terhadap mereka yang secara tidak langsung terkena dampaknya.

Seperti pantauan Sora Sirulo di Kecamatan Patumbak (Deliserdang). Saat aktifitas Sinabung meningkat, debunya sampai ke wilayah Karo Jahé ini. Bahkan saat erupsinya pada tahun lalu, warga harus menggunakan masker dan tidak berani menjemur pakaiannya di luar karena debu yang tebal. Dari pengakuan teman-teman di beberapa kabupaten lainnya seperti Langkat, Binjai, Kota Medan, Serdang Bedagai, dan Kota Tebing Tinggi juga mengalami nasib yang sama.

Dampak erupsi Sinabung ini sangat terasa, baik berupa debu ataupun kenaikan harga komoditi sayuran. Untuk beberapa derah di Provinsi Sumatera Utara, sebagian besar kebutuhan sayur mayur biasanya dipasok dari Datara Tinggi Karo (Karo Gugung).

Bahkan, seperti telah banyak diberitakan oleh media, erupsi Sinabung sempat beberapa kali mengganggu aktifitas penerbangan di Bandara Kuala Namu International (KNIA). Ini menjadi bukti bahwa Sinabung benar-benar menjadi bencana nasional yang harusnya juga diperhatikan di dalam konteks nasional.

Melalui kontak BBM, Sora Sirulo mencoba mengumpulkan pendapat-pendapat warga di luar Kabupaten Karo, khususnya orang Karo di perantauan.

Laurensius
Yose Laurensius Sembiring

Yose Laurensius Sembiring, seorang putera asli Karo asal Sarinembah (Kabupaten Karo) mengatakan, relokasi total, baik permukiman dan lahan adalah solusi satu-satunya. Mengingat Sinabung sudah bertahun-tahun tidak berhenti juga. Tidak mungkin selamanya saudara kita bisa hidup di pengungsian.

”Sebaiknya pemerintah benar-benar mensterilkan wilayah Radius 3 Kilometer bahkan hingga 5 Kilometer. Sebagaimana diberitakan oleh Sora Sirulo, jarak sebaran dampaknya semakin hari semakin meluas. Baiknya, wilayah-wilayah yang langsung terdampak (0-5 Km) itu dijadikan saja kawasan hijau sebagai benteng pertahanan menghadapi erupsi di masa mendatang,” kata Laurensius yang sekarang bekerja sebagai staf di salah satu Bank BUMN, Air Molek (Riau).

Saat Sora Sirulo mempertanyakan mekanismenya, Laurensius mengatakan, harus ada dialog antara warga dan pemerintah. Bukan itu saja, harus ada insentif-insentif khusus, baik untuk biaya hidup, usaha, pertanian, kesehatan, dan sekolah.

“Mengingat lokasi relokasi di Siosar adalah bukaan baru, tentunya membutuhkan waktu untuk bisa ekonomi bergerak dengan baik. Di masa-masa sulit ini, warga Karo yang terdampak erupsi Sinabung butuh dukungan penuh dari pemerintah dan pihak terkait lainnya,” paparnya


[one_fourth]tidak hanya memberitakan hal-hal buruk tentang Sinabung[/one_fourth]

Hal senada juga di sampaikan Helly beru Bukit, warga Karo perantauan asal Buluhawar (Kecamatan Sibolangit) (Karo Jahé) di Bandung. Helly menambahkan, baiknya media, khususnya media untuk konsumsi korban terdampak, tidak hanya memberitakan hal-hal buruk tentang Sinabung.

“Berita buruk hanya menambah kepanikan dan rasa pesimis. Perlu mengimbanginya dengan berita-berita positif; misalnya pelajar/mahasiswa Karo korban Sinabung yang tetap semangat bersekolah dan berprestasi, ataupun warga korban Sinabung yang mencari peruntungan dengan berdagang baik masih sekitaran Kabupaten Karo ataupun di luar. Berita-berita positif ini dapat membangkitkan semangat dan rasa optimisme saudara-saudara kita di Kabupaten Karo,” kata Helly beru Bukit melalui pesan BBM-nya kepada Sora Sirulo.

Ditemu di tempatnya berjualan, beru Sembiring seorang perantau asal Kabanjahe yang sekarang tinggal di Jambi, mengaku kampung halaman suaminya (Ginting Suka) di Gurukinayan sangat parah terkena dampak erupsi Sinabung. Di awal Tahun 2015 lalu, mereka memutuskan mencari peruntungan di Jambi sebagai pedagang sayur. Dia merasa bersyukur Tuhan masih memberi jalan, bahkan lebih baik dari kehidupan sebelumnya.

“Dulu saat di kampung, satu jam sekali pun belum tentu ada kenderaan yang melintas. Tidak bebas kemana-mana jika tidak punya kendaraan sendiri. Sekarang, mau ke mana saja mudah dan membuka usaha apa saja pun bisa, mengingat kita tinggal di jalan lintas,” tuturnya.

Hal yang sama juga dirasakan beru Ginting yang juga berjualan di sampingnya.

Kita percaya, semakin banyak gagasan membahas masalah erupsi Sinabung akan mendorong semakin banyaknya kepedulian. Ini akan memberi semangat bagi saudara-saudara kita korban erupsi Sinabung di Kabupaten Karo, sembari berharap agar pemerintah baik Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara, dan juga Pemerintah Pusat menyelesaikan proyek-proyek yang telah disusun untuk membantu saudara kita di Kabupaten Karo.


Leave a Reply