Cerpen: KARTINI MEMBELA DIRI

0
244

Oleh: Ita Apulina Tarigan (Surabaya)

 

Ita Apulina TariganSebenarnya, Kartini itu lahir di Karo, tepatnya di Dataran Tinggi. Tidak usah saya sebutkan nama kampungnya biar generasi muda kelak bersemangat mencari tahu. Tanggalnya 21 April seperti yang kita peringati di hari ini. Kelahirannya biasa saja, seperti perempuan-perempuan Karo lainnya dan juga dididik seperti perempuan Karo biasa lainnya.

Waktu itu, sebagai seorang anak perempuan dari keluarga berkecukupan, Kartini lumayan berpendidikan. Bisa menulis dan membaca. Sedikit bisa melukis dan kegemarannya membuat bilang-bilang (puisi Karo, red.). Dia memang perasa, sebuah kata yang ia tangkap dari percakapan sehari-hari mendadak bisa menjadi perenungannya berhari-hari.

Sore itu, sewaktu dia melipati kain jemuran, tiba-tiba dia mendengar suara beberapa perempuan cekikikan, sembari berbisik-bisik. Kalian tahu, kan, kalau sudah dalam suasana begitu pasti omongan mereka hot, sehot infotainment. Biasanya Kartini tidak peduli, tetapi kupingnya menjadi awas karena gossip teruh karang itu menyebut-nyebut namanya dan nama ayahnya.

Kartini tercenung. Teringat seharian wajah ibunya murung dan tidak banyak bicara. Bibi, turang ayahnya juga hanya diam saja, sesekali berkata: pandai-pandailah membawa diri di kampung orang.

Udara sore terasa padat, berat menindih dada. Perasaan Kartini sungguh tidak enak. Pasti ada sesuatu yang akan terjadi.

“Sesuatu yang tidak menyenangkan,” pikirnya.

Gelap menyergap desa Kartini yang berlindung di balik punggung Sinabung. Malam pekat tidak mampu membuatnya tidur. Bayang-bayang bergoyang karena lampu minyak berkedip-kedip membuatnya seolah menatap panggung pertunjukan. Benar saja, tepat tengah malam terdengar suara rebut-ribut di bawah ture. Suara kaki kuda berderap seiring dengusan hewan tunggangan itu. Langkah-langkah kaki terdengar di dalam rumah. Ayahnya memanggil Ibu dan Bibi. Berbicara cepat, tergesa-gesa.

Bibi tiba-tiba menuju tempat tidurnya dan menyuruh Kartini mengemasi baju dan kainnya ke dalam kepuk.

“Besok pagi-pagi sekali mereka akan menjemputmu,” kata Bibi.

“Siapa?” Tanya Kartini menggantung di udara, tanpa jawaban.

“ Ikut apa kata ayahmu,” jawab Bibi bergegas.

Kartini menurut. Lagipula siapa yang berani menentang ayahnya. Orang sekampungpun biasanya diam kalau sudah dihardiknya. Walaupun mereka kecewa atau sakit hati, biasanya hanya menggerutu di belakang punggung ayah, pikir Kartini.

Matahari belum terbit. Serombongan pria berkuda berdiri di depan rumahnya.

“Mereka dari Kabanjahe,” kata Bibi.

Kepuk Kartini mereka taruh di atas kereta lembu. Seorang diantaranya menyuruh Kartini turun dari rumah. Ibunya menangis meraung-raung di pelukan Bibi, ayahnya entah dimana. Kartini turun, lelaki itu langsung menarik tangannya dan mengikat dengan tali. Ikatan di tangan Kartini dikaitkan ke kereta lembu dan rombongan mulai berjalan. Lolongan ibunya semakin menyayat hati. Semakin lama semakin hilang, Kartini menapaki jalan berdebu dengan tangan terikat. Airmatanya berleleran, seperti mayat hidup dia menatap kosong.

Esoknya tengah hari mereka sampai di tempat tujuan. Kuta yang besar, rumah besar-besar, perempuan berpakaian bagus, perhiasan mereka juga besar-besar. Mereka berbisik-bisik sambil menatap Kartini yang lusuh dan dekil. Mereka menertawai, menghina, sama sekali tidak ada simpati. Satu kata tertangkap oleh Kartini, perempuan lusuh ini akan dikawini oleh Raja. Dan mereka terbahak-bahak.

Rasanya ingin bunuh diri, Kartini ingin mati saja. Teringat buku-buku yang dia tinggalkan di rumah, teringat teman-teman belajarnya, teringat Ibu, teringat Bibi dan segumpal dendam pada ayah. Ayah kalah berjudi dengan raja Kuta ini, sampai Kartinipun dipertaruhkannya. Dia penebus hutang Ayah. Besok dia akan dinikahkan dengan raja tua yang sudah beristri delapan, raja tua yang setiap malam mulutnya bau tuak dan jorok. Ayahnya sudah menghinakannya ke jurang gelap yang paling dalam.

Rasanya manusia memang harus membela dirinya sendiri.

Mempertahankan haknya dengan keringat sendiri. Saudara dekat, ayah bundapun terkadang tiada dapat menolong. Mereka hanya dapat melihat, merasa kasihan lalu mengucapkan penghiburan. Pengertian ini didapatkan Kartini sejak pesta pernikahannya digelar dengan si raja tua dua hari lalu.

Terngiang-ngiang terus di kepalanya. Takdir sudah tertulis di tangan, jalan waktu sudah ditetapkan Si Mada Tinuang tak seorangpun dapat lari, pikirnya.

Kartini benar-benar membela dirinya. Malam itu di peraduan dia menikam tepat di perut si raja tua dengan tumbuk lada yang dicurinya dari tempat penyimpanan senjata raja. Tidak kurang 9 tikaman dia tusukkan darah dimana-mana. Seluruh tubuh Kartini terciprat darah raja. Dia berhenti, ketika si raja tua meregang nyawa.

(Surabaya, 21 April 2015)


Leave a Reply