Kolom M.U. Ginting: KEARIFAN LOKAL KARO

0
489
mejuah 5
Sanggar Seni Sirulo di Anjungan Pesta Mejuah-juah, Berastagi

M.U. Ginting 2Tahun 2015 ini, Pemkab Karo melalui stakeholder akan adakan pesta mejuah-juah dengan tema “budaya tradisional Karo demi kearifan lokal”. Terimakasih kepada Pemkab Karo yang telah berpikiran maju begini.

Tema ini bagus dan aktual karena sesuai dengan tema serta dasar perkembangan dunia sekarang yang bisa diartikan dalam The Clash of Civilization Huntington secara global, tetapi secara lokal bisa dinamakan atau diartikan sebagai The Clash of Kearifan Lokal (local wisdom).

The Struggle of Kearifan Lokal adalah satu gerakan ethnonasional/ suku yang sekarang sangat aktual bagi kelangsungan tiap suku bangsa negeri ini dan juga dunia. Dalam istilah jargon politik yang sudah sering disebutkan dengan ‘melestarikan kultur dan budaya lokal’. Tetapi, yang selama ini hanya dalam jargon saja, tak pernah dinyatakan dalam tindakan konkret. Pesta Mejuah-juah kali ini adalah tindakan konkret!


[one_fourth]Abad 20 gerakan nasionalisme negeri-negeri terjajah membebaskan dirinya[/one_fourth]

Dunia kita sekarang sedang dilanda arus keras peradaban/ kultural atau lanjutan dari arus keras nasionalisme yang telah terjadi pada Abad 18 di Eropah. Pada Abad 19, gerakan orang Eropah mengkolonisasi negeri-negeri terbelakang dan pada permulaan Abad 20 gerakan nasionalisme negeri-negeri terjajah membebaskan dirinya. Gerakan nasionalisme ini umumnya telah berhasil dicapai dengan kemerdekaan banyak negeri terjajah, walaupun dengan meninggalkan luka-luka yang kemudian mengakibatkan perselisihan perbatasan daerah, dan juga perang etnis yang sangat banyak makan korban.

mejuah 6Bersamaan dengan itu, di Eropah dan juga seluruh dunia muncul gerakan yang paradox dengan Nasionalisme yaitu Multikulturalisme dan internasionalisme oleh kaum Komunis/ Sosialis yang dipelopori oleh Karl Marx serta orang-orang Sosialis dunia. Gerakan ini sangat anti-Nasionalisme dan sangat anti-sukuisme. Sering dulu kita dengar dengan istilah anti-primordialisme. Rakyat Indonesia tentu sangat merasakan ini ketika era Nasakom di Indonesia.

Orang Karo pasti tak lupa soal gerakan pendirian Propinsi Sumatera Timur pada Akhir 1950an dan Permulaan 1960an sedang gesit-gesitnya gerakan Nasakom. Gerakan Propinsi Sumatera Timur ini dipelopori oleh suku-suku asli Sumtim yaitu Karo, Melayu dan Simalungun. Nasakom yang sudah kejangkitan multikulturalisme dan internasionalisme berhasil melumpuhkan gerakan ‘kearifan lokal’ ketiga suku ini.

Pada permulaan era Reformasi, gerakan ‘kearifan lokal’ berubah jadi gerakan pendirian propinsi tiap suku yaitu Propinsi Sumtra orang Mandailing, Protap orang Batak, Aslab orang Melayu, Nias dan Propinsi Karo. Protap dan Nias sudah dapat persetujuan dari DPR RI. Gerakan ini juga telah sempat mengorbankan Ketua DPRD Sumut, seorang putra terbaik Suku Pakpak.


Leave a Reply