Kartini Karo yang Kisah Nyata

1
292

Oleh: Juara R. Ginting (Leiden)

 

Juara R. Ginting 3Kartini 2Mungkin salah, mungkin benar. Tiba-tiba saya teringat komen turang Cahaya Purba mengenai Cerpen: KARTINI MEMBELA DIRI karya Ita Apulina Tarigan yang mengingatkanku pada sebuah kisah nyata di masa kolonial di Dataran Tinggi Karo.

Katanya: “Kisah ini persis seperti kisah Nenek Ribuku yang dipaksa kawin sama Nini Bayakku. Cuma, Bayakku dulu tidak mempan pisau. Jadi, Nenek Ribuku bisa hamil dan melahirkan 2 anak lagi. Setelah bapakku lahir berusia 7 bulan, barulah bayakku pindah alam dalam usia hampir 80 tahun. Selamat Hari Kartini wahai para wanita Karo.”

Dari tadi saya tidak kepikiran. Baru saja saya teringat. Cerpen itu ternyata dimodifikasi dari kisah nyata yang dituturkan oleh bengkila Payung Bangun (Pa Berontak) kepada saya semasa hidupnya.

“Bukan main-main. Bibi saya masih berusia 11 tahun diikat tangannya ke gereta lembu dan ditarik dari Batukarang ke Kabanjahe. Tanda kalah perang, kata Pa Pelita. Lalu, di pesta perkawinan mereka, ditabuh gendang dan pihak pengantin perempuan dipaksa menari dengan cara menyembah ke pihak pengantin pria. Adat pun diobok-obok dengan pernyataan kalah perang padahal kemenangannya dalam perang itu atas bantuan militer Belanda,” tutur Pa Berontak dengan wajah yang, siapa saja yang mengenal Pa Berontak akan mengetahui bagaimana dia bisa lebih garang dan berwibawa daripada Soekarno, kalau sudah ngomong mengenai sejarah perjuangan.

Sangat tidak mengherankan bila Revolusi Sosial berdarah di Sumatera Timur diawali di Batukarang (sebuah kampung di Dataran Tinggi Karo) dan dipimpin oleh putra tertua dari Pa Garamata, yaitu Koda Bangun, orang Karo pertama yang masuk Gerindo (Gerakan Indonesia). Perempuan berusia 11 tahun yang dinikahi Pa Pelita itu adalah putri dari Garamata, saudari dari Koda Bangun.

Jangan lupa, Garamata sempat berjuang di Perkebunan milik putra Jansen di Senembah. Dari Senembah jugalah munculnya Tan Malaka yang bekerja sebagai guru di sana. Di sana jugalah Koda Bangun belajar Komunisme. Di sana juga, khususnya di Talapeta, Payung Bangun mendapat pendidikan militer dari Inoi (orang Jepang) yang mengembangkan pertanian Sistim Shogun di Talapeta.

Inoi masih sempat bersembunyi di hutan Sinabung (Lau Kawar) setelah Kemerdekaan RI dengan mendapat perlindungan dari bekas murid-muridnya yang tergabung dalam Barisan Harimau Liar (BHL).

(Jansen dan Nienhuis adalah 2 orang Belanda yang terdampar di Deli dan kemudian memulai perkebunan tembakau di Labuhan Deli)

Salah seorang yang biasa masuk menemui Inoi di dalam hutan adalah guru saya dalam filsafat dan kosmologi Karo. Dialah yang bercerita padaku bagaimana Inoi, sebagai seorang Shogun, bisa meloncat ke sana ke mari seperti Tarzan dari satu pohon ke pohon lainnya.

Inoi sempat menjadi mitos di sekitar Gunung Sinabung. Ibu saya yang berasal dari kaki Gunung Sinabung (Berastepu) pernah cerita pada saya sewaktu kecil. Katanya, Inoi bisa berjalan kaki di atas Danau Lau Kawar.

Antara sejarah dan mitos yang dirangkai oleh Ita Apulina Tarigan menjadi sebuah karya sastra yang mencekam dan menarik sekali.

Mengharukan! Selamat Hari Kartini, nak we!


1 COMMENT

  1. Saya baru baca tulisan Saudara Juara R Ginting ini, yang menurut saya ada beberapa hal yang tidak benar dan perlu dikoreksi. Perkenalkan saya Iskandar Purba, cucu dari Nembah Bangun dari pihak ibu saya. Kakek saya Nembah Bangun ini merupakan anak dari Kiras Bangun, Pahlawan Nasional dari Tanah Karo.
    Beberapa hal yang perlu dikoreksi:
    1. “Bukan main-main. Bibi saya masih berusia 11 tahun …. ”
    Terupung br Bangun, bukan bibi dari Pa Berontak, tapi turang (saudari perempuan) Pa Berontak. Pa Berontak (Payung Bangun) bulang saya juga karena senina (saudara kandung) bulang saya.
    2. Terupung br Bangun (ribu saya) ketika menikah dengan Pa Pelita bukan berumur 11 tahun, tapi berumur 15-16 tahun.
    3. ” …diikat tangannya ke gereta lembu dan ditarik dari Batukarang ke Kabanjahe”. Seolah olah Terupung br Bangun tahanan perang yang diikat dan diseret-seret dengan berjalan kaki dari Batukarang ke Kabanjahe. Yang benar Terupung br Bangun memang dipaksa kawin dengan Pa Pelita, dan dibawa dengan ditandu dari Batukarang ke Kabanjahe, sebagai calon istri Sibayak Kabanjahe. Perkawinan ini dipaksanakan agar ada perdamaian antara Pa Pelita dengan Kiras Bangun. Kalau Pa Pelita sudah menikahi putri Kiras Bangun, diharapkan Kiras Bangun tidak memusuhi Pa Pelita lagi yang telah membawa Belanda ke Tanah Karo yang diperangi Kiras Bangun. Bisa dilihat dari nama anak Terupung br Bangun dengan Pa Pelita, anak pertama diberi nama Aman br Purba dan anak kedua diberi nama Demam br Purba. (Demam bahasa Karo artinya sudah tenang). Memang perkawinan politik agar ada perdamaian.
    4. “…di pesta perkawinan mereka, ditabuh gendang dan pihak pengantin perempuan dipaksa menari dengan cara menyembah ke pihak pengantin pria” Bagaimana mungkin bisa dikatakan demikian, karena perkawinan itu untuk perdamaian agar tidak ada lagi permusuhan diantara mereka.
    5. ” Tanda kalah perang, kata Pa Pelita.”
    Saat perkawinan ini terjadi, Kiras Bangun masih melakukan perang gerilya melawan Belanda. Karena Belanda tidak berhasil menangkap Kiras Bangun, maka mereka merubah taktik, dengan mengajaknya berdamai seperti penangkapan Pangeran Diponegoro dalam perang Jawa. Dalam hal ini Belanda menganjurkan Pa Pelita untuk mengawini putri Kiras Bangun, agar Kiras Bangun tidak memusuhinya lagi. ( bisa lihat buku “Sejarah Perjuangan Kiras Bangun Melawa Belanda, terbitan Yayasan Garamata 2006, hal 64 – 65 )
    6. Kutipan Saudara Juara R Ginting seolah-olah perkataan Pa Berontak, sangat disayangkan, Kami dalam keluarga tidak pernah mendengar cerita seperti yang disampaikan Saudara Juara R Ginting.
    7. “Di sana jugalah Koda Bangun belajar Komunisme.”
    Pernyataan ini sangat disayangkan, karena Koda Bangun mendapat penghargaan Perintis Pergerakan Kebangsaan / Kemerdekaan dari Pemerintah tahun 1967. Demikian juga Nembah Bangun kakek saya. Kalau seandainya Koda Bangun belajar Komunisme tidak mungkin dia bisa mendapat penghargaan Perintis Kemerdekaan dari Pemerintah yang pada saat tersebut sedang hebat2 nya menghancurkan PKI, apalagi G30S PKI baru terjadi.
    Demikian tanggapan dari saya, untuk menjadi perhatian.

Leave a Reply