Kartini: Antara Feminisme dan Ambiguitas Keyakinan

0
240

Oleh: Deddy Sukanta Ginting

 

Kartini 3
Sumber: http://blog.imanbrotoseno.com/?p=2991

Deddy Sukanta GintingBerbicara tentang Kartini, kita akan diingatkan kepada perjuangan seorang wanita dalam upayanya mengangkat derajad kaumnya tanpa pedang, tanpa kekerasan. Meski demikian, kebanyakan dari kita hanya mengenal Kartini sepintas saja, bahwa ia adalah pahlawan yang berjasa membawa perubahan besar terhadap bangsa. Kita tidak pernah diajar dan diajak untuk mengenal Kartini lebih jauh dan mendalam.

Ada berapa banyak kira-kira orang Indonesia yang sudah membaca buku kumpulan surat-suratnya yang terkenal itu? Tentu, dengan membaca tulisannya, kita akan mendapat perspektif lebih luas akan dimensi pikiran lain dari seorang Kartini, terlebih mengenai apa yang melatarbelakangi ide-idenya yang revolusioner tentang persamaan gender. Sehingga Hari Kartini tidak hanya menjadi kegiatan seremonial belaka, namun menjadi momen pengungkapan kesadaran bangsa ini akan apa yang sebenarnya Kartini perjuangkan.

Selain dari kumpulan suratnya yang kemudian diterbitkan dalam sebuah buku berjudul Door Duisternis Tot Licht atau dalam bahasa Indonesianya yang dikenal selama ini sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang, biografi Kartini juga dapat kita baca lewat tulisan Pramoedya Ananta Toer berjudul Panggil Aku Kartini Saja, yang merupakan hasil kolaborasi penelitian bertahun-tahun Pram bersama Van Deventer, RM Singgih Soesalit dan kawan-kawan.

Saya mendapati banyak pelajaran penting yang tertuang dari pemikiran Kartini, terutama menyangkut persoalan keyakinannya kepada sosok Maha Kuasa (Tuhan) yang pastinya menjadi landasan utama akan gagasan-gagasannya tentang kesamaan hak dan kesetaraan manusia dalam buku tersebut.

Pada titik inilah saya seakan bertemu teman sejalan, meski tetap ada beberapa perbedaan kecil yang kemudian menginspirasi saya membuat tulisan ini. Saya sendiri tidak yakin, apakah sebagian besar dari kita masih akan mengelu-elukan Kartini sebagai pahlawan setelah membongkar pemikirannya yang paling mendalam tentang keyakinannya itu. Tetap bagi saya Kartini adalah seorang pencari kebenaran spiritual yang melampaui zamannya, yang sinarnya bahkan menembus zaman ini.

Tidak seperti yang awam ketahui, dalam buku Pram tersebut kita akan tahu bahwa Kartini ternyata tidak antipati dan tidak memberi simpati yang berlebihan terhadap agama apapun juga.

Ulasan pandangan Kartini akan Ketuhanan dalam buku tersebut saya petikkan sebagai berikut:

Kartini 4“Tambah jauh dengan surat-suratnya, tambah banyak Kartini bicara tentang Tuhan, dan tambah jauh ia meninggalkan bentuk-bentuk keibadahan atau agama. Ia adalah seorang yang religius, tanpa berpegang pada bentuk-bentuk keibadahan atau Syariat. Jadi ia termasuk dalam golongan javanis jawa (kejawen?), atau golongan kebatinan, dimana Tuhan dipahami sebagai sumber hidup, yang mengikat semua orang denganNya, tak perduli apapun agama yang dianut, bahkan juga bagi si atheis sekalipun, sebagaimana jelasnya dinyatakan dalam buku Edna Lyall We Two (surat 23 Agustus 1900, kepada Estelle Zeehandelaar). Kartini dapat menerima agama apapun, dan ia tidak dapat menerima pemutarbalikan atas agama apapun.”

Jadi, ringkasnya, apapun kekurangan Kartini dalam agama yang dianutnya, ia tiada pernah mencederai agamanya dan agama orang lain, sebagaimana ia pun tiada pernah mencederai rakyatnya.

RM Notosuroto menyatakan soal sinkritisme agama bermakna ganda Kartini ini demikian: “Perasaan keagamaan ini nampak pada keteguhan imannya, dalam mana ia terdidik, tetapi suatu keteguhan yang berbareng dengan pengertian yang lembut dimana sekaligus diberikan tempat yang luas bagi kebajikan agama-agama lain.”

Jelas Kartini adalah seorang humanis, namun tidak sepenuhnya mampu melepaskan dirinya dari ikatan agama. Dia memundak dua sistem ideologi beriringan, sehingga pernyataan-pernyataannya kadang terkesan ambigu. Namun, itu jauh lebih baik daripada orang-orang yang mengaku ideologinya adalah pemberian langsung dari langit, tapi justru menganggap manusia lain tidak lebih sebagai musuh dan mahluk kutukan.

Inti dari perjuangan dan pesan-pesan Kartini adalah mengajak kita untuk memuliakan sesama manusia. Selamat Hari Kartini.


Leave a Reply