Kesehatan Jiwa: Gangguan Stres Pasca Trauma

1
323

Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ (psikiater)

Kepala SMF Psikiatri RS Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor

 

 

lahargo 1
Sebuah adegan penampilan Teater Rakyat SIRULO yang disutradarai oleh Juara R. Ginting

Lahargo KembarenBencana alam, perang, dan berbagai peristiwa menakutkan lainnya saat ini sedang terjadi di berbagai belahan dunia. Berbagai peristiwa menakutkan yang mengancam tersebut akan meninggalkan ‘bekas menyakitkan’ dalam hidup seseorang yang mengalaminya. Selain masalah fisik yang dialami, trauma psikologis juga tidak jarang menyebabkan suatu masalah dalam kehidupan.

Trauma secara sederhana dapat diartikan sebagai luka yang sangat menyakitkan. Pengalaman traumatis, secara psikologik berarti pengalaman mental yang mengancam kehidupan dan melampaui ambang kemampuan rata-rata orang untuk menanggungnya.

Peristiwa tersebut dapat dialami sendiri atau menyaksikan (terlibat langsung) dalam peristiwa. Pengalaman traumatis mengakibatkan perubahan yang drastis dalam kehidupan seseorang yang dapat mengubah persepsi seseorang terhadap kehidupannya. Pengalaman traumatis dapat mengubah perilaku dan kehidupan emosi seseorang.

Termasuk dalam peristiwa traumatis adalah sebagai berikut:

– Bencana alam (gempa bumi, gunung meletus, banjir, tsunami, kebakaran, dll)

– Kekerasan dalam rumah tangga / sekolah (bullying)

– Penyiksaan

– Pemerkosaan

– Kecelakaan yang mengerikan

– Peristiwa peristiwa yang mengancam kelangsungan hidup

Sekitar 10 – 20% korban bencana akan mengalami gangguan mental bermakna, seperti; Gangguan Stres Pasca Trauma, Depresi, Gangguan Panik, dan berbagai gangguan Anxietas terkait trauma. Mereka ini membutuhkan pertolongan ahli kesehatan jiwa.

Gejala-gejala gangguan stres pasca trauma antara lain adalah:

  1. Re-experiencing (seperti mengalami kembali)
  2. Avoidance (penghindaran)
  3. Hyper-arousal (keterjagaan)

Re-experiencing :

  • Terbayang bayang selalu akan pengalaman traumatisnya
  • Terganggu mimpi buruk akan pengalaman traumatisnya
  • Seperti mengalami kembali peristiwa traumatisnya (flash back)
  • Merasakan ketegangan psikologis yang terus menerus bila terapar kejadian yang mengingatkan akan pengalaman traumatisnya.
Marojilijn 1
Sebuah lukisan mengenai “energi” dalam kejiwaan budaya Karo, karya Marjolijn Groustra (ilustrator Sora Sirulo)

Avoidance :

  • Senantiasa berusaha untuk menghindari hal hal yang mengingatkannya pada pengalaman traumatisnya
  • Amnesia psikogenik
  • Hilang minat terhadap berbagai aktivitas
  • Perilaku menarik diri
  • Afek/kehidupan emosi menumpul
  • Takut memikirkan masa depan

Hyper-arousal :

  • Gangguan tidur
  • Mudah marah dan tersinggung
  • Sulit berkonsentrasi
  • Gampang kaget
  • Kewaspadaan berlebihan

Gejala-gejala tambahan lainnya adalah :

  • Rasa berdosa dan menyalahkan diri
  • Depresi, anxietas, marah, berduka
  • Perilaku impulsif (compulsive shopping, eating, changes in sexual behavior)
  • Keluhan somatik kronis (sakit kepala, gangguan lambung)
  • Perilaku destruktif/menyakiti terhadap diri sendiri
  • Perubahan kepribadian

Apabila ditemukan gejala-gejala seperti di atas, sebaiknya segera dibawa ke profesional kesehatan jiwa untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Bila dibiarkan terlalu lama maka gangguan stres pasca trauma ini dapat mengganggu lebih jauh aktivitas dan fungsi individu yang mengalaminya.

Salam sehat jiwa!


1 COMMENT

  1. Pengalaman erupsi Sinabung bisa meninggalkan kesan sangat traumatis bagi sebagian anak-anak. Tetapi pemeliharaan kesehatan jiwa bagi Indonesia dan disini bagi orang Karo khususnya sangat jarang terdengar. Siapa yang pernah memikirkan bagaimana kesan trauma bagi anak-anak yang rumah dan kampungnya sudah lenyap tertutup abu vulkanik atau terbakar, tak bisa pulang dan hidup di pengungsian sudah setahun dan tak ada ujungnya? Bagi orang dewasa mungkin lebih ringan.
    MUG

Leave a Reply