Kisah Bersambung: Ginting Manik Mergana (3)

0
241

MERUBAH JALAN HIDUP

kisber 5
Peragawan (Padri Ginting, kiri) dan Peragawati (Karmila Kaban, kanan) dari Sanggar Seni Sirulo.

 

[one_fourth]Oleh: Bastanta P. Sembiring (Urung Senembah)[/one_fourth]

Malam itu Perangin-angin mergana menginap di rumah Ginting Manik. Untuk pertama kalinya dia bermalam di Kuta Namo Kelawas. Baginya, terasa sama saja seperti sedang di Medan.

 

Rasa sepi yang telah lama melingkupi hati Perangin-angin mergana semenjak ditinggal mati sang ibu 5 tahun lalu. Membuat dirinya selalu merasa sendiri.

Maklum, dia anak tunggal dari ibunya yang adalah istri ke tiga dari ayahnya, seorang saudagar kaya di Karo Bingé. Dari ketujuh istri lain, ayahnya masih memiliki banyak anak. Jadi, sangat wajar jika saat pulang ke rumah ayahnya timbul perasaan berbeda dan asing di benaknya, apalagi ibunya bukan dari Suku Karo. Oleh sebab itu, 2 bulan setelah pemakaman sang ibu, Perangin-angin memutuskan hidup sendiri di Medan.

Kena kai, impal, melungun iakapndu i kutata é?” tanya Ginting Manik menghampiri Perangin-angin yang tampak murung di teras rumah.

Sebuah rumah panggung dengan atapnya bergaya artitektur khas Karo. Namun bukan rumah adat. 

Saat itu, di Kuta Namo Kelawas, penduduknya tinggal di rumah-rumah pribadi. Hanya tingal beberapa keluarga saja yang mendiami rumah adat. Sebagian besar sudah Lansia. Berbeda dengan kebanyakan kuta Karo lainnya: apalagi kuta-kuta di Karo Gugung, dimana sebagian besar penduduk masih tinggal di rumah Siwaluh Jabu (Rumah Adat Karo). 

Labo, impal,” jawab Peranginangin.

“Seri saja ngé kuakap ras i Medan oh,” sambungnya.

Adi kutata é ola kam heran, impal. Sora kirik ngé ngenca man beginken adi enggo berngi bagé,” kata Ginting Manik, sedikit memberi gambaran tentang kampungnya.

Tampak sosok gadis berparas cantik berjalan semakin mendekat ke rumah Ginting Manik Mergana. Dengan perlahan menaiki anak tangga.

Enggo kéna man ndai é, Tua?” tanyanya.

Édenga kel,” jabab Ginting Manik.

Uga makana melaun naring kam mulih?” Ginting Manik balik bertanya.

Jawabnya: “Édenga kel dungna. Ngaluni Karo ndai aku.

Beru Ginting Manik pun masuk ke dalam rumah.

Perangin-angin curi-curi pandang kepada beru Ginting Manik. Namun, seperti ada rasa sungkan dan takut di raut wajahnya. Dia tidak memiliki keberanian walau hanya untuk menantapnya.

* * * * 

Keesokan harinya.

Uga, impal. Mé enggo banci kita berkat é?” tanya Ginting Manik kepada Peranginangin, setelah selesai sarapan pagi itu. 

Saat mereka hendak berangkat, seseorang datang memberi kabar kalau Bapa Pengulu Karo-karo Sitepu Mergana tiba-tiba pingsan. Ginting Manik mergana menyuruh adiknya si beru Ginting Manik menemani Perangin-angin berkeliling menemui beberapa tengkulak, petani, ataupun pergula (pembuat gula merah). Dia sendiri akan melihat keadaan Bapa Pengulu.

kisber 4Inilah kesempatan pertama bagi Perangin-angin dapat dekat dengan beru Ginting, bahkan jalan bersama. Sebagai seorang lajang, tentunya memiliki rasa ketertarikan terhadap sosok perempuan yang berparas cantik, ramah, dan cerdas ini. Apalagi Perangin-angin masuk dalam kategori pria tampan di zamannya. Sungguh elok dipandang jika seorang pria tampan berjalan dengan seorang perempuan cantik. 

Sebenarnya, Peranginangin menaruh hati kepada beru Ginting Manik. Saat bersama, keceriaan gadis muda itu sekilas menghapus rasa sepi yang telah bertahun-tahun mendiami relung hatinya. Namun, rasa sungkan antara mereka masih menjadi benteng yang kuat membendung rasa cinta itu terungkap.

Akan tetapi, di masyarakat luas beredar kabar tak sedap. Banyak mempergunjingkan beru Ginting yang berjalan dengan seorang lelaki dari kota. 

Ikh! Isé ka ngé dilaki sigandeng beru Ginting oh, naké? Ém kap adi mejilé, mis lako. Pagi sambar ka!

Demikian nada-nada tak sedap berhembus kencang di masyarakat Kuta Namo Kelawas yang kemudian sampai di telinga Ginting Manik Mergana dan keluarga besar Karo-karo Sitepu Mergana. 

* * * *

2 Pekan setelah itu. Seperti biasa, Perangin-angin kembali ke Kuta Namo Kelawas mengumpul barang-barang dari para tengkulak. 

O, Ngat!” kata seorang pria tua kepadanya.

Sambung pria tua itu: “La kin ietehko adi beru Ginting oh seh kel ngenana até kerina isi jabu Penguluta?

Kai kin, Pa?” tanya Perangin-angin.

Kai, nim! Nggo kap mbar beritana i kuta é adi singenan ka engko ras beru Ginting oh. Megati idah jelma sinterem é kéna dua-dua erdalin.

Uga maka bagé nindu, Pa?” tanya Pernginangin.

Nemani aku ku rumah Pa Salam saja ngé kap beru Ginting oh sangandai. Selebihna labo kenakai pé kami duana,” Peranginangin menjelaskan kalau antara dia dan beru Ginting tidak terjadi apa-apa.

Bagém ia berita-berita si rembus i tengah-tengah Kuta Namo Kelawas é, ngat. Jadi, adi ningku ola nari iusur-usurmu adi kin atém ku kuta énda denga.”

Ikh. Aku labo denga kuangka kel kai maksudndu é, Pa,” jawab Perangin-angin datar.

Tapi, adi bagéna kel nindu, isélah kita si la raté ngena nandangi beru Ginting oh. Tapi, ola kam mbiar. Kutandai ngé isé aku. Selain naruhken ku rumah Pa Salam,  labo lit kai pé kami duana,” kata Peranginangin kembali mengulang, menjelaskan kalau antara dia dan beru Ginting Manik benar tidak terjadi apa-apa.

Adi bagékin nim merandal,” kata pria tua itu menyambung kata-katanya: “Aku maka bagé kucakapken man bam, gelah iangkam, atéku ndai.” 

Percakapan itu tidak lebih dari seperti sebuah interograsi antara jaksa dan terdakwa di pengadilan. Namun, Peranginangin hanya menganggap itu sebuah hal yang wajar, mengingat beru Ginting yang merupakan kembang desa, tentunya banyak gesekan-gesekan yang akan timbul jika berhubungan dengannya.

Sore itu, saat hendak pulang, Perangin-angin pun seperti biasa singgah sebentar ke kediaman Ginting Manik Mergana menyampaikan titipan dari Amir. Namun, seperti biasa juga Ginting Manik belum di rumah dan hanya beru Ginting yang didapatinya di rumah.

Saat itu terjadi percakapan antara Perangin-angin dengan beru Ginting Manik di depan rumah. Beru Ginting berdiri di atas teras rumahnya, sedangkan Perangin-angin hanya di halaman depan. Hanya sebentar. Peranginangin bergegas pulang, takut kemalaman di jalan. Belakangan ini banyak terjadi perompakan di jalan, khususnya terhadap angkutan barang. Ditambah lagi adanya perlawanan laskar pejuang Sumatera Timur terhadap pemerintah kolonial saat itu, membuat situasi semakin rawan.  

Meski singkat dan sekejap, percakapan Peranginangin dengna beru Ginting di depan rumah itu cepat tersebar luas. Dibumbui banyak versi pula. Tiba-tiba saja, isue kedekatan antara Peranginangin dengan beru Ginting menjadi topik utama bahan cikurak para pernandén di kuta.

* * * *

Kisber 6
Dicoyp dari: http://karosiadi.blogspot.nl/2015/04/taneh-karo-di-tahun-1894-oleh-joachim.html

Desember 1932

Atas undangan Amir yang sebenarnya sedikit memaksa, akhirnya Ginting Manik berkunjung ke Medan. Sebelumnya, Ginting Manik tidak suka berpergian, apalagi karena adanya keempat adik yang menjadi tanggungjawabnya semenjak kedua orangtuanya meninggal, ditambah masa lalu ayahnya yang adalah keturunan salah satu kaum sibiak (bukan Sibayak; utama, bangsawan) salah satu daerah di Karo Gugung yang hingga saat itu masih dipertikaikan, membuat dia menutupi identitas aslinya.

Sebenarnya, Ginting Manik mergana merupakan keturunan bangsawan (sibiak) dari merga Ginting Sinusinga di Karo Gugung yang dikudeta oleh sembuyak dari Nini Bulangnya.

Saat masih kecil, Nini Bulang dari Ginting Manik (kakeknya-red) meninggal dunia. Meninggalkan jabatan pengulu yang sedianya dijabat secara turun-temurun. Namun, karena ayah Ginting Manik saat itu masih kecil, jabatan kepengulun dipangku oleh sembuyak dari ayahnya. Dia kemudian melegitimasi dirinya sebagai pengulu yang tetap. Dia berencana menghilangkan nyawa ayah dari Ginting Manik mergana dan beru Sembiring Kembaren.

Menghindari konflik saat itu, Ginting Manik yang masih kecil dilarikan anak beruna: Karo-karo Sekali dan Sembiring Meliala mergana ke Karo Jahé dan dititipkan di jabu Karo-karo Sitepu. Atas alasan keselamatan dan karena tidak menginginkan kembali jabatan kepengulun di Karo Gugung, dia pun mengganti identitasnya dengan Ginting Manik untuk menghilangkan jejak. Sebab itu Ginting Manik merasa sangat berhutang budi kepada Karo-karo Sitepu mergana.

Keberadaan Ginting Manik di Medan saat itu tidak hanya untuk memenuhi undangan dari Amir. Di waktu yang hampir bersamaan, beru Kembaren yang adalah impalnya akan menikah. Dipersunting oleh seorang jaksa Belanda. 

 Saat di Medan, Amir mempertemukan Ginting Manik dengan beberapa bangsawan Melayu dan Karo, serta kaum Eropa di Medan. Franz Mauritz Romanôf, seorang pecinta kopi dan tembakau asal Rumania yang telah berkeliling Jawa dan Sumatera, berkat pertemuanya dengan Ginting Manik yang diatur oleh Amir menghasilkan kesepakatan membuka kedai dagang di Karo Jahé. Amir berharap Ginting Manik dapat belajar banyak dari Romanôf.

Amir terus mendorong Ginting Manik untuk lebih terbuka dan banyak belajar dari bangsa Eropa dan mengajaknya mengikuti beberapa organisasi pejuang bawah tanah. Dia tidak ingin sahabatnya berakhir di kuta, apalagi diketahuinya beru Sembiring Kembaren yang akan menikah dengan seorang Belanda sebenarnya saling mencintai dengan Ginting Manik. Untuk itu, Amir memaksa agar Ginting Manik lebih sering ke Medan dan bertemu dengan banyak orang. 

Pertemuan-pertemuan Ginting Manik dengan banyak orang, juga dengan kalangan Eropa membuatnya cepat dikenal di Medan. Sifatnya yang ramah, rendah hati, jujur dan suka menolong kemudian mengundang ketertarikan dari seorang guru Belanda dan menawarkannya untuk tinggal dengannya. 

Saat  sedang di Medan, Ginting Manik sering menginap di rumah keluarga Belanda ini. Beliau seorang guru bahasa yang juga menaruh ketertarikan terhadap dunia botani dan antropologi. Kecerdasan yang dimiliki oleh Ginting Manik ditambah beliau cepat belajar bahasa Inggris dan Belanda semakin membuat keluarga Belanda ini tertarik dan menjadikanya anak angkat. Tidak jarang  tiap ada liburan, keluarga Belanda ini juga mengunjungi kediaman Ginting Manik di Namo Kelawas.

Namun, hubungan ini tampaknya harus berakhir. Tahun 1935 tuan Arbertjan meninggal dunia. Keluarga Belanda ini memutuskan kembali ke negerinya. Ginting Manik pun ditawarkan ikut ke Belanda bersama keempat adiknya. Namun, Nini Ginting ibu dari Karo-karo Sitepu mergana bersikeras menolak, dengan alasan keluarga Belanda ini akan ingkar janji dan mengabaikan mereka.

Dua bulan setelah kematian tuan Albert, keluarga Belanda ini pun pulang ke negerinya. Amir, Ginting Manik dan keempat adiknya, serta beberapa sahabat lainnya turut menghantarkan mereka ke Pelabuhan Belawan. Tidak dapat digambarkan betapa sedihnya Ginting Manik untuk kedua kalinya kehilangan sosok ayah sekaligus keluarga Belanda yang sudah seperti keluarganya sendiri. 

1936, militer dan Pemerintah Kolonial melakukan penggeledahan ke beberapa kuta di Karo Jahé. Beberapa pucuk senjata diamankan beserta beberapa pria yang dicurigai sebagai simbisa (laskar pejuang). Mendengar berita ini, Amir bergerak cepat membuat surat jalan dalam rangka urusan dagang ke Singapura.

Setelah dokumen-dokumen yang diperlukan selesai dia bersama sahabatnya Ginting Manikpun berlayar ke Singapura. Nantinya, ketika menerima surat dari Perangin-angin yang berisi situasi sudah kembali aman, Amir dan Ginting Manik pun kembali ke Sumatera Timur

Sebelumnya di Sumatera Timur, 1869, Deli-Maschapij, perusahaan eksploitasi terbesar dalam sejarah perkebunan masa kolonial, resmi berdiri bersamaan tahunnya dengan pembukaan Terusan Suez. Ini artinya, Karo Jahé telah digenggam oleh kalangan Barat. Satu tahun kemudian (1870) kontrolir De Haan melakukan ekspedisinya ke Karo Gugung (Dataran Tinggi Karo) yang dua tahun kemudian diikuti Pemberontakan Sunggal (Perang Sunggal, 1872) yang dipimpin langsung oleh keluarga Urung Serbanaman (Sunggal) Karo-karo Surbakti mergana. 1873 Residentie Oostkust van Sumatera (Pesisir Timur) berdiri bersamaan dengan awal Perang Aceh dan awal kekuasaan Sultan Makmun Alrasyid Perkasa Alamsyah sebagai Sultan Deli. 1907, Belanda mengklaim mereka telah selesai menaklukkan semua Tanah Karo ditandai dengan takluknya wilayah Karo Gugung yang merupakan wilayah Karo terakhir yang ditaklukkan. Ini tandanya fase penaklukan telah berakhir dan berlanjut ke fase eksploitasi.

Tahun 1909, jalan raya penghubung Karo Gugung dengan daerah sekitar mulai di bangun dan baru selesai sekitar 1913. Hal ini membuat hubungan antara Jahé dan Gugung semakin mudah dan lancar. Demikian juga mobilitas para Simbisa dari Gugung ke Jahé dan sebaliknya, yang membuat Belanda pada dasarnya tidak pernah benar-benar aman di tanah-tanah ulayat Karo, walau mereka mengklaim sejak 1907 telah menguasai seluruh Karo. 

Keterlibatan Ginting Manik dengan beberapa pergerakan Simbisa dan dagang perlahan mengubah jalan hidupnya. Tetapi Ginting Manik tetaplah Ginting Manik yang selama ini dikenal. Sosok ramah dan baik hati, jujur, serta suka menolong tetap melekat kuat dalam dirinya.

BERSAMBUNG


Leave a Reply