Kolom M.U. Ginting: NASIONALISME

1
202

M.U. Ginting 2Nasionalisme 2Tadinya, kita mendengar sangat sering anti-immigrasi di Eropah dengan munculnya partai-partai nasionalis yang sering pula dijuluki dengan ultra kanan, kanan baru, extrim kanan, neo fasis, dsb, dsb. Banyak nama sudah disebutkan. Tetapi, apa yang terjadi dalam kenyataan ialah bahwa partai-partai ’kanan’ ini semakin besar saja dan gerakan ini malah semakin mejalar juga ke negeri-negeri berkembang seperti Afrika Selatan.

Penentang-penentangnya ialah tipe Mugabe atau Zuma. Belum ada pembesar/ pemimpin politik negeri berkembang yang memihak gerakan anti-immigrasi. Berlainan dengan ahli-ahli sosial akademisi seluruh dunia yang sudah banyak membikin analisa mendalam soal ini.

Ada banyak harga yang harus dibayar oleh penduduk lokal/ asli dengan adanya politik migrasi atau immigrasi. Di Indonesia, sempat juga ada politik transmigrasi yang telah banyak merugikan penduduk asli dan bahkan perang seperti di Kalteng atau Maluku.

Dari segi ekonomi di Eropah, terlihat misalnya “Denmark’s strict immigration law reform has saved the country 6.7 billion euros compared to previous more permissive approach, according to The Integration Ministry April 2011 report” (Wikipedia).

Dari segi kriminalitas, di mana banyak immigran di situ lebih banyak terjadi kejahatan. Ini juga kita bisa saksikan sendiri dengan membandingkan Tanah Karo yang masih lebih homogen kultur Karo dibandingkan dengan kriminalitas di daerah Deliserdang dimana sudah terlalu banyak pendatang bukan asli Karo, apalagi di Medan atau Jakarta.

Prof. Putnam bikin kesimpulan dimana banyak ragam etnis di situ semakin sedikit saling percaya sesama penduduk dan karena itu juga modal sosial jadi rendah dan peningkatan kemajuan terhambat karenanya.

Dari segi kerugian lain bagi penduduk local, seperti kekuasaan dan tanah subur pindah tangan ke migran pendatang seperti jelas terlihat di Pakpak Dairi atau Simalungun/ Siantar.

Perusakan lingkungan karena tak terjaganya ketertiban sopan santun kehormatan atas budaya lokal yang umumnya sangat menghormati alam.

Gerakan anti immigran di Afrika Selatan sekarang ini adalah bagian yang tak terpisahkan dari gerakan besar dunia melikwidasi pengaruh negatif multikulturalisme, dan juga gerakan internasionalisme yang dipelopori oleh gerakan ’kiri’ dunia Abad 19 dan 20.

Abad 21 adalah abad Nasionalisme dan Ethnonasionalisme yang merupakan lanjutan dari Abad 18. Selama 2 abad gerakan ini tertidur dininabobokkan oleh Internasionalisme dan Multikulturalsime.


1 COMMENT

  1. Open borders movement adalah bagian dari multikulturalisme dan internasionalisme. Prof Frank Salter dari Australia bilang tegas bahwa ‘open borders movement is profoundly immoral’. Jadi bukan hanya banyak merugikan penduduk lokal tetap juga adalah tak bermoral. Banyak argumentasi ilmiah yang dia sudah tuliskan.

    MUG

Leave a Reply