Main Tusuk Belakang

1
327

Oleh: Daud S. Sitepu (Papua)

 

daud  sitepuMegawatiSalut, pidato Bu Megawati kali ini luar biasa. Di Bali, saya saksikan dari tayangan TV, penuh semangat tanpa teks.

Suara lantang dan berbobot. Tidak seperti saat Wakil Presiden dan Presiden berpidato yang kelihatan kaku dan kontekstual. Suaranya tegas dan lugas tepat sasaran. Saya perhatikan, para hadirin pun pasti merinding bulu kuduknya ataupun tergetar sanubarinya mendengar pidatonya.

Presiden Jokowi, Jusuf Kala, Puan Maharani, dan Mendagri Tjahjo Koemolo ada hadir dengan segenap pengurus partai dan para menteri PDIP serta para undangan.

Isi mendasar sambutannya adalah bahwa Presiden dan Wakil Presiden yang duduk di singgasana adalah hasil kerja keras Partai.


[one_third]Presiden dan Wakil Presiden wajib mensinkronkan kebijakan partai dengan pemerintahan[/one_third]

“Maka dari itu, Presiden dan Wakil Presiden wajib mensinkronkan kebijakan partai dengan pemerintahan karena yang duduk di pemerintahan adalah Amanat Rakyat dan partai politik. Dasarnya adalah Undang-undang No. 8,” demikian kira-kira yang disampaikan oleh Bu Mega.

Soal kekuasaan dan tusuk dari belakang, ini tidak jarang terjadi di negara manapun. Yang membedakan Bu Mega adalah dia punya idealisme, dia punya kesungguhan, dia mau bekerja keras. Bukan untuk kekuaan saat sesaat. Dia punya pengikut setia dari Papanya sebagai pendiri bangsa ini dan punya konsep nasionalis kerakyatan dalam berpolitik.

Yang mau kekuasaan sesaat kita lihat saat ini adalah para tokoh partai yang dulu jaya karena jabatan menteri, dan jabatan-jaban tinggi lainnya. Sekarang, tanpa kekuasaan dan partainyapun mulai kabur air dan hilang dari daratan.

Selama 20 Tahun memimpin partai, ini adalah sekolah politik yang bagus, apalagi satu-satunya perempuan. Di negara kita awal-awalnya seolah menjadi persoalan kalau perempuan yang menjadi pemimpin. Padahal, kita punya Kartini penggerak emansipasi untuk kemajuan bangsa. Saat tiba waktunya perempaun di tampuk kekuasaan malah sebagian menolaknya jadi pemimpin. Aneh juga rasanya.

Tapi Bu Mega sudah membuktikan kemampuannya 2 periode oposisi, lalu tampil memimpin, namun pengikutnya tidaklah berkurang.

Kita berharap, tidak hanya Bu Mega yang akan tampil di kancah partai dan pemimpin negara kita tapi juga muncul perempuan Indonesia yang hebat di dunia internasional.

Awas, jangan main tusuk belakang. Berbahaya!


1 COMMENT

  1. Penuh semangat tanpa teks?
    Ula min pemela-melaken bang! Pake Mega kap teleprompter.

    Kai pe labo eteh Mega, labo lit sekolahna. Gelar bapana ngenca lalap baba-baba na.

Leave a Reply