Supir Beca dan Konferensi Asia Afrika

1
207

Oleh: Joni Hendra Tarigan (Pengalengan, Jabar)

 

joni hendra tariganKAA 3Perhelatan Konfrensi Asia-Afrika segera akan dimulai. Saya membayangkan roh- roh presinden pendahulu yang 1955 ikut rapat di Gedung Merdeka Bandung dengan senyum berharap banyak agar keadilan global yang mereka cita-citakan dulu bisa direalisasikan oleh pemerintahan generasi saat ini. Soekarno, saya tersenyum mengenang foto dan serangkaian video dokumentasi tentang keterlibatannya dalam konferensi yang ia gagas.

Pernah saya bawa keponakan  ke Gedung Merdeka, tempat KAA-1955 dilakukan, sekitar Febrauri 2013. Saya tunjuk ke patung Soekarno dan katakan kepadanya: “Itu patung Soekarno, presiden kita yang pertama.”

Keponakan yang masih duduk di bangku TK mangguk-mangguk. Di bagian ruangan lain, ada terpampang foto peserta KAA-1955. Saya tanya keponakan: “Coba tunjukkan mana presiden kita.”

Dia langsung menunjuk tepat ke Soekarno.

“Bagaimana kamu bisa tau?”

“Kan Soekarno itu presiden Indonesia, terus kita ini kan di Indonesia. Ya, pasti presiden kita harus di tengah,” jawab anak TK itu yang memang saya kagumi kepintarannya.

Saya senang dengan membawa ke museum ini keponakan saya belajar dan mencoba berfikir tentang apa yang ia lihat dan saksikan. Sambil berjalan, kami menikmati sudut-sudut dan ruang Gedung Merdeka.

“Ini bendera kita Indonesia, Merah Putih,” spontan itulah yang diucapkan oleh Tia Theresia Sembiring, keponakan  saya, itu ketika melihat barisan bendera yang dikibarkan di salah satu gang.

April 2015, KAA sudah berusia 60 tahun. Pada Jumat 20 Maret 2015, saya dengan setia mendengarkan keluhan supir taksi.

“Udah ma, semua mahal, macet dimana-mana. Ini malah makin macet karena mau ada apa itu, Pak. Apa sih namanya saya tidak tahu,” kata supir itu.

 Saya dengan santai mengatakan itu sebentar lagi akan digelar Konferensi Asia Afrka.

“Buat apa itu, teh?” tanyanya lagi.

Saya jelaskan, konferensi itu akan sangat banyak gunanya. Pemerintahan Jokowi sangat beruntung dengan konferensi ini. Selain kepentingan-kepentingan dunia yang dibahas sudah pasti kepentingan Indonesialah yang secara khusus dikedepankan. Konferensi ini akan menjadi bagian dari pemerintah dan swasta untuk saling bertukar informasi yang kemudian bisa dijadikan wadah untuk membangun kerjasama di bidang sosial, ekonomi dan yang lain.

Kita ambil contoh, seandainya PT Dirgantara Indonesia berhasil menjual pesawat buatannya  selama konferensi ini, maka sudah tentu perusahaan ini akan untung. Keuntungannya bisa dari sisi uang, jam kerja, dan penguasaan teknologi yang semakin maju. Bayangkan, karena kemajuan industri peseawat ini, semua yang terlibat dalam produksinya akan mendapat pendapatan yang lebih lagi. Masing-masih keluarga karyawan akan tercukupi pula kebutuhannya.

“Menurut bapak, mungkin tidak saya naik taksi kalau untuk perut saja saya masih tidak cukup?” saya lanjut bertanya ke supir taksi.

“Ya, tentu tidak,” katanya lagi.

Jadi, seperti inilah kemajuan ekonomi itu berdampak bagi banyak orang.

“Saya bukan karyawan PT Dirgantara Indonesia, tetapi toh berarti pendapatan di tempat saya bekerja bisa saya bagikan ke bapak lewat naik taksi ini,” kata saya lagi.

Saya lanjutkan lagi dengan mengatakan, bahkan seorang supir becak pun akan menerima dampak dari kemajuan ekonomi Indonesia. Bayangkan jika saya dari depan komplek  mau ke rumah di saat terik atau hujan.

“Kalau saya tidak punya uang apa saya akan naik becak? Tentu tidak.”

Begitulah ulasan saya bahwa konferensi ini akan berdampak baik bagi NKRI dan negara-negara lain. Apalagi sosok Jokowi yang memimpin, saya  menaruh harapan dan yakin beliau akan bekerja sekuat tenaga untuk rakyat. Memang, mulai banyak ungkapan kekecewaan rakyat terhadap apa yang sudah dilakukan Kabinet Kerja. Akan tetapi, kita perlu jernih dan jujur menilai diri sendiri dan orang lain.

Dalam cakupan luar, kita harus jujur menilai kinerja presiden kita dan jajarannya. Untuk menammatkan pendidikan sarjana saja rata-rata butuh waktu 4 tahun. Lantas, dimana kejujuran kita mengiginkan Kabinet Kerja menyelesaikan persoalan bangsa ini dalam waktu  lima bulan?

Jangan sampai kita menuntut kewajiban pemerintah yang sedang berjuang dan bekerja keras  untuk kita, sedangkan kita sebagai rakyat kebanyakan berdebat apa yang sedang mereka kerjakan. Kita mungkin lupa, kita juga sebagai rakyat punya kewajiban untuk merubah keadaan bangsa kita ini. Kita mungkin tidak sadar, bahwa kita menginginkan perubahan tetapi tidak melakukan apa-apa, tetapi ribut berdebat benar atau tidak, tepat atau tidak  kebijakan yang dilakukan pemerintah.

Kita sebagai warga memang perlu menuntut keadilan, kesehatan, kesejahteraan. Tetapi, sebagai warga negara, apakah kita menjadi bagian dari permasalahan bangsa ini atau kita memilih menjadi warga negara yang berjuang menjadi bagian dari pemberi solusi atas kondisis bangsa dan negara kita?

Salam semangat NATIONS IN SOLIDARITY.


1 COMMENT

  1. Betul memang pendapat JHT supaya KAA bisa dimanfaatkan demi mendongkrak perubahan dan perkembangan Indonesia, terutama oleh pemerintah Jokowi yang beruntung dapat giliran ke 60 KAA. Dalam ekonomi seperti industri pesawat itu. Saling memperkenalkan dan saling mendorong produksi negeri masing-masing.
    Dari segi politik dunia memperkenalkan revolusi mental Jokowi misalnya perubahan pikiran dunia melihat kembali multikulturalisme dan internasionalisme yang masih punya pengaruh mendalam dikalangan pemimpin negeri berkembang seperti Mugabe dan Zuma. Multikulturalisme dan internasionalisme bikin politik open borders dan politik open borders adalah ‘immoral’ kata prof Frank Salter.
    MUG

Leave a Reply