Kisah Bersambung: Ginting Manik Mergana (4)

0
312
kisber 7
Cuplikan dari penampilan teater rakyat SIRULO di Lubuk Pakam

 

 

Rasa Kehilangan Yang Terus Melanda


[one_fourth]Oleh: Bastanta P. Sembiring (Urung Senembah)[/one_fourth]

Tahun 1936. Situasi di Oostkust (Pesisir Timur) kembali membaik setelah sebelumnya terjadi krisis besar yang dimulai sejak 1930. Pemerintah mengklaim telah mengendalikan situasi dan memberantas beberapa pergerakan Simbisa. Ini merupakan masa yang relatif tenang bagi banyak pihak.

Januari 1937. Pukul 01.45 dini hari. Amir belum juga pulang ke rumahnya. Tampak Hamidah beru Peranginangin istrinya kasak-kusuk tidak tenang. Dia mondar-mandir di dalam rumah. Sesekali memberanikan diri keluar dan menoleh ke jalan. Lalu, kembali masuk ke dalam rumah.

Dia mendengar suara dari ruang tamu.

“Mengapa kamu belum tidur juga, Hamidah?” tanya ibunya yang tampak memaksakan diri untuk bangkit dari tidur lelapnya. 

“Bang Amir, Mak,” kata Hamidah tampak gelisah.

“Kenapa dengan si Amir?”

“Bang Amir belum juga pulang, Mak,” jawab Hamidah lagi.

“Mungkin dia sedang bersama Si Perangin-angin dan Si Ginting.”

“Tidak, Mak. Tidak biasanya begini. Kalau ada acara atau kesibukan di kantor dia pasti titip kabar ke rumah,” jawab Hamidah.

Lagi kata Hamidah: “Ini.. ini dia tidak kasi kabar apapun. Hamidah takut, Mak.”

“Hus! Kamu jangan berfikiran yang tidak baik,” cetus Ibunya.

Hamidah dan ibunya pun memutuskan menunggu Amir. Rasa kantuk sepertinya telah sirna berganti was-was. Firasat Hamidah tidak baik. Seperti ada gejolak dalam dirinya yang terus mengganggu.

Sekitar Pukul 04.00 terdengar suara gaduh di depan rumah kediaman keluarga Amir. Seperti suara truk beserta kuli-kulinya yang sedang melakukan aktifitas bongkar muat barang. 

Hamidah pun mencari tahu apa yang terjadi dari balik tirai jendela kaca. Oh, setelah melemparkan sebuah benda dalam karung hitam, truk dan orang-orang itu bergegas pergi.

Seperti ada yang mendorong Hamidah ingin lebih tahu apa sebenarnya isi karung itu. Diapun memberanikan diri keluar dan mendekati karung yang baru saja dilemparkan.

Tiba-tiba warga sekitar terbangun oleh teriakan seorang wanita dan berhamburan ke luar.

 

*****

Setelah pemakaman Amir, beredar kabar kalau kejadian ini dilakukan oleh perompak untuk membeayai persenjataan Simbisa. Akan tetapi, jika ini perampokan, mengapa hanya Amir dan mengapa perhiasan yang dikenakan oleh Amir saat itu masih utuh? Tampaknya isue ini sengaja dihembuskan oleh pihak yang ingin mengadu domba sesama laskar pejuang. 

Amir diculik saat hendak kembali ke rumahnya pada malam kejadiaan itu. Tubuhnya penuh luka sayatan, tikaman, dan memar akibat pukulan benda tumpul. Wajahnya hampir tidak dikenali lagi.

Sungguh perlakuan yang sangat keji. Manusia biasa tidak akan sanggup melakukannya walau kepada orang yang sangat dibenci sekalipun. Bahkan untuk hewan sekalipun.

Tidak dapat terbayangkan bagaimana rasa sakit kala itu dialami Amir. Menerima setiap pukulan, tikaman, dan sayatan yang sangat sadis. Sebagai seorang sahabat, Ginting Manik sangat terluka hatinya atas kejadian yang menimpa sahabat baiknya sejak kecil.

Dalam sebuah pertemuan rahasia, para kordinator pergerakan pejuang, Ginting Manik meminta waktu untuk khusus dapat berbicara di hadapan para perwakilan. 

Ginting Manik menerangkan secara ditail; baik posisi, kegiatan dan waktu, serta orang-orang yang bersama mereka saat bersama dengan Amir sebelum kejadian. Ini dilakukan untuk meredakan rasa saling curiga yang tampaknya mulai tumbuh antar kelompok pejuang.

tanjung barus 1Tidak lupa, Ginting Manik menghimbau agar komunikasi antar kelompok dilakukan semakin intens, mengingat pergerakan Pemerintah dan Militer yang semakin agresif untuk memberantas kelompok-kelompok pejuang dengan banyak tipu daya dan politik pecah belah. 

Namun, tetap menjadi tanda tanya besar, mengapa harus Amir?

Ginting Manik mencoba menjelaskan. Pertama, Amir adalah salah satu pengusaha pribumi yang cukup sukses saat itu dan memiliki hubungan dekat, baik oleh karena kekeluargaan, dagang, atau organisasi, dengan beberapa pimpinan pergerakan di Sumatera Timur.

Ke dua, beberapa bulan lalu, dalam sebuah operasi, Veld Politie (Polisi Lapangan) berhasil menangkap beberapa Simbisa. Dua orang diantaranya diketahui bekerja di kongsi dagang yang dipimpin Amir. 

Dan ke tiga, Amir dan teman-temannya di kongsi dagang Poetra Karo – Deli sudah lama dicurigai turut membiyaai dan memasok persenjataan kepada para Simbisa, yang diselundupkan melalui perdagangan dengan pihak Penang. 

Alasan-alasan ini kemudian yang menguatkan dugaan kalau pembunuhan Amir didalangi oleh pihak pemerintah. Sedikit demi sedikit menggugurkan rasa saling curiga antara sesama laskar.

 

* * * *

 

Sore itu, kemberahen dari Kalimbubu Sembiring Kembaren mergana berkunjung  ke kediaman Ginting Manik mergana.

Ngerana min kam sitik man impalndu, Beberé. Lanai kueteh nari uga.” 

Kai kin ndai é, Mami?” Ginting Manik bertanya apa maksud kedatangan Maminya.

Enggo kap telu Minggu dekahna impalndu beru Kembaren mulih ku rumah. Adi kusungkun, la kap nggit ia nurikensa kai si’nggo terjadi.”

Me labo lit perubatenna ibegindu, maka impal oh mulih ku rumah, Mami?” tanya Ginting Manik.

É kap lanaibo kuangka, Beberé.”

Lagi katanya: “Tiap kuorati kerna si é, la nggit ia njababsa. Kéla pé kubegi beritana enggo mulih ku negerina. Maka lanai kuangka uga kin é.”

Adi labo rubat ia, banci saja kap lit dahin Senina oh maka mulih ia ku Belanda, Mami. Ola ka min mis ndauhsa siukuri.

Adi kuakap, labo bagé, Beberé.

Sambungnya: “Enggom ménda kuakap sirang aténa. Sabab, arah berita si kubegi, maka lanaibo até Kéla oh ndai mulihi ku jénda.”

Berita kesirangen beru Sembiring Kembaren dengan suami Belandanya sangat mengganggu perasaan Ginting Manik. 

Rasa cintanya yang masih kuat kepada beru Kembaren, membuat hatinya pilu jika wanita yang diacintai kehidupannya tidak berjalan dengan baik. Rasa cinta dan penyesalan turut berbaur bergejolak di hati Ginting Manik.

 * * * *

Sekitar delapan bulan setelah pertemuan dengan kemberahen Sembiring Kembaren Mergana, Ginting Manik diundang oleh Nini Ginting dan Nini Karo ke kediaman Karo-karo Sitepu.

Uga nge sekali énda, Permain?” tanya Nini Karo kepada Ginting Manik.

Lagi katanya: “Adi beru Kembaren ndai enggo setahun aténa sirang ras perbulangena.”

Ginting Manik tampak hanya terdiam saja. 

Uga, lang é saja siulihi?” tanya Nini Karo lagi kepada Ginting Manik.

Kembali Ginting Manik hanya diam membisu.

Adi kuaakap, impal, siulihi ka ranan é ku beru Kembaren ndai. Labo lit salahna,” kata Sitepu mergana turut dalam percakapan itu. 

Lagi kata Sitepu: “Adi nai banci kerna kitik denga impal oh kerina. Énda enggom mbelin kerina. Kuakap énggo mé banci ukurindu ka mulihi, impal.” 

Umur é ngenca kari reh tuana, ngat,” kata Nini Ginting menyambung kata Sitepu. Lanjutnya dengan bertanya: “Kai nari kin man timanken? Timai kita peduakaliken rintak kalak beru Kembaren oh?” 

Sejujurnya, di dalam hati Ginting Manik yang paling dalam, masih tersimpan rasa cinta kepada beru Kembaren. Namun, dia tidak memiliki cukup daya untuk mengutarakan rasa itu. Ini dapat dibaca oleh orang-orang terdekatnya, sehingga mereka berusaha untuk mendekatkan kembali Ginting Manik dengan beru Kembaren.

Kuakap bagénda saja,” sela Karo-karo Sitepu mergana.

Katanya lagi: “Labo kuakap lit salahna dahindu turangku kami ndai. Adi uga kin kari keputusenna, é arih-arih kéna duanalah. Kai gia ningen, é ukur kénalah. Adi kin iakapndu cocok denga, ngata kam Kalimbubu. Labo énda ngajari kam, tapi bagi nina Iting ndai, lanaibo kuakap man timanken terdekahen. Umur énda ngé ngenca kari reh tuana. Pelau-laun piah peduakaliken kari pulah ka beru Kembaren oh, Kalimbubu.”

Mereka pun memberi waktu kepada Ginting Manik untuk memikirkannya kembali, sebelum pertemuan yang telah diatur oleh Nini Ginting dengan keluarga Kembaren mergana tiba waktunya.

 

BERSAMBUNG

 

Sebelumnya: 

– Bagian 3: Merubah Jalan Hidup

– Bagian 2: Mencari Jawaban

– Bagian 1: Awal dari Segalanya

 

Leave a Reply