Kisah Bersambung: Ginting Manik Mergana (2)

2
164

Mencari Jawaban

manik 2
Model: Padri Ginting. Foto: Muslim Ramli. Designer: Juara R. Ginting

 

 

[one_fourth]Oleh: Bastanta P. Sembiring (Urung Senembah)[/one_fourth]

Maret 1928. Sepucuk surat yang ditujukan kepada fa. Poetra Karo – Deli tiba di Deli. Isinya protes dari pedagang Penang yang mengeluhkan barang tidak sesuai dengan spesifikasi pesanan. Bahkan, dalam surat itu, rekanan dagang di Penang menilai barang yang terakhir dikirim bukan hanya tidak sesuai, tetapi kualitasnya sangat buruk. Mereka mengancam, jika tidak segera mendapat konfirmasi dan barang pengganti dari Deli, maka selanjutnya mereka tidak akan lagi mau menerima kiriman dari kongsi dagang itu.

Sebagai orang yang bertanggungjawab atas pasokan barang, Perangin-angin bergegas memeriksa catatannya untuk mengetahui asal usul barang yang dikomplain oleh rekanan mereka di Penang. Ternyata beberapa barangnya datang dari Kuta Namo Kelawas.

Mengetahui hal ini, Perangin-angin pun segera melaporkan kepada Amir yang adalah pimpinan dari kongsi dagang. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Amir dan Perangin-angin pun segera bergegas ke Namo Kelawas untuk memeriksa dan mempertanyakan perihal kualitas barang kepada para tengkulak.

* * * *

Sesampainnya di Namo Kelawas, sekitar dua jam perjalanan dari Medan, mereka menuju rumah kediaman Ginting Manik Mergana dan menceritakan hal ini. Ginting Manik Mergana sangat terkejut mendengarnya dan tidak percaya.

Labo kuakap bagé kel teman-temanta é, impal,” katanya meyakinkan Amir dan Perangin-angin kalau anak kutanya tidak mungkin melakukan hal demikian, yakni memberikan barang tidak sesuai permintaan.

Aku pé bagé nge ukurku, pal,” jawab Amir. Sambungnya: “Émaka mis ndai kami ras mbuyak énda ku jénda.”

Setelah mendengar semua cerita dari Amir dan Perangin-angin, selesai makan siang Ginting Manik mengajak kedua sahabatnya itu untuk bertemu para tengkulak mempertanyakan perihal kejadian. Namun, dari para tengkulak-tengkulak itu mereka tidak mendapat jawaban yang berarti.

Selanjutnya, mereka menemui para petani dan pembuat gula. Jawaban senada juga mereka peroleh dari para petani dan pembuat gula.

Hari sudah mulai gelap, namun belum juga mendapatkan petunjuk yang dapat memberi penjelasan dimana sesungguhnya sumber masalah.

Kuakap bagénda saja, impal. Sendah ola lebé kéna mulih ku Medan. Sidarami saja ija kin énda selipna. La kel kuakap sikap bagé,” kata Ginting Manik kepada Amir dan Peranginangin.

Lalu, lagi kata Ginting Manik: “Mé labo kel sibuk kéna sangana i Medan é?

Lama Amir dan Perangin-angin tampak berpikir.

Bagénda saja sibahan, mbuyak. Aku deh kam, la tertadingken aku ndekah-dekah anakta oh. Jadi, sendah jendé saja kam,” kata Amir kepada Perangin-angin.

Katanya lagi: “Adi urusen si Medan mé banci kari kulakoken ras pagi muat ciger é enggo mé aku banci mulihi ku jénda. Uga akapndu?

Adi bagé kin akapndu sijiléna, bagé silakoken, yak,” jawab Peranginangin.

Merekapun pergi meninggalkan tempat pembuatan gula. Amir langsung kembali ke Medan, sedangkan Perangin-angin mengikuti Ginting Manik mergana dan malam itu juga dia menginap di rumah Ginting Manik.

BERSAMBUNG

Sebelumnya: “Awal Dari Segalanya

2 COMMENTS

  1. Kisah ini sangat menarik karena soal lama yang orang sekarang ingin mengetahui. Orang akan menanti terus lanjutannya . . .

    UG

Leave a Reply